Manajemen

Mengelola Uang-Selesaikan Hutang!

Penulis : Harry Puspito | Tue, 20 September 2022 - 17:17 | Dilihat : 235

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga,... Roma 13:8b

Berhutang sudah menjadi bagian dari praktek pengelolaan keuangan jaman modern ini. Kebanyakan orang memiliki hutang melalui penggunaan kartu kredit, ‘pay later,’ kredit bank, kredit kepemilikan rumah, dsb. Ini berarti banyak orang mengeluarkan uang untuk gaya hidupnya melebihi dari yang mereka dapat bayar dengan uang dari kerja atau usaha mereka.

Banyak yang berhutang bukan untuk memenuhi kebutuhan tapi untuk menaikkan gaya hidup mereka. Misalnya, daripada naik kendaraan umum, banyak orang yang menggunakan kredit untuk membeli transport motor atau mobil. Orang pindah dari rumah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih prestis dengan menggunakan kredit kepemilikian rumah atau apartemen. Banyak orang berani belanja barang-barang elektronik tanpa perencanaan matang, mengandalkan kartu kredit mereka.

Sebenarnya kita menurunkan standar hidup setiap kali kita membeli sesuatu dengan kredit daripada membayar penuh sebab kita harus membayar dengan bunga kredit. Kecuali kita mendapatkan fasilitas pembayaran cicilan tanpa bunga, atau mampu membayar semua tagihan kartu kredit dalam 1 bulan. Sementara kartu kredit atau KTA (Kredit Tanpa Agunan) menuntut biaya bunga yang tinggi.

Oleh karena itu bagian penting dalam pengelolaan uang berhubungan dengan hutang. Dan tidak heran Firman Tuhan mengajarkan kita agar tidak berhutang. Banyak alasan mengapa Alkitab memperingatkan agar kita tidak berhutang, tidak saja terhadap kehidupan kita tapi terlebih pada kerohanian kita.

Berhutang berkaitan dengan ‘keserakahan’ sebab dengan berhutang kita memuaskan nafsu memiliki kita dengan membeli apa yang kita mau sekarang daripada menunggu atau bekerja untuk mendapatkannya. Berhutang menunjukkan sikap impulsif dan membuat kita tidak mengembangkan sifat disiplin dan pengendalian diri. Berhutang membuat kita tidak menunggu jawaban doa dan tidak beriman akan Allah yang memenuhi kebutuhan kita. Berhutang menunjukkan kita tidak sabar. Berhutang mengasumsikan kita tahu masa depan, bahwa kita akan bisa terus bekerja dan mendapatkan dana untuk membayar – yang menunjukkan sikap tidak rendah hati, sementara kita tidak mengetahui masa depan kita sendiri (Lihat Yak 4:13-16).

Ketika kita berhutang, maka kita menjadi terikat – terikat dengan pemberi hutang dan terikat untuk membayar hutang kita itu. Kita dalam situasi ‘perbudakan keuangan’ tidak dalam ‘kebebasan keuangan (financial freedom).’ Seringkali pemilik dana menuntut bunga yang tinggi, sehingga kegagalan membayar hutang akan menjadikan hutang semakin membesar dengan cepat. Beban hutang akan mengendalikan hidup orang yang berhutang. Hutang tidak saja memberikan beban finansial kepada mereka yang berhutang, tapi juga beban non finansial, terutama emosional. Beban hutang mempengaruhi hubungan mereka yang berhutang dengan penghutang, bahkan dengan orang-orang lain. Beban hutang menambah beban emosi, relasi dan menambah stress.

Sehingga tidak heran Amsal 22:7b mengatakan: “…yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Budak harus bekerja setiap hari tidak peduli apa yang terjadi, karena pemilik budak menghendakinya. Orang yang berhutang digambarkan seperti itu. Dia harus bekerja lewat jam kerja, pada hari libur, ketika anak sakit, ada keluarga yang meninggal, di gereja ada acara – terus saja bekerja.

Mengapa Allah peduli agar kita tidak terjerat hutang? Karena hutang dapat menyebabkan orang ‘melayani uang’ dan menghalangi kita melayani Allah (Matius 6:24). Ketika kita membebani keuangan kita dengan pembelian, misalnya mobil yang mahal, kita tidak bermaksud mengutamakan mobil kita daripada Allah. Namun kita bisa terjebak ‘melayani uang’ dan bisa terpaksa bekerja di pekerjaan yang tidak sehat demi uang, untuk membayar hutang itu.

Ketika kita berhutang maka ini mencegah kita memberi kepada gereja dan kepada orang miskin dengan murah hati, karena kita terjebak dalam kewajiban membayar hutang-hutang kita itu. Konsekuensi hutang menyebabkan kita dipaksa melayani uang di atas Allah. Jika ingin mengalami ‘financial freedom’ – kebebasan dalam keuangan, satu kiat penting adalah menghindari hutang. Karena itu selesaikan hutang dan stop berhutang.

Sudah barang tentu untuk kebutuhan yang sangat besar, seperti mobil dan rumah, kemungkinan kita tidak bisa menghindarkan penggunaan kredit. Mungkin sebelumnya kita juga memiliki kebiasaan berhutang. Mari kita menyelesaikan hutang-hutang kita dan berhenti berhutang. Dalam perencanaan keuangan kita, prioritaskan untuk membereskan hutang-hutang kita.

Untuk membereskan hutang, jalan satu-satunya adalah mendisiplinkan diri agar membelanjakan lebih kecil daripada yang kita dapatkan dan menggunakan selisih itu untuk membayar hutang itu hingga lunas. Kita juga bisa menjual barang-barang yang kita perlukan untuk membayar hutang itu. Kita perlu terus hidup dengan pengendalian diri dalam keuangan kita agar kita mengalami ‘kebebasan finansial’ itu.

Agar tidak berhutang, maka kita perlu mengendalikan kebiasaan-kebiasaan belanja kita sehingga kita hidup dengan kemampuan kita. Bedakan kebutuhan dengan keinginan-keinginan yang tidak terbatas. Banyak yang kita pikir kebutuhan-kebutuhan tapi bisa jadi itu sebenarnya adalah kemewahan, jika dikaitkan dengan daya beli kita. Ingat berhutang itu ‘mudah’ tapi membayar hutang itu sangat sulit. Karena itu sebaiknya kita mulai dengan tidak berhutang.

Tuhan Yesus memberkati.

Lihat juga

Komentar


Group

Top