Teror? Kami Tidak Takut

Penulis : * | Fri, 1 April 2016 - 11:05 | Dilihat : 1612
tahun-baru-anggota-densus-baku.jpg

Tragedi yang terjadi di tengah kepadatan lalu lalang masyarakat Ibukota di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat beberapa pekan silam sempat membuat tersontak, bukan hanya Indonesia bahkan dunia. Masyarakat Indonesia khususnya warga Ibukota seakan tidak percaya bahwa ada orang yang senekat itu melakukan aksi teror di pusat keramaian tepat di jantung Ibukota. Aksi  teror dilakukan hanya berjarak sekitar 2 Kilometer dari Istana Negara. Aksi teror yang menurut keterangan Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian dilakukan oleh kelompok Bahrun Naim yang merupakan bagian dari jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia itu dimulai dari gerai kopi berlabel internasional. Tak lama berselang terdengar ledakan di pos polisi yang berada di perempatan Jalan MH. Thamrin, bunyi yangdiikuti dengan kepulan asap itu sontak menarik perhatian warga yang sedang beraktifitas di seputaran Jalan MH. Thamrin. Entah karena rasa ingin tahu atau karena memang ingin mengabadikan momen yang terjadi, warga berduyun-duyun yang kemudian berkumpul di dekat pos polisi yang sudah porak-poranda dengan pemandangan beberapa korban. Perlu diketahui daerah tempat dimana bom itu meledak belum sepenuhnya dinyatakan aman bagi umum. Sementara pihak Kepolisian yang ada di lokasi kejadian berusaha untuk menangani situasi, tiba-tiba dari arah belakang kerumunan massa yang berkumpul di depan pos polisi tadi terdengar desingan peluru dan mengenai satu orang warga sipil. Tembak-menembak antara aparat kepolisian dan pelaku teror pun terjadi.

Sebuah rilis yang dilansir kantor berita Aamaaq, sebuah situs yang berafiliasi dengan ISIS, kelompok pimpinan Abu Bakr al- Baghdadi mengklaim melakukan serangan di Jakarta dengan target sasaran warga negara asing dan petugas keamanan. Bahkan pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, sebelumnya juga sudah memberikan sinyal akan adanya aksi terorisme di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Siapa pun pelakunya, apa pun motifnya, aparat harus terus mengejar dan membabat habis jaringannya. Teroris yang melakukan aksi di Sarinah, Jakarta Pusat itu mempunyai pesan yang dapat dimengerti dengan jelas. Teroris tersebut berusaha memaksakan pemahaman ideologi mereka ke Indonesia. Para teroris itu juga tidak ingin melihat bangsa ini aman dan stabil, mereka selalu berupaya mencari celah untuk mengoyak ketenangan masyarakat Indonesia. semua komponen bangsa ini harus kompak menyatakan tekad #kami tidak takut melawan terorisme. Tentu, tekad ”kami tidak takut” jangan berhenti pada hashtag di dunia maya. Masyarakat juga perlu mewujudkannya dalam aksi nyata di lapangan. Selama ini terorisme masih mempunyai ruang gerak karena masyarakat relatif masih permisif atas kehadiran mereka. 
Aparat keamanan dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN) sebenarnya tidak ‘kebobolan’, hal itu dapat dilihat dari penangkapan teroris di beberapa kota di Indonesia yang diduga akan melakukan teror pada penghujung tahun 2015. Banyak kelompok-kelompok intoleran di Tanah Air yang dengan terang-terangan mengaku mengagumi perjuangan ISIS, bahkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah memberikan keterangan bahwa ada kelompok-kelompok yang memang mendukung perjuangan ISIS di Iraq dan Suriah. Hal ini merupakan peringatan akan ancaman bahaya terorisme di Indonesia, terlebih mereka yang pernah perang bersama kelompok militan di Suriah dan Iraq sudah kembali ke Indonesia. Jadi tidak menutup kemungkinan para veteran perang tersebut membentuk kelompok-kelompok yang berafiliasi ke ISIS. Membasmi teroris bukan saja dibebankan kepada aparat negara semata, namun juga diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat secara luas serta peran aktif berbagai elemen yang ada di tengah masyarakat untuk bersatu padu melawan teroris. Dengan adanya sinergi antara pemerintah dan masyarakat termasuk elemen-elemen yang ada di dalam masyarakat, maka gerak-gerik dari teroris akan semakin sempit bahkan bisa tertutup. Masyarakat oleh pemerintah seperti yang sudah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan banyaknya informasi yang simpang-siur serta jangan takut dan kalah dengan teroris.
Teror sesuai dengan Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teror bukan hanya terkait dengan sepak terjang kelompok ISIS ataupun Al Qaeda, namun sebuah teror bisa diartikan sebagai bentuk ancaman baik secara fisik maupun verbal yang coba dilancarkan seseorang ataupun kelompok tertentu. Peran pemimpin agama dalam hal ini sangatlah penting guna menciptakan kedamaian di tengah umat, seperti yang diutarakan Sekretaris Umum Persekutan Gereja-gereja di Indonesia, Pendeta Gomar Gultom, bahwa tokoh-tokoh agama ditantang untuk memberikan ketenangan dan rasa aman di tengah umat. Pemimpin agama harus dapat memberikan rasa damai bukan memancing supaya melakukan tindakan teror. Pemimpin agama juga diharapkan dapat melakukan deradikalisasi kepada mereka yang memang sudah terjangkiti ‘virus’ radikal agar dapat terselamatkan.  Banyak pengamat yang berpendapat bahwa tindakan ekstrimis dimulai dari tindakan-tindakan fanatisme yang berlebihan sehingga cenderung melakukan tindakan radikalisme yang akhirnya berujung pada pemahaman yang salah terhadap ajaran agama. Agama sering kali menjadi pembenaran atas kekerasan ataupun teror yang dilakukan, padahal tidak ada satu agama pun setuju pada tindakan-tindakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal. Pemahaman yang salah terhadap suatu ajaran yang mengakibatkan fanatisme ‘buta’ akan menghasilkan pemahaman radikal yang secara tidak langsung dapat melakukan teror terhadap sesama. 

*Nick Irwan

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top