Sudut Pandang (SUP)

Megakarya

Penulis : Pdt Bigman Sirait |

ADA banyak karya besar yang diwarisi dunia yang membuat para penciptanya dikenang sepanjang masa. Ingat Beethoven, Mozart, Bach, yang ketiganya dikenal sebagai komposer jenius yang meninggalkan puluhan atau bahkan ratusan komposisi musik klasik? Juga ada pelukis-pelukis ulung semacam Leonardo Da Vinci, Michel Angelo, Rembrandt, dan lain-lain. Sementara di bidang otomotif ada nama Karl Benz, pencipta Mercedes Benz. Ada juga si jenius di bidang sains yakni Albert Einstein yang dikenang dengan teori Relativitas Waktu-nya.

Dunia juga mengenang nama seorang Adolf Hitler, yang dikenal otoriter, kejam, karena membinasakan jutaan orang Yahudi. Lalu Jack The Ripper, si pembunuh maniak dari Inggris, yang sangat gemar memotong-motong tubuh korbannya.

Sementara di Indonesia, Anda pasti mengenal Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya yang sering kita kumandangkan. Dan yang pasti, tidak ada di antara kita yang tidak mengenal Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia dengan ide nasionalisme-agama-komunisme (nasakom-nya) itu. Tetapi yang pasti, Bigman Sirait tidak termasuk di dalamnya, sekalipun yang bersangkutan berharap melalui Mata Hati , suatu waktu dia dikenang oleh banyak orang (mimpi boleh, kan?).

Tetapi tulisan ini tak hendak menulis kisah salah satu dari nama-nama besar di atas, apalagi saya pribadi. Sebab yang disorot dan diungkap Mata Hati kali ini adalah mahakarya dari segala karya besar, yaitu karya Yesus Kristus. Mahakarya Kristus yang menebus dosa dan memerdekakan umat manusia dari kuasa maut. Roma 3: 23 mempersaksikan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan Roma 6: 23 mengatakan; Sebab upah dosa ialah maut; tetapi kasih karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Kesaksian Alkitab begitu gamblang dalam menggambarkan ketiadaan pengharapan dalam kehidupan manusia. Jalan hidup tak menjanjikan apa pun, sementara ujung hidup hanyalah maut, kematian kekal. Dari gelap, di dalam gelap berujung di kegelapan. Itulah hidup manusia berdosa. Di tengah kegalauan hidup yang tidak hidup, dalam menanti lonceng maut, manusia justru mendengar nyanyian surga bahwa keselamatan telah tiba. Keselamatan di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan juru selamat manusia (Fil 2: 6-9, Yoh 3: 16, Mat 1: 21).

Nada hidup kini berubah, orang percaya kini bagaikan alunan musik nan indah. Hidup yang tidak hidup, berubah menjadi hidup yang hidup. Sementara, kematian bukan lagi kegelapan yang menakutkan, melainkan gegap gempita pernikahan anak domba Allah. Kematian adalah sukacita, karena merupakan panggilan hidup yang kekal. Bahkan di dalam hidup, di dunia yang penuh kekacauan, yakni di sini, saat ini, dukacita pun menjadi kebahagiaan. Dukacita karena kebenaran adalah sebuah kehormatan yang tinggi. Karena itu, kebahagiaan menjadi warisan sah setiap orang percaya. Dan, spektakulernya ialah manusia menerima itu secara cuma-cuma, bukan oleh agama, atau pola hidup tertib. Bukan pula hasil sebuah ritual, melainkan semata-mata hanya anugerah Tuhan (sola gratia) Efesus 2: 8-9.

Nah, sola gratia ini menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Maklum, manusia yang selalu merasa diri sebagai hero (pahlawan) bahkan pernah ingin menjadi sama seperti Allah (Kej 3: 4-6), merasa mampu menggapai surga lewat usahanya sendiri (Kej 11: 1-9). Usaha menuju surga adalah kejahatan agama yang melawan kedaulatan dan kasih Allah yang menyelamatkan. Di sisi lain, upaya menggapai surga dengan kekuatan sendiri ini merupakan pengingkaran pada kenyataan keberdosaan dan maut. Jadi, keselamatan sungguh merupakan mahakarya Kristus yang menyelamatkan orang berdosa lewat kematian-Nya di kayu salib.

Yesus mencari manusia yang meninggalkan diri-Nya. DIA menebus manusia berdosa di tengah penolakan keras yang dilakukan manusia (menyalibkan Yesus). Dan, Dia menyatakan kasih dan pengampunan atas mereka yang menyalibkan-Nya. Tindakan Yesus ini sungguh sebuah mahakarya yang tidak pernah dan tidak akan pernah ada lagi. Sebuah mahakarya satu- satunya, dan paling masuk akal. Jika manusia berdosa ingin menebus dirinya, itu tak mungkin dilakukannya sendiri. Karena jika mungkin, maka manusia tidak mungkin ada dalam dosa, karena sejak awal mampu melakukannya (menebus diri sendiri).

Seorang budak hanya mungkin ditebus oleh orang yang merdeka, yang mampu membayar harga. Begitu pula dengan orang berdosa, yang hanya bisa ditebus oleh orang yang tidak berdosa dan mampu membayarnya. Dan, orang yang tidak berdosa hanya ada satu, yaitu Yesus, yang dilahirkan oleh kesucian Roh Kudus (Mat 1: 18-25), bukan birahi manusiawi. Dan bayarannya adalah darah kudus. Dan itu tidak mungkin darah Anda atau saya, atau bahkan para nabi dan rasul, yang juga sama berdosanya sebagai manusia.

Jadi, dalam kemaharelaan diri-Nya, dan kemahasucian-Nya, Yesus telah mengukir mahakarya penebusan dosa dalam sejarah hidup manusia. Dan itu dilakukan-Nya di sini, saat ini, di bumi ini, bukan di surga nanti sebagai upah agama. Semoga Anda adalah penerima anugerah, yang sudah pasti hidup berkarya seperti DIA yang telah membuat karya nyata, kasih surgawi. Semoga Anda dan saya nyata sebagai milik surga.*

Komentar


Group

Top