Konsultasi Theologi

Bayi Natal Raja Kekal?

Penulis : Pdt Netsen | Thu, 22 December 2022 - 13:58 | Dilihat : 164

Peristiwa Natal mungkin sudah menjadi bagian dalam hidup kita dari tahun ke tahun. Tidak saja menjadi bagian dalam gereja dan pelayanan, tetapi juga menjadi bagian dalam pesta, belanja, liburan dan lain sebagainya. Selain itu Natal juga terkadang hanya menjadi sebuah event tahunan dalam kalender. Akhirnya orang bisa terjebak dengan rutinitas Natal. Jika demikian, apakah bedanya dengan berbagai event lain yang juga memberikan kesibukan, menawarkan berbagai hal yang sama? Ketika sebagian orang melihat dan memahami Natal sebagai event yang biasa-biasa saja, namun ada juga sebagian orang yang melihat bahwa Natal merupakan suatu momen penting bagi hidupnya. Mereka melihat ada pribadi yang istimewa terlibat dalam peristiwa Natal. Keistimewaan itu ialah lahirnya seorang bayi yang juga disebut sebagai Raja. Raja yang lahir, bukan raja yang sementara, tetapi Raja Damai, Raja Kekal. Mengapa Sang bayi Natal disebut sebagai Sang Raja Kekal? Apa kualifikasinya sehingga Ia disebut sebagai raja? Bagaimana kepemerintahan-Nya? Apa yang akan Dia lakukan? Dan bagaimana aplikasinya bagi hidup orang percaya?

Kelahiran bayi Natal sebagai Raja Kekal, sudah dikemukakan oleh malaikat sebelum Kristus lahir dan oleh nabi-nabi jauh sebelum Kristus lahir. Suatu pemberitaan yang telah disampaikan oleh Nabi Yesaya (Yesaya 9:6-7) “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya”. Dalam bagian lain, Nabi Mikha, menyampaikan “Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya, mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi” (Mikha 5:3).

Berita yang diungkapkan baik oleh Yesaya maupun Mikha kurang lebih 700 tahun sebelum Kristus lahir, lalu digenapi dan digemakan kembali dalam Injil Lukas (Luk 1:31-33). Malaikat, pembawa berita itu menyatakan: Bayi Yesus itu akan menjadi Besar. Menjadi besar bukan hanya dalam pengertian fisik, karena kalau dalam pengertian fisik tentu itu adalah hal yang biasa. Menjadi besar bila memperhatikan lebih lanjut dari tulisan Injil Lukas (Luk. 2:40, 52), hal ini berarti bahwa kebesaran Sang Anak itu akan semakin nampak. Siapa Dia sesungguhnya akan semakin kelihatan. Ia yang datang dalam kehinaan, akan menunjukkan kemuliaan-Nya. Ia yang datang dengan ketidakberdayaan, akan menunjukkan kekuasaan-Nya dan Dia yang kecil itu akan menunjukkan hikmat-Nya. Kualifikasi Yesus, Sang Bayi Natal Raja Kekal melampaui kualifikasi raja-raja dunia. Dia Raja di atas segala raja. Pencipta, Penguasa di Sorga dan di Bumi(Mat. 28:18; 1 Tim. 6:15; Why. 17:14; 19:16) dan Kerajaan-Nya bukan dari dunia tetapi dari Sorga (Yoh. 18:36).

Bayi Natal Raja Kekal, Ia akan memerintah sampai selama-lamanya (Lukas 1:32) “Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Apa yang disampaikan oleh Injil Lukas merupakan penggenapan dari perkataan nabi Natan. Tuhan berfirman kepada Daud, “Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya” (2 Samuel 7:13-16). Tahta kerajaan yang kokoh untuk selama-lamannya digenapi dalam diri Yesus, Raja Yang Kekal. Dalam Perjanjian Baru (kitab Wahyu), Rasul Yohanes juga mendengar suara dari sorga yang berkata, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Wahyu 11:15).

Bayi Natal Raja Kekal. Ia akan memerintah dengan keadilan dan kebenaran. Dia datang ke dunia sebagai seorang bayi, membawa terang dan keselamatan bagi “mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut” (Matius 4:16; lihat Yesaya 9:1). Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Dia mewujudkan dan memberikan kedamaian kepada orang-orang yang Dia kasihi dan mengasihi-Nya. Karena itu damai bukan hanya di sorga, tetapi juga di bumi, yaitu bagi manusia yang diperkenan-Nya. Damai di hati mereka, damai di hidup mereka bahkan ketika mereka menghadapi kesulitan dan ancaman maut. Raja-raja dunia memerintah dengan kekerasan, Sang Raja Kekal memerintah dengan cinta kasih (Mrk. 10:42). Raja Kekal datang dalam bayi Natal untuk memberi hidup, yaitu hidup yang berkelimpahan. Dan hidup itu adalah hidup kekal (Yoh. 1:3-4; 3:16; 10:10)

Bayi Natal, Raja Kekal. Ia memerintah atas hidup orang percaya sampai selama-lamanya, hingga kekekalan. Pemerintahan di dunia terbatas kekuatannya. Pemerintahan di dunia terbatas waktunya. Pemerintahan di dunia akan diakhiri. Akan tetapi pemerintahan Kristus adalah pemerintahan yang tidak berkesudahan. Yesus Kristus, Ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, Penguasa kekal yang Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Karena itu Ia dapat menjadi sandaran bagi hidup kita, baik di dunia ini maupun di kehidupan kekal. Ketika kita menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamatmu, maka Ia menjamin kehidupan kita sampai kekekalan. Sekiranya kita memahami bagian ini dengan benar, maka dengan begitu kita tidak memandang Natal sebagai hal yang biasa-biasa saja atau event kalender tahunan semata. Tetapi kita melihat betapa penting dan berharganya Natal bagi hidup kita. Dimana kita memiliki Raja Kekal yang kepadanya kita bersandar mempercayakan dan menyerahkan seluruh keberadaan kehidupan kita.

Selamat Natal, kiranya Natal kali ini, mengarahkan mata dan hati kita kepada Kristus, Sang Raja Kekal, Sang Imanuel.

Lihat juga

Komentar


Group

Top