Bursa Saham: Kasino atau Wahana Investasi?

DUNIA sedang dalam krisis finansial global. Media terus memberitakan kerugian besar dari beberapa institusi ke-uangan ternama, pemutusan hubungan kerja di seluruh dunia, penurunan konsumsi, peningkatan kredit macet yang tajam, kong-lomerat yang mendadak berubah menjadi “konglomelarat” dan juga penurunan harga-harga saham di berbagai bursa saham di dunia. Semua kemunduran ini terjadi secara drastis dan tiba-tiba. Ibarat pesawat terbang yang sedang terbang, lalu tiba-tiba menukik tajam (stall).

bagi para investor saham. Mereka dapat saja kaya mendadak, namun juga miskin mendadak. Fenomena ini membuat banyak orang melihat bursa saham seperti kasino atau tempat berjudi. Mengapa demi-kian? Ketidakmengertian akan fluk-tuasi (naik-turun) saham dapat membawa seseorang kepada pe-ngertian yang keliru tentang bursa saham, yaitu bursa saham adalah tempat berjudi.

Sebelum membicarakan fluktuasi harga saham, ada baiknya mema-hami saham dan bursa saham terle-bih dahulu. Saham adalah salah satu surat berharga yang menyatakan bahwa pemegang saham mempu-nyai klaim atas beberapa bagian kepemilikan perusahaan. Karena itu, pemegang saham mempunyai hak untuk mengklaim pendapatan bersih perusahaan. Selain itu, juga mempunyai wewenang mengambil keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan perusahaan terse-but, seperti pembagian deviden, merger atau akuisisi, dan peng-angkatan dewan direksi. Selain itu, berbeda dengan deposito dan obligasi, saham tidak mempunyai jatuh tempo.

Saham terbagi menjadi dua jenis, yaitu saham preferen dan saham biasa. Saham preferen memung-kinkan pemegangnya untuk meng-klaim deviden dengan jumlah yang tetap setiap periodenya, namun saham biasa tidak. Karena itu, pemegang saham biasa mungkin saja tidak memperoleh deviden jika perusahaan mengalami kerugian. Itulah sebabnya pemegang saham biasa mempunyai risiko paling besar di antara pemegang saham pre-feren dan kreditur (pemberi hu-tang). Pemegang saham mempe-roleh untung melalui dua sumber, yaitu deviden dan capital gain, yaitu selisih harga beli saham dan harga jual kembalinya. Berdasarkan Global Financial Data, imbal hasil saham selama periode 1951-2001, seba-gian besar berasal dari capital gain. Sebab itu, bagi kebanyakan investor, tujuan utama dari investasi saham adalah memperoleh capital gain.

Ketika suatu perusahaan ingin memperoleh dana dari publik dengan cara menerbitkan saham, maka perusahaan tersebut harus melakukan penawaran perdana publik atau istilah kerennya Initial Public Offering (IPO). Penawaran ini terbatas sehingga para investor yang tidak kebagian harus mencari di pasar bebas yang dikenal dengan bursa (exchange). Itulah mengapa perusahaan-perusahaan yang go public mencatatkan diri di bursa saham. Bagi perusahaan, harga saham di bursa sangat penting. Harga saham di bursa menentukan berapa jumlah dana yang dapat diperoleh perusahaan jika perusahaan tersebut menerbitkan saham lagi. Bagi investor, bursa sangat dibutuhkan untuk kebutu-han likuiditas. Mengingat saham tidak memiliki jatuh tempo, investor tidak dapat datang ke peru-sahaan lalu meminta kembali uang-nya. Investor perlu menjual kem-bali saham yang dimilikinya, jika butuh uang. Karena itu, meniada-kan bursa saham sama saja menu-tup salah satu sumber dana bagi perusahaan.

Harga saham yang terbentuk di bursa adalah harga yang terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Nah, perlu digaris-bawahi bahwa harga-harga saham di bursa itu merupakan espektasi dari para investor terhadap cash flows perusahaan tersebut di masa yang akan datang. Dengan kata lain, harga saham di bursa men-cerminkan kinerja perusahaan di masa yang akan datang, sehingga bisa saja meskipun keadaan keuangan perusahaan bagus saat ini, namun harga sahamnya turun karena investor melihat perusahaan ini akan menuai kerugian besar di masa yang akan datang. Espektasi investor dapat berubah-ubah seiiring perubahan keadaan peru-sahaan maupun keadaan pereko-nomian secara keseluruhan. Karena itu, harga saham dapat berubah setiap saat.  

Fluktuasi harga-harga saham itu sangat tinggi, lebih tinggi daripada obligasi dan surat-surat berharga lainnya seperti surat perbenda-haraan hutang negara, Sertifikat Bank Indonesia, dan deposito. Makanya, perlu jantung lebih dari dua untuk berinvestasi di saham. Dengan kata lain, jangan investasi saham kalau Anda tidak siap dengan fluktuasinya.  
Saham merupakan investasi jangka panjang. Apa artinya? Investasi saham akan memberikan untung yang sangat besar dalam jangka panjang, namun dalam jangka pendek tidak dijamin akan memberikan keuntungan.

Karena itu, jika Anda tertarik dengan investasi saham, maka Anda perlu mempunyai horizon waktu investasi yang sepanjang mungkin (lebih dari satu tahun). Fluktuasi saham memang menggiurkan un-tuk membuat untung dalam waktu yang cepat.
Namun, ingatlah bahwa untung yang dikumpulkan cepat akan berkurang. (Amsal 13:11). High risk, high return! No free lunch! REFORMATA

Penulis: Dosen UPH Business School jurusan Manajemen

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *