Pemimpin: Jadilah Kuat Dan Berani

Penulis : Raymond Lukas | Wed, 11 March 2015 - 14:30 | Dilihat : 1256
kuat-dan-berani.jpg

Menjadi pemimpin masa kini di Indonesia memerlukan keahlian baru. Anis Baswedan, Menteri Pendidikan pernah menulis bahwa Indonesia  membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas. Artinya pemimpin yang berani perangi “jual-beli” kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang mau bertindak tegas atas kepentingan rakyat “dijarah” oleh mereka yang punya akses. Republik ini butuh pemimpin yang bernyali dan menggerakkan dalam menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai. Bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin yang bisa jadi bersahabat tampilannya, sopan dan simpel tuturnya, tapi amat besar nyalinya, dan amat tegas sikapnya. Tidak selalu nyaring, tapi selalu bernyali karena nyali itu memang beda dengan nyaring.

Republik ini perlu pemimpin yang bisa mengajak semua untuk mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawanstatus quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.


Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan dalam keseharian itu semua bisa menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas, kekakuan, pembicaraan masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.

1) Dengan tulisan diatas, masih maukah Anda menjadi pemimpin? Masih beranikah dan masih semangatkah?  Kalau kita melihat firman Tuhan yang disampaikan dalam Joshua 1: 9, maka kita akan melihat bahwa menjadi  “kuat dan berani” termasuk menjadi pemimpin yang “kuat dan berani” adalah perintah Tuhan  bukan pilihan kita. Dalam ayat tsb dikatakan sbb: “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimanakah caranya saya menjadi “kuat dan berani” termasuk dalam memimpin. Cara untuk menjadi “kuat dan berani”, yaitu:

1. Lupakan kegagalan, rasa sakit ataupun kesuksesan masa lalu. Mengapa? Karena jangan sampai semua hal tersebut yang sudah terjadi dimasa lalu, menghambat Anda untuk bergerak maju. Anda tidak mungkin mengembalikan apa yang sduah terjadi atau berharap hal itu tidak terjadi. Karena pada kenyataannya, hal tersebut sudah terjadi. Anda terpuruk dan kecewa, atau Anda merasa terlalu bangga dengan sebuah keberhasilan sehingga tidak mau melakukan hal-hal lain yang lebih baik. Jadi, janganlah tersandera dengan semuanya itu. Lupakanlah, dan teruslah bergerak maju.

2. Miliki tujuan-tujuan dalam hidup Anda. Tujuan-tujuan Anda akan membawa Anda lebih dekat kepada tujuan utama Anda didalam kehidupan Anda. Lakukanlah yang terbaik setiap hari untuk meraih tujuan-tujuan yang Anda rancang sesuai dengan kehendk Tuhan bagi Anda. Dalam Filipi 3 ayat 13 – 14 dikatakan sebagai berikut,  (13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.


Note:
1) Buku “Menjadi Indonesia”: Surat dari dan untuk Pemimpin” yang diterbitkan oleh TEMPO Institute

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top