Tuhan Kok Beristirahat?

Pak Pengasuh yang terhormat.

Dalam hukum Taurat ke-4 dikatakan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi serta segala isinya—termasuk manusia, dalam enam hari. Sedangkan pada hari ke-7, Dia istirahat.  Nah, pertanyaan saya singkat saja: Tuhan kok beristirahat?

Dame, Lampung

Dame yang dikasihi Allah, pertanyaan kamu di atas,  jawabannya tentu “tidak”. Allah tidak pernah beristirahat. Dalam 10 hukum dikatakan, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan Allahmu; maka janganlah melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan IA berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya (Keluaran 20: 8-11).  

Mari kita telusuri secara cermat apa yang dimaksud ayat ini.

  1. Tentulah kita melihat dulu peristiwa penciptaan itu sendiri. Allah telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya, artinya segala apa yang direncanakan Allah untuk diciptakan, sudah terbentuk semua dalam enam hari. Nah hari ketujuh Allah berhenti, bukanlah dalam arti istirahat, melainkan sudah menyelesaikan. Sabat disebut sebagai hari “perhentian” (band. Kel 31:15, 35:2, Im 16:31), artinya, sekali lagi, sudah menyelesaikan. Istirahat, itu bisa berarti sudah menyelesaikan sebagian dan akan meneruskan lagi, tetapi dalam penciptaan bukan itu yang terjadi. Yang terjadi adalah penciptaan dari yang tidak ada, yang sekarang ada, sudah selesai, dan tidak ada episode berikutnya. Jadi TUHAN Allah tidak istirahat, kok.
  2. Allah sudah ada sebelum bumi ada, sebelum waktu ada (hari pertama hingga ketujuh), DIA ada melampaui ruang dan waktu, mendahului segala ciptaan. Inilah kebenaran tentang keberadaan Allah. Jadi sungguh sangat tidak masuk akal jika sampai Allah membutuhkan istirahat sebagai pemahaman manusia pada umumnya (istriahat kerja karena letih, dan lain sebagainya). “Jangan lupa konsep istirahat berlaku bagi manusia yang ada di dalam ruang dan waktu, sementara Allah melintasi ruang dan waktu”. Jadi Dame yang dikasihi Allah, jelaslah bahwa Allah pasti tidak membutuhkan istirahat hanya karena lelah telah menciptakan bumi dan isinya.
  3. Yang juga perlu diingat dengan baik adalah bahwa, hari perhentian itu sendiri adalah hari ciptaan Allah yang diberkati dan dikuduskan-Nya sebagai hari perhentian (Kej 2:3). Artinya hari ketujuh Allah juga mencipta, bukan istirahat, yaitu menciptakan hari perhentian. Itu sebab, Allah sangat menuntut keras agar umat menaati tuntutannya atas penggunaan hari perhentian.
  4. Lalu bagi umat Allah, apa maknanya hari perhentian ini? Hari perhentian dibutuhkan umat sebagai hari beristirahat dari segala aktivitas kerja mereka. Berhenti untuk mensyukuri segala apa yang mereka peroleh seminggu sebelumnya dan memohon pimpinan Allah untuk waktu, seminggu berikutnya. Indah sekali bukan, sehingga manusia bukan robot yang bekerja tanpa bisa menikmati hasil kerjanya. Manusia adalah manusia yang bisa menikmati hasil karyanya, dan mampu menyadari pertolongan Allah di dalamnya, khususnya dalam ibadah di hari perhentiaan itu.
  5. Keseriusan Allah akan hari perhentian ini dengan tegas dinyatakan kepada umat Israel dalam Keluaran 31:12-18, dengan tekanan khusus yang disampaikan lewat Musa bahwa hari perhentian agar menjadi hari peringatan bagi Israel bahwa TUHAN Allah-lah yang telah membebaskan mereka. Di sana ditekankan bahwa Allah sendiri berhenti pada hari ketujuh dan beristirahat, apalagi umat. Nah, ini harus dipahami hati-hati. Ingat, ini adalah tekanan bagi umat Israel akan pentingnya makna hari perhentian, dan Allah telah menciptakan hari itu secara khusus. Jadi bukan Allah yang membutuhkan hari istirahat itu, melainkan umat Allah. Bukan Allah yang beristirahat karena DIA melintasi waktu, tetapi umat-Nya, agar selalu mengingat pemeliharaan-Nya.
  6. Hari perhentian ini dalam kalender Yahudi, adalah hari Sabat, yang berorientasi pada pemahaman teologis, yaitu kepada penciptaan. Hari Sabat adalah hari Sabtu. Mengapa umat kristiani sekarang ini merayakan hari Minggu (Ahad), itu karena pemahaman teologis pada kebangkitan Kristus yang telah diajarkan sejak gereja mula-mula, yaitu gereja di era para rasul. Penjelasan selengkapnya ada pada REFORMATA  edisi lalu.

 

Baiklah, Dame yang dikasihi Allah, pertanyaan kamu yang singkat telah dijawab dengan panjang lebar, tentu saja dengan harapan agar Dame mendapat pemahaman yang komprehensip. Demikian juga pembaca REFORMATA lainnya. Selamat menikmati, semoga menjadi berkat dan tetap menjadi pembaca setia REFORMATA.q    

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *