ORANG KRISTEN MEDIOKRITAS

Penulis : Pdt Robert R Siahaan | Tue, 17 March 2015 - 11:47 | Dilihat : 2176
mediokritas.jpg

Istilah mediokritas atau mediocre berasal dari dua kata, yaitu medio dan ocris. Istilah medio berarti keadaan ditengah atau menengah, sedangkan ocris digambarkan sebagai puncak tertinggi sebuah gunung. Mediokritas (mediocre/mediocrity) menggambarkan suatu kualitas atau keadaan menengah atau bermakna setengah, sehingga mediocre juga diartikan berada di tengah jalan menuju puncak atau belum mencapai puncak. Istilah mediocre secara umum digunakan untuk menggambarkan berbagai situasi atau kualitas dari sebuah pemerintahan, karya seni, karya arsiteksur, kualitas perusahaana atau kualitas sebuah novel, buku, dll. Istilah mediocre menunjukkan bahwa kualitas karya seni atau novel tersebut hanya biasa saja, hanya kualitas menengah dan bukan kualitas paling tinggi. Mediocre juga dipakai untuk menunjukkan kualitas kepribadian atau ketrampilan, kualitas karakter atau kualitas kerohaian seseorang.

Hal inilah yang penulis maksudkan dengan istilah “orang Kristen mediokritas,” untuk mengajak pembaca melihat dan memahami bahwa sebetulnya banyak orang Kristen yang hanya puas dengan kualitas kerohanian yang biasa-biasa saja dan jarang sekali yang mencapai kualitas terbaik sebagaimana dikehendaki Allah. Hal seperti inilah yang digambarkan Alkitab dalam kitab Wahyu 3:14-16: “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Teguran dan peringatan Allah kepada jemaat di Laodikia sangat serius karena Allah melihat suatu keadaan yang sangat memprihatinkan  dan sangat menyedihkan berkaitan dengan kualitas iman dan kerohanian mereka. Intinya adalah kelumpuhan rohani yang disebabkan oleh perasaan puas pada kemapanan dan kenyamanan hidup, sementara Allah melihat mereka sebagai orang miskin dan buta dan telanjang. Allah memerintahkan agar mereka bertobat dan memperbarui hidup mereka sesuai dengan standar kualitas kerohanian yang Allah kehendaki.

Jemaat Laodika adalah gambaran dari orang Kristen yang tidak menghidupi iman kekristenannya dengan sungguh-sungguh, dan hanya suam-suam kuku. Mengapa kualitas hidup orang Kristen pada umumnya tampak seperti tidak berbeda dengan orang-orang non Kristen? Kita tidak memiliki catatan atau bukti otentik bahwa orang Kristen secara umum memiliki tingkat kerohanian dan tingkat kehidupan moral yang lebih baik dari orang-orang non Kristen dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Malah banyak catatan dan laporan di media massa yang mengungkapkan bahwa pelaku-pelaku kriminalitas juga adalah orang-orang Kristen, dan tidak sedikit pemimpin rohani yang terlibat pelanggaran moral dan hukum. Mengapa banyak orang Kristen gagal mengalami pertumbuhan dan gagal menjalankan kerohanian yang otentik dalam kehidupannya? Mengapa banyak gereja yang telah melayani berpuluh-puluh tahun dan dengan ribuan anggota jemaatnya namun gagal mengalami pertumbuhan iman yang sejati? Mengapa demikian? Kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah spirit mediocre yang bercokol dalam diri kebanyakan orang Kristen. Menjadi orang Kristen mediocre adalah menjadi orang Kristen kelas dua, dengan kualitas biasa-biasa saja dan bukan orang Kristen yang terbaik. Mereka menghidupi kekristen asal-asalan saja, sekalipun bukan yang terburuk, namun orang-orang mediocre tidak pernah menjadi yang terbaik. Mereka lebih suka dalam kenyamanan pribadi dan tidak siap membayar harga untuk menjadi yang terbaik, sehingga tidak pernah betul-betul menjadi orang Kristen sejati. 

