Natal Membawa Ketakutan

Tema SUP kali ini unik, berbeda dari tema Natal pada umumnya. Di bulan Natal setiap tahunnya, tema mengenai kasih dan damai yang selalu digaungkan. Bumbunya adalah pernak-pernik seperti pohon Natal lengkap dengan berbagai hiasan. Toppingnya dongeng Natal seperti sinterklas yang dengan kereta ajaibnya akan mengunjungi anak-anak yang baik pada saat mereka tidur lelap di malam Natal. Di bawah pohon Natal kado dari sinterklas diletakkan. Demikian semangat Natal di zaman now yang identik dengan sukacita dan gegap gempita. Kalau tidak beli pakaian baru dan barang baru lainnya seolah kurang mantap. Diskon belanja akhir tahun membuat orang berbelanja lebih dari biasanya dan jauh melebihi kebutuhan sebenarnya. Namun sesungguhnya, peristiwa Natal pertama amatlah sederhana. Tidak ada pesta pora di hari raya itu. Bahkan berita Natal pertama diterima dengan ketakutan, alih-alih sukacita. Kok bisa? Ya, demikianlah kenyataannya berdasarkan catatan peristiwa.

Saat malaikat menjumpai para gembala di dinginnya kegelapan malam di padang, mereka sangat ketakutan. Maklum, para gembala diliputi sinar kemuliaan Tuhan (Luk. 2:9). Para gembala sadar mereka adalah kelompok yang dipandang rendah dalam berbagai hal, baik intelektual, status sosial, finansial, moral, juga spiritual. Mereka tentu merasa tidak layak saat makhluk sorgawi menemui mereka. Jangankan para gembala, para nabi pun takut menghadapi Allah maupun malaikat. Musa menutup mukanya karena takut memandang Allah (Kel. 3:6). Yesaya menduga dirinya akan celaka dan binasa karena melihat kemuliaan Allah (Yes. 6:5). Karena itulah Tuhan maupun malaikat segera menyatakan: Jangan takut! Yesus yang telah bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya juga berujar sama: “Jangan takut!” (Mat. 28:10)

Maria dan Yusuf juga diliputi ketakutan saat ditemui malaikat untuk diberi tugas pelayanan yang mulia. Maria akan mengandung sebelum menikah dengan Yusuf, sedangkan Yusuf diperintahkan oleh malaikat untuk menikahi Maria yang sudah mengandung sebelum menikah dengannya. Karena itu malaikat berkata, “Jangan takut …” (Mat. 1:20; Luk. 1:30). Maria dan Yusuf taat kepada tawaran pelayanan yang berat dan berpotensi merusak citra diri bahkan hukuman rajam sangat mungkin akan dialami. Walau awalnya takut, namun mereka tetap taat.

Herodes begitu terkejut saat mendapat kabar dari orang Majus dan imam kepala serta ahli-ahli Taurat bahwa ada raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Jika kita membaca dengan teliti Matius 2 secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa penguasa Yerusalem ketakutan atas peristiwa Natal. Ia takut takhtanya hilang dengan lahirnya raja orang Yahudi, padahal Sang Raja itu masih bayi dan tidak mungkin melakukan kudeta, kecuali kalau sudah dewasa. Perintah Herodes untuk membunuh semua anak-anak dan bayi usia dua tahun ke bawah menunjukkan dia ketakutan kehilangan jabatan.

Simeon menerima penyataan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Saat ia melihat bayi Yesus, ia berkata bahwa Yesus ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan (Luk. 2:34). Yesus memang menimbulkan banyak perbantahan sejak kelahiran, yang nantinya juga menimbulkan perbantahan baik soal makna penyaliban, kematian, kebangkitan, kenaikan ke sorga dan kedatangan-Nya yang kedua kali kelak. Banyak yang menerima-Nya, namun tidak sedikit pula yang menolak-Nya. Selama Yesus hidup di dunia, banyak orang ketakutan, terutama para penguasa politik dan agama yang takut kehilangan pengaruh, pengikut dan takhta mereka. Padahal sudah jelas dan banyak tanda yang diberikan terkait nubuatan Sang Mesias sejak zaman Perjanjian Lama.

Ketakutan dalam pengertian takjub dan hormat kepada Tuhan itu sudah sepantasnya, namun ketakutan terhadap hal lain selain kepada Tuhan (ekonomi, kesehatan, jabatan, keamanan, masa depan, dll) seyogianya tidak menguasai kita, walau sebenarnya rasa takut itu sangat manusiawi. Karena itu biarlah ketakutan itu dibawa, dihisap dan dilenyapkan oleh damai dan sukacita Natal.

Semoga racikan SUP spesial Natal ini menolong kita untuk semakin mengerti, menghayati dan menikmati esensi Natal yang sesungguhnya. Silakan dibagikan kepada kaum keluarga dan handai tolan sekalian, agar melalui SUP spesial Natal ini kiranya semakin banyak orang disegarkan dan dikuatkan karena SUP ini mengandung sari pati yang menyehatkan dan meneguhkan iman. Selamat Natal bagi kita semua yang merayakan.

Recommended For You

About the Author: Pdt Gelen Marpaung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *