Khotbah Populer

Allah Tak Mau Disamakan Dengan Apa Pun

Tue, 3 March 2009 - 10:01 | Dilihat : 4313
Tags : Doktrin Allah

Terkait


 Pdt. Bigman Sirait

Sekarang kita akan  memikirkan topik: Allah adalah  Allah. Artinya, Allah adalah Allah yang ada pada diri-Nya. Allah ada bukan karena yang lain ada. Allah tidak bergantung pada apa pun juga. Yang lain ada karena Allah ada. Tetapi Allah ada bukan karena yang lain ada. Allah tidak bergantung kepada pengakuan kita sehingga Dia menjadi Allah. Allah ada bukan karena kita mengakui Dia sebagai Allah. Allah tidak berkurang hanya karena kita sangkal, dan tidak bertambah hanya karena kita mengakui-Nya. Allah tidak menjadi lebih hebat hanya karena kita percaya kepada Dia, karena Allah adalah Allah yang berdaulat, dan di dalam daulat-Nya, Dia me-nyatakan ketetapan-ketetapan-Nya. Jadi tidak akan ada yang bisa menggugat apa pun yang diker-jakan-Nya. Allah adalah Allah, karena dia menguasai semuanya. Segala yang ada, berada di bawah kendali dan kuasa-Nya.
Allah segala allah, Dia mengatasi segala sesuatu sehingga Dia tidak rela disamakan dengan apa pun. Kitab Keluaran 20 di mana ketetapan-ketetapan Tuhan dikatakan menyangkut hakekat Dia sebagai Allah, sangat kuat dan akurat. Kita tak boleh membuat apa pun yang menyerupai apa pun, dan menyembah dia dengan cara apa pun. Tuhan tidak mau disamakan dengan apa pun. Bila manusia melakukannya, itu penghinaan kepada Tuhan, karena menyembah yang bukan menghidupkan, tetapi menyem-bah kepada kematian. Manusia tidak melakukan apa yang Tuhan mau, tetapi melakukan apa yang mereka mau. Allah itu Allah yang mengatasi apa pun, bagaimana Dia mau disamakan dengan apa pun? Karena itu jangan terjebak membuat dosa, justru ketika sedang melakukan aktivitas keagamaan tetapi  sudah tidak bergantung lagi kepada Tuhan.
Laodokia  adalah gereja kaya, mewah, bisa bikin apa saja. Karena ekonomi sangat kuat, membuat mereka sangat yakin terhadap apa saja. Karenanya, dalam pelayanan, nyaris tidak ada lagi kebergantungan kepada Tuhan. Mereka menyebut nama Tuhan tetapi dalam kepongahan. Mereka sudah mendewakan, mengilahkan kemampuan eko-nomi, kemampuan memenej berbagai program. Dan Tuhan berkata: “Hei, Laodokia, kau tidak panas, tidak dingin, karena kau suam-suam kuku, aku muntahkan engkau”. Suam-suam kuku arti-nya, tidak bergantung pada Allah, tidak hidup memuji dan memuliakan Allah, hanya menye-but Allah tetapi sebetulnya mengilahkan kemampuan eko-nomi yang memang luar biasa, maka Tuhan marah.
Tuhan tidak marah kalau orang kaya, sebab itu berkat Tuhan juga. Tetapi Tuhan marah kalau kita hidup berkutat dan bergantung pada kekayaan itu. Karena itu sama saja melecehkan Tuhan, seolah Tuhan bukan lagi berkuasa untuk menolong. Padahal Dia adalah Tuhan yang bisa melakukan apa saja. Tidak ada yang bisa menahan-Nya, maka bagaimana Dia mau disamakan dengan ciptaan, entah itu roh di dunia, apalagi dengan diri kita. Dia adalah Allah segala allah karena Dia menguasai semua. Dia tidak rela jika ada selain dari Dia yang menjadi sesembahan manusia.
Ini sangat menarik kita pikirkan di tengah godaan jaman yang semakin menggila. Jaman modern yang mengukur segala sesuatu justru dengan hakekat yang bisa diukur dengan mata. Jaman modern yang selalu mengukur sesuatu dengan apa yang bisa ditangkap akal, membuat kita lupa, bahwa Dia adalah Allah yang melintasi ruang dan waktu. Allah yang bisa melakukan apa pun yang Dia mau, Allah segala allah, yang tidak layak disamakan dengan apa pun.

Tidak bisa dikurung
Ketika Paulus pergi ke Athena, dia berdebat dengan orang-orang di Aeropagus, tempat per-debatan. Di sana Paulus berteriak: “Aku melihat kalian berkata dan menulis kepada Allah yang tidak dikenal. Aku ingin beritakan tentang Dia kepada kalian, Dia bisa dikenal!” Paulus pula yang berkata: “Allah tidak tinggal di dalam kuil buatan tangan manusia, karena Dia Allah yang menguasai dan melintasi segalanya. Karena itu siapa yang bisa mengurung, menangkap, dan memasukkan Dia ke dalam pikirannya, lalu berkata “inilah Allah”, padahal itu pikirannya atau keyakinan agamanya? Mereka berkata “inilah Allah” karena memang ada keinginan untuk merebut atau bahkan mengkudeta Allah. Dan itulah agama.
Karena itu hati-hati, supaya jangan dalam kerangka beragama kita justru menjadi orang yang tidak bertuhan, saling caci-maki, dan saling menjatuhkan. Dalam kerangka beragama kita terjebak dalam perangkap yang salah. Biarlah Tuhan menjadi Tuhan yang hidup  dalam hidup kita, supaya kita sungguh-sungguh menjadi orang yang takut akan Dia, yang terus-menerus melakukan kehendak-Nya. Allah adalah Allah, biarlah kita hidup bergantung dan berharap kepada Dia, sepenuhnya menjadi pelayan-Nya. Bukankah itu sesuatu yang pantas bagi kita sebagai orang percaya? Bukankah mem-banggakan dan menyenangkan, bahwa Tuhan menyatakan kemuliaan sebagai Allah lewat kita?
Karena itu sudah pada tem-patnya, segala tindakan kita sejalan dengan kriteria yang ditetapkan Tuhan. Semua ada di Alkitab. Karena Dia Allah segala allah maka kita memiliki pengharapan yang kuat di dalam kehidupan. Dia menciptakan alam semesta dan memberikannya kepada manusia. Dia pula yang datang kepada kita, menolong, memimpin hidup kita. Itu kan luar biasa! Karena Dia Allah segala allah, mana mungkin Dia meninggalkan kita. Dialah Allah yang mengerti perasaan manusia ciptaan-Nya.
Ini anugerah yang sangat besar, cinta kasih yang sangat luar biasa bagi orang-orang percaya. Karena itu kita tidak boleh menghina diri dalam  berbagai ketakutan yang salah. Takut adalah normal, karena perasaan kemanusiaan. Takut bukan dosa, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana sikap kita mengisinya, memanfaatkannya. Allah segala allah menuntut kita untuk selalu percaya dan bergantung kepada Dia. Karena itu jangan lari, gentar, takut. Dia mengatasi apa pun yang ada di dalam dunia. Kalau allah-allah kecil, setan-setan itu, mengirim berbagai persoalan, jangan lupa, bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup, itu tidak pernah terjadi kalau tidak seijin Tuhan. Kalau itu menjadi jaminan yang sangat kuat bagi kita, kenapa takut? Mestinya kita tenang dan senang, bukankah Allah kita adalah Allah segala allah? Kita tidak perlu kecewa dan takut, karena Allah yang hidup  menuntun dan membimbing kita. Dia beserta dengan kita di mana saja, kapan saja.v

(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

Lihat juga

Komentar


Group

Top