Level Mediokriotas

Kebanyakan orang memang sedang berada di level mediokritas, karena di level inilah orang sering menikmati zona nyaman, tanpa harus serius menjalani iman Kristen, dalam bergereja atau melayani. Orang Kristen di level mediocre akan berkata “kalau ke gereja ngga usah terlalu serius, kalau melayani Tuhan ngga usah ngotot,” dsb. Menjadi orang Kristen mediocre adalah menjadi  jemaat Gereja dan bangga menjadi orang yang telah diselamatkan oleh Kristus namun juga menjadi orang Kristen tanpa komitment pada kebenaran dan tanpa harus berkewajiban mentaati Firman Tuhan sepenuhnya. Sehingga kebanyakan orang yang hidup di level ini menginginkan suatu kehidupan yang agak bebas dan cenderung mengikuti gaya dan nilai hidup yang berlaku disekelilingnya. Sebagaimana digambarakan dalam perumpamaan tentang penabur (Matius 13:3-23), sebagian besar benih yang ditabur jatuh di tanah yang tidak baik, sebagian besar orang Kristen senang mendengar khotbah-khotbah dan renungan, namun dalam proses waktu yang singkat dan ketika menghadapi tantangan hidup yang umumnya dihadapi oleh semua manusia, Firman itu kemudian terhimpit dan hilang lenyap. Sehingga pada akhirnya hidup yang dijalaninya adalah suatu kehidupan yang seringkali tidak disertai dengan ketaatan penuh pada Allah, sehingga sering jarang jatuh dalam dosa, tidak sedikit yang mengalami kehancuran. Kehidupan yang tampak dalam keseharian orang Kristen mediocre itu adalah kehidupan yang mungkin kelihatan sangat baik, namun belum yang terbaik. Kadang tidak telihat bahwa mereka sesungguhnya lebih banyak digerakkan oleh situasi atau kondisi hidup daripada serius berkomitmen pada Allah. Sejatinya hidup orang Kristen digerakkan oleh nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan sehingga ia dapat menjadi berkat dan sunguh-sungguh menjadi terang dan garam di dalam dunia ini. Sehingga dapat memberikan perbedaan yang otentik yang jelas terlihat dari perilaku hidupnya di dalam keluarga, dalam cara bekerja, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

 

Menjadi Orang Kristen Sejati

Di dalam bukunya “From Good to Great,” Jim Collins menjelaskan bahwa musuh dari kualitas yang hebat adalah kualitas yang baik. Merasa cukup dan puas pada kualitas baik akan menghalangi seseorang untuk berusaha menjadi yang terbaik. Di dalam Alkitab banyak tokoh-tokoh yang gagal menjadi yang terbaik karena mereka juga terjebak dalam spirit mediocre. Misalnya Simson yang cenderung mempermainkan talenta dan kepintarannya sehinnga tidak maksimal melayani bangsanya dan mengalami kegagalam di akhir hidupnya. Saul yang cenderung melindungi diri dan iri pada keberhasilan Daud, dan ia cenderung mencari aman untuk diri sendiri daripada secara serius mentaati Tuhan (1Sam 15:11). Demikian juga rasul Petrus yang pernah mengalami kegagalan untuk berkomitmen penuh pada Kristus, sehingga ia menyangkal Yesus tiga kali (Lukas 22:55-62). Setelah pertobatannya, Petrus dalam penyertaan dan pimpinan Roh Kudus menjadi pemimpin dan Gembala umat Tuhan di gereja mula-mula. Ia keluar dari dari level mediokritas menuju level yang terbaik. Kehidupan dan kualitas yang sangat berbeda dalam diri rasul Petrus terlihat dalam surat-suratnya, bagaiamana ia menegaskan bawha umat Allah hrus hidup kudus dan berpengharapan dalam Kristus. Ada banyak contoh pribadi di Alkitab yang bukan kualitas medioktritas namun mereka adalah orang-orang Kristen yang berhasil menjadi yang terbaik dan hidup sebagai orang Kristen yang luar biasa. Mereka adalah Abraham, Musa, Yusuf, Daniel, Nehemia, Paulus, dll. Apa yang membedakan mereka dengan orang Kristen mediokritas? Pribadi-pribadi di level excellent ini tentu  memiliki keterbatasan dan kelemahan sebagai manusia, namun mereka memiliki kualitas yang jarang dimiliki orang Kristen pada umumnya. Mereka hidup dalam visi dan misi Allah dan bukan memaksakan kehendak dan keiginan-keinginan pribadi dalam pelayanan. Mereka menyerahkan totalitas hidup mereka untuk melakukan kehendak Tuhan dan bagi umat Tuhan yang mereka layani. Mereka memiliki komitmen penuh untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan mereka mengandalkan iman yang teguh dalam melayani dan memuliakan Tuhan melalui semua yang mereka kerjakan.

Ciri utama mereka yang sangat menonjol dan sangat jarang ditemukan pada kualitas anak Tuhan pada umumnya adalah bahwa mereka semua rela berkorban dan mempertaruhkan nyawa mereka demi tercapainya tujuan Allah di dalam hidup mereka. Seperti yang diucapkan Ester: “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."  (Ester 4:16). Rasul Paulus berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” (Filipi 1:21-22). Bagi mereka tujuan Allah jauh lebih penting dari tujuan pribadi, misi Allah jauh lebih penting dari ambisi pribadi. Di level manakan kualitas iman dan kekristenan kita? Apakah saudara orang Kristen mediokritas dan telah puas hanya sekedar menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja? Orang Kristen mediokritas bukanlah yang terburuk, namun belum pernah menunjukkan yang terbaik dalam hidupnya. Tuhan memanggil kita menjadi yang terbaik di dalam hidup kita dan menjadi serupa dengan Dia: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh 2:6). Tuhan Yesus juga menuntut komitmen penuh kepada setiap kita: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk mempersembahkan totalitas hidup kita menjadi orang-orang Kristen yang terbaik.

Soli Deo Gloria.

(Penulis Melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru.

www.robertsiahaan.com).

 

 

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top