Sudut Pandang (SUP)

Gerejaku, Gerejamu

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


Tak bisa dipungkiri, perjalanan gereja penuh coret-moret yang tidak membanggakan. Mulai dari perpisahan yang tidak enak di antara gereja Konstantinopel dan Roma, lalu berlanjut pada Gereja Roma (Katolik) dengan Protestan. Dan tanpa mengenal henti, Gereja Protestan sibuk protes-protesan. Sementara di Katolik lahir berbagai ordo yang sarat perbedaan, namun masih satu atap Roma Katolik. Ini lebih baik secara organisasi dibanding Protestan, walaupun dalam ruang doktrin masih banyak ruang kosong yang bisa diperdebatkan.

Semua ini mengalir kencang dengan satu dalih, bahwa ini merupakan bagian dari pertumbuhan gereja. Antara benar dan salah, tapi satu yang pasti, alasan ini hanya sayup-sayup jika mendengar kumandang doa Yesus yang jelas meminta agar gereja menjadi satu (Yoh: 17).

Banyak kerancuan dalam memahami pertumbuhan gereja. Belum lagi kasus satu orang jemaat yang terdaftar di banyak gereja, sehingga pendataan menjadi kabur. Alhasil, tak jelas apakah gereja bertumbuh karena bertambah atau tumpang tindih. Itu baru dari sudut kuantitas, belum kualitas.

Munculnya pengkhotbah karbitan yang ogah belajar karena merasa mendengar suara roh , semakin membingungkan gereja. Belum lagi pengkhotbah sensasi, dengan kesaksian yang super-wah: melanglang buana di alam roh . Alkitab saja tak pernah memuat kisah para rasul yang seperti itu. Karena merasa dituntun oleh suara roh itu, mereka merasa cukup hanya memelintir ayat-ayat Alkitab. Tanpa melihat konteks, mereka mencopot tanpa rasa bersalah ayat-ayat Alkitab, lalu menafsirkannya secara sepihak. Dan naifnya, umat melahap khotbah mereka dengan cepat. Maklum, di sisi lain, kebanyakan umat hanya suka mendengar khotbah, apalagi yang berbau sensasi. Mereka malas membaca Alkitab, apalagi menyelidiki untuk mengetahui dengan pasti (band. Kisah 17 : 10-12).

Dengan kondisi tersebut, maka lengkaplah kesulitan gereja, dan semakin kencanglah gaung gerejamu dan gerejaku , pengkhotbah sensasi dan umat yang malas membaca Alkitab. Kesulitan ini semakin bertambah karena ditemukan pula pengkhotbah yang terpelajar namun tak berintegritas: cinta diri, fulus dan tak tulus melayani. Di sini, umat bukannya domba gembalaan tapi domba perahan. Lalu, perbedaan tajam antara gereja semakin diasah, bukan dijembatani.

Memang harus diakui, ada gereja yang sudah berkategori sesat menurut ajaran Alkitab. Ini harus disikapi dengan tegas. Tetapi perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip seperti: memuji Tuhan apakah dengan bertepuk tangan atau tidak; dibaptis, dengan cara selam atau percik; orang mati, dikremasi atau kubur, dan lain-lain, mengapa diangkat ke permukaan? Memuji Tuhan adalah panggilan orang percaya. Mau bertepuk tangan, silahkan (American style), tidak bertepuk tangan, ya monggo (European style).

Dibaptis, itu harus! Itu pengakuan orang percaya di depan umat Tuhan. Tetapi mau percik atau selam, itu lambang yang tidak perlu diperdebatkan. Ada tugas utama gereja yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Mari kita lakukan bersama (pilah hal yang esensial dan tidak). Kalau tidak bersedia bersatu atau saling melengkapi, lalu kasih itu apa? (Tetapi ingat, kebenaran jangan dikorbankan atas nama kasih, karena itu bukan kasih yang
benar). Bukankah gereja juga dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia? Terangilah dunia, bukan gereja tetangga . Tetapi gereja remang-remang juga harap tahu diri untuk menjadi terang-benderang.

Nah, adalah sebuah keniscayaan, jika gereja terpanggil melakukan tugasnya secara utuh, dan dengan sendirinya, persatuan akan menjadi mimpi yang niscaya terwujud. Minimal semangat itu membukit, dan caci-maki tak lagi terjadi, kecuali yang sesat harus dinyatakan sesat (ajaran Alkitab menjadi acuan utama). Seperti dikatakan Yesus, Memang harus ada penyesat, tetapi celakalah yang mengadakannya (Lukas 17:1-2). Dan adalah tanggungjawab gereja menelanjangi penyesat itu.

Yang perlu diingat oleh gereja adalah: kasih tanpa hukum pasti liar, namun hukum tanpa kasih, adalah legalisme. Jadi, bukan gerejamu atau gerejaku, tapi bagaimana itu menjadi GEREJA KITA. Bukankah Yesus telah bangkit dari maut, dan DIA telah mengalahkan dosa? Bukankah itu berarti, bahwa kita juga telah menerima kuasa kebangkitan itu dan mengalahkan kegelapan?

Ayo buktikan, kalau gereja adalah GEREJA KITA! Paling tidak, KITA yang masih berpikir jernih dan mengutamakan tuntutan Kitab Suci. Jangan terjebak dalam seribu kata atau sejuta perdebatan, tapi bangunlah dan kalahkan semua perbedaan dengan tindakan nyata, dengan kebenaran yang berlandaskan kasih yang agape. Itu baru gereja dengan semangat dan kuasa kebangkitan Yesus. Atau jika tidak, kita cuma gereja-gerejaan . Semoga tidak!*

Komentar


Group

Top