Nikmati Berkat-Berkat-Nya

Berkat-berkat Tuhan adalah untuk dinikmati, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Sebagai orang percaya, panggilan kita adalah melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31). Demikian juga ketika kita menggunakan dana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, adalah untuk kemuliaan-Nya, kita jalani dalam nama Tuhan Yesus, disertai dengan ucapan syukur atas segala kecukupan-Nya itu (Kolose 3:17).

Kita sudah membicarakan bagaimana mengelola segala sumber yang Allah percayakan kepada kita melalui perencanaan keuangan. Ini kita lakukan dengan mengalokasikan dana yang kita dapatkan dari pekerjaan, usaha atau pendapatan-pendapatan lain ke dalam pos-pos persembahan, penyelesaian hutang yang ada, tabungan jangka pendek dan investasi untuk jangka panjang atau kebutuhan-kebutuhan khusus – misal, studi, berziarah ke Tanah Suci, dsb, termasuk untuk masa tua; dan juga untuk kita nikmati sendiri mau pun untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang atau pihak-pihak lain yang dekat dengan kita.

Dengan pendapatan rutin kita penuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga seperti untuk makanan minuman, pakaian, sewa, biaya pengobatan, transportasi, peralatan rumah tangga, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dsb., dsb., dsb. Membeli asuransi menjadi bagian perencanaan keuangan yang bijak, karena kita tidak tahu situasi kita ke depan. Memiliki asuransi hidup untuk kebutuhan keluarga adalah keputusan penatalayanan yang baik. Namun membeli asuransi yang berlebih karena kekhawatiran yang berlebih untuk proteksi diri tidak alkitabiah karena hanya Allah yang pada akhirnya memberikan perlindungan kesehatan maupun masa depan kepada kita.

Kita sering sulit membedakan antara kebutuhan-kebutuhan yang lebih terbatas dengan keinginan-keinginan yang terus berkembang dan potensi tidak terbatas. Karena itu kita perlu belajar puas dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Kita belajar hidup dengan dana yang kita terima. Kita perlu melakukan 'expense management,' membuat budget dan rencana pengeluaran-pengeluaran kita. Untuk itu kita bisa menggunakan spreadsheet atau program finansial yang tersedia.

Di samping kebutuhan-kebutuhan sendiri, ketika Tuhan mengaruniakan ‘kelebihan’ maka kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang ‘berkekurangan’ (2 Korintus 8:14). Orang percaya dipanggil untuk memberi kepada orang yang membutuhkan. Menciptakan surplus pendapatan harus menjadi tujuan penting orang Kristen. Karena dengan surplus kita bisa mendukung mereka yang berkekurangan.

Di luar orang-orang yang dekat, sebagai orang percaya kita juga mendukung kebutuhan-kebutuhan kebutuhan-kebutuhan gereja lokal, misionaris, berbagai kebutuhan pelayanan, dsb. Pengelolaan uang yang bijak dan setia bisa menghasilkan dana lebih untuk mendukung mereka-mereka yang memberi hidup mereka untuk melayani pekerjaan Tuhan secara penuh waktu.

Di samping untuk kebutuhan-kebutuhan konsumsi, kita juga bisa mengalokasikan dana untuk rekreasi. Surat 1 Timotius 6:17 menyatakan ‘Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.’ Sudah barang tentu dalam berekreasi kita juga memilih kegiatan-kegiatan yang ‘memuliakan Allah’ (1 Korintus 10:31).

Membudgetkan dana untuk rekreasi hanya mungkin ketika kita selesai dengan hutang-hutang kita. Seyogyanya kita ‘jangan berhutang kepada tuan apapun’ sehingga kita leluasa menggunakan dana kita. Kita mengalokasikan dana rekreasi dari apa yang masih tersedia setelah berbagai kewajiban dan kebutuhan terpenuhi.

Ada berbagai ‘rule of thumb’ (aturan praktis) yang disarankan para ‘financial planner.’ Salah satu, mereka menyarankan aturan 50:30:20, dimana: 50% alokasi biaya operasional bulanan selain ‘cicilan’ dan ‘investasi’; 30% alokasi untuk biaya cicilan – maksimal, seluruh cicilan (KPR/KPA, kredit mobil, dll); 20% alokasi untuk investasi. Financial planner lain juga menyarankan prinsip 50:30:20 tapi dengan kategori alokasi yang berbeda sbb.: 50% untuk keperluan-keperluan seperti perumahan, utilitas; 30% untuk item-item non esensial seperti ‘hiburan’ dan ‘rekreasi’ – seperti makan di luar, nonton, dsb.; dan, 20% untuk tabungan dan investasi.

Sebagai orang percaya kita mengutamakan persembahan dan pemberian untuk orang-orang yang membutuhkan. Berbagai prinsip pengelolaan finansial dari para ahli keuangan itu bisa kita pertimbangkan, setelah kita mengalokasikan dana persembanan dan pemberian kita itu. Dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan rekreasi adalah bagian dari aktivitas kita memuliakan Allah yang pemurah. Karena itu nikmatilah berkat-berkat-Nya dengan ucapan syukur. Tuhan Yesus membekati!

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *