Sudut Pandang (SUP)

Di Bumi, Gereja Membumi

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


Kehadiran gereja di Bumi, sudah seharusnya membumi. Ingatlah, kidung indah para malaikat, ketika mengumandangkan pujian surga yang bermuara pada makna: damai di Bumi. Alangkah indahnya, jika itu menjadi mandat yang diwujud-nyatakan gereja, yang tak sekadar hadir, sebagai untaian syair di da-lam keindahan nada, di setiap Na-tal, di setiap penghujung tahun, tetapi, sebuah kehangatan yang nyata. Damai yang dirasa nyata,  senyata kehadiran manusia di dalam dunia ini. Manusia yang me-ngaku percaya kepada Yesus Kris-tus, manusia yang disapa, sebagai gereja . Menabur damai, adalah panggilan mulia bagi gereja. Sebuah nyanyian yang harus diku-mandangkan dalam denyut kehi-dupan manusia.

Ketika Yesus datang melawat Bumi, Dia melakukan turba (turun ke bawah) yang sejati. Turun dari surga yang mahatinggi, menjejakkan kehadiran-Nya di bu-mi, menjadi sama dan salah satu dari antara kita gereja-Nya. Istilah turba awalnya muncul di era Orde Baru, era di mana pejabat kita sangat ahli dan jeli membuat singkatan, termasuk istilah kerja banyak menteri. Jadi, turba adalah tugas ke daerah yang dila-kukan menteri. Entah kenapa tu-gas ke daerah itu disebut turun ke bawah , tak jelas. Tapi yang jelas, sudah seharusnya pemimpin ada bersama yang dipimpinnya. Dan turun ke bawah, juga menjadi semacam pengorbanan bagi para petinggi, tapi, penghinaan bagi kita yang dianggap berada di bawah.

Nah, kalau Yesus yang disebut turba , itu memang amat sangat tepat. Dia memang tinggi, semen-tara kita rendah, Dia memang mulia, sementara kita hina. Yesus Kristus, selama di Bumi tak me-ngambil posisi sebagai petinggi. Dia berbaur dengan keseharian orang kebanyakan. Bahkan, Ye-sus, meletakkan nilai diri-Nya dalam kesamaan dengan me-reka yang hina dan tersisih. Kalian sudah mempeduli-kan Aku, ketika kalian peduli kepada saudara-Ku yang hina ini itu kata-Nya (Mat 25:40).

Kehadiran-Nya yang sa-ngat bersahabat itu, telah mengangkat harkat hidup banyak orang hina (yang dihina lingkungannya). Yesus, telah menciptakan damai, bukan hanya mengumandang kannya. Dia, telah membuat damai hati mereka yang tersisih, yang tidak pernah dipedulikan oleh masyarakat sekitarnya, apalagi oleh para pe-tinggi yang sering mengaku turba. Mereka, seringkali merasa terlalu tinggi untuk turun ke bawah. Sebuah estetika hidup yang luar biasa telah di demonstrasi kan oleh Yesus, sang kepala gereja. Hidup yang memberi damai

Lalu, bagaimana dengan gereja-Nya? Sebuah pertanyaan yang serius, seserius ketika Yesus berkata, Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang orang terku-tuk, sebab engkau tidak memberi Aku makan ketika lapar, minum ketika haus, pakaian ketika telanjang. Mereka yang dituduh, mencoba menyela dan bertanya, Bilamana? Yesus menjawab, Ketika engkau tidak peduli pada mereka yang hina itu (Mat 25:41-46).

Akankah, penolakan itu yang akan menjadi kenyataan pahit bagi gereja ? Entahlah, karena hal itu tetap merupakan sebuah misteri penghakiman. Namun yang pasti, sejauh kemampuan mata mena-tap, dan dalam keterbatasan me-nilai, yang tampak adalah, gereja seringkali berteduh di ketinggian menara gading. Tak banyak, dan, tak kompak, gereja yang mem-bumi. Kebanyakan gereja terlalu tinggi untuk digapai, terlalu suci untuk dimengerti. Para petinggi gereja pun, banyak yang merasa karunianya besar, berkatnya luar biasa besar, bahkan nama dan kuasanya pun terlalu besar untuk dibuat menjadi kecil, agar bisa memberi damai, pada umat yang kecil-kecil .

Bahkan tak jarang, atas nama iman, yang kecil dituding kurang beriman, sehingga tetap kecil. Sungguh berbeda dengan Yesus yang sejati besar-Nya, tetapi tak menghardik yang kecil, melainkan mengangkat harkatnya. Tapi, ten-tu saja Yesus tak membabi buta dalam memihak yang kecil, karena tidak sedikit yang kecil nilai diri-nya, tetapi sangat besar dosa dan kesombongannya. Nah, dosa  adalah kebencian bagi Yesus, termasuk orang kecil. Jadi, kembali kepada gereja, tentu tak perlu berdebat, apalagi meng-gugat mereka yang kecil, tetapi perlu menghayati, bagaimana untuk menjadi berkat yang membawa damai dikegersangan hidup.

Gereja yang membumi, adalah isu penting, mengingat gereja memang ada di Bumi dan dituntut memberi damai di Bumi, dengan menjadi garam dan terang. Gereja perlu mengoreksi posisi, kalau-ka-lau dia kedapatan berlabuh terlalu tinggi, di menara gading. Perlu mengubah paradigma, seakan gereja yang diberkati Tuhan ada-lah gereja yang mampu memba-ngun menara gading. Menara bu-kan barang haram, tetapi bukan ciri-ciri yang utama, apalagi identik dengan gereja yang diberkati. Gereja bukanlah gedungnya, bukalah pintunya, lihat apa yang ada di dalam. Gereja, adalah orangnya. Ya, itu adalah pengga-lan lagu di Kidung Jemaat, yang sering dinyanyikan murid sekolah minggu, yang sayangnya diabai-kan oleh jemaat dewasa, yang me-mang banyak, kurang dewasa rohaninya.

Gereja, juga perlu mengoreksi berita, agar tak terjebak pada perangkap: materialistis atas nama berkat, kesembuhan atas nama mukjizat, dan kekuatan iman yang bisa memaksakan keinginan kepada Tuhan. Bukankah Alkitab telah berkata, Cari dahulu kera-jaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semua akan ditambahkan kepadamu. Materi, kesembuhan, keberhasilan, itu semua hal mudah bagi Tuhan. Namun ingat, itu adalah alat, bukan tujuan.

Gereja, juga perlu mengoreksi kasih, agar tak sekadar menjadi pemanis bibir. Kasih tidak boleh ha-nya retorika kosong. Kasih di ge-reja telah mengalami krisis, dan menggapai titik kritis. Gudang ka-sih nyaris kosong.  Gereja harus membumi. Gereja yang membumi, adalah gereja yang terus-menerus diperbaharui, yang hadir dalam kehidupan umat, menyatu, mem-beri harapan, dan tentu saja men-ciptakan perubahan. Dan semua itu, tentu saja tanggung jawab ki-ta bersama sebagai gereja.

Selamat bagai Anda yang berada di front damai dengan berbagi diri, sementara yang terlena, semoga mengerti kita masih di Bumi. Dan mari membumi, agar nama Tuhan dipermuliakan, seperti dalam Doa Bapa Kami: Jadilah kehendakmu, di Bumi seperti di Surga. Dan kehendak-Nya adalah: damai di Bumi.  Semoga, anda adalah pem-bawa damai itu.*

Komentar


Group

Top