Hukuman Mati Di Mata Allah

Penulis : Dr An An Sylviana | Tue, 17 March 2015 - 12:08 | Dilihat : 1937
hukuman-mati-di-mata-allah.jpg

Bapak Pengasuh Yang Terhormat,

Eksekusi hukuman mati terhadap Enam terpidana mati yang  terkait dengan kejahatan Narkotika dan obat-obat terlarang, telah menuai pro dan kontra baik di dalam negri maupun di luar Negri. Banyak pandangan terhadap hukuman mati hanya dikaitkan dengan Hukum positif yang berlaku saja. Sementara pandangan dari segi theologia, saya belum pernah membacanya.

Saya mendengar Bapak pengasuh tidak saja mempelajari Hukum positf, tetapi juga mempelajari secara mendalam hal-hal yang terkait dengan  theologia. Jadi tidak ada salahnya saya bertanya kepada Bapak pengasuh apakah Hukuman mati diperkenankan Tuhan untuk  dilakukan. Terima kasih untuk penjelasannya.

 Amin. Tanggeran

JAWABAN :

Sdr. Amin yang terkasih

Hukum positif yang berlaku di Indonesia memberlakukan hukuman mati sebagai ganjaran terberat bagi mereka yang  melakukan kejahatan tertentu, termasuk mereka yang melakukan kejahatan narkotika dan obat-obat terlarang.

Dalam tulisannya di Harian Kompas tgl 19 januari 2015 dengan judul “ Narkoba dan Hukuman Mati,”  sdr. Hikmahanto Juwana menuturkan bahwa peredaran narkoba di indonesia telah sampai pada titik yang mengubah Indonesia dari negara transit menjadi negara tujuan. Bahkan di Indonesia banyak pihak memproduksi narkoba dan jaringan narkoba international memasuki Indonesia karena, Indonesia memiliki pangsa yang besar. Diperkirakan ada 4juta penduduk yang mengkomsumsi narkoba di Indonesia. Masalah pro dan kontra tentang Hukuman mati sampai dengan saat ini masih tetap menjadi perdebatan yang hangat, baik dikalangan masyarakat umum maupun dikalangan masyarakat Hukum sendiri.

Indonesia sebagai negara Hukum telah melegalisr adanya Hukuman  mati sebagai salah satu hukuman yang terberat yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan kejahatan tertentu, termasuk didalamnya kejahatan narkotika dan obat-obatan sehingga pelaksanaan (Eksekusi) terhadap terpidana mati bukanlah merupakan pelanggaran Hukum yang dilakukan oleh pemerintah  didalam menegakkan hukum (Supremacy of law). Penegakkan hukum yang dilakukan dengan memenuhi Due Process of Law yaitu suatu proses peradilan yang memberi perlindungan dan pembelaan diri sebagai Hak, sehingga penegakan hukum dilakukan dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum dan memenuhi rasa keadilan.

Secara umum dalam setiap negara (termasuk Indonesia) yang menganut paham  Negara hukum, selalu berlaku tiga prinsip dasar, yakni supremasi hukum (Supremacy of Law), Kesetaraan dihadapan Hukum (equality before the law), dan penegakan Hukum dengan cara tidak bertentangan dengan hukum (due process of law)

 Lalu bagaimana degan pandangan secara teologis terhadap Hukuman mati ini, apakah bertentangan dengan teologi kekristenan?

 Pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu apa pandangan Alkitab terhadap pemerintah .  Dalam Roma 13 ayat 1-4 dikatakan bahwa:

13:1

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

13:2

Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

13:3

Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.

13:4

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.


Dengan demikian menurut hemat kami, pemerintah adalah jelas merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk menghukum (lihat kata-kata “menyandang pedang”), tetapi kita juga tidak perlu takut kepada Pemerintah kalau kita berbuat baik dan bahkan kita akan beroleh pujian sebagai warga negara yang baik. Nah yang menjadi pertanyaan pokok sdr Amin adalah apakah Tuhan mengijinkan hukuman mati di jatuhkan atau dilaksanakan. Kalau kita melihat proses kejatuhan manusia dalam dosa maka sadarlah kita bahwa Hukuman mati sejak awal manusia di ciptakan sudah ada dan diberlakukan.

Kita masih ingat TUHAN Allah memberi perintah (baca “Hukum”) kepada manusia sebagaimana dapat kita lihat dalam Kej. 2 ayat !6-17 sebagai berikut :


2:16

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."


jadi TUHAN Allah telah menetapkan Hukum yang seharusnya ditaati oleh Manusia, karena pelanggaran atas ketetapan Hukum tersebut adalah sangat berat yaitu “Hukuman mati”  dan kita mengetahui bagaimana kemudian manusia melakukan pelanggaran atas ketetapan Hukum tersebut, sehingga bukan saja kematian manusia secara jasmani ( umur manusia hanya 120 th – Kej. 6 ayat 3 atau  hanya 70 sd 80 th – Maz.90 ayat 10) melainkan juga kematian manusia secara rohani (keterpisahan dengan dengan TUHAN Allah).

Dengan penjelasan yang sederhana tersebut, patutlah kita menyadari bahwa TUHAN Allah kita bukan saja TUHAN Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi juga TUHAN Allah yang tegas terhadap ketetapan-ketetapan hukumnya.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.                     

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top