Pendeta Kingmi: Isu HAM Papua Dibahas PBB, Momentum Pemerintah Untuk Merefleksikan Diri

Penulis : Redaksi | Mon, 19 September 2016 - 17:03 | Dilihat : 719

Reformata.com, Papua- Dibahasnya isu HAM dan politik Papua dalam Sidang Majelis Umum PBB yang sedang berlangsung hingga tanggal 25 September mendatang, harus menjadi momentum bagi pemerintah Indonesia untuk merefleksikan diri. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Pendeta Dr. Benny Giay, seperti dilansir tabloidjubi.com, Minggu (18/9), ketika menanggapi meluasnya isu Papua di Pasifik, serta adanya dorongan para pemimpin Negara-negara di kawasan itu untuk membawa isu West Papua ke Majelis Umum PBB.

“Bagi saya, ketika masalah Papua sampai ke Majelis Umum PBB oleh para pemimpin Negara-negara Pasifik, itu membenarkan pandangan bahwa sejarah sudah saatnya berubah,” ujar Pdt. Benny Giay. Ia juga menyampaikan bahwa setelah 50 tahun Papua di ‘Indonesiakan’, inilah saatnya sejarah akan berubah.

“Saya kira suara-suara perjuangan Papua Merdeka akhirnya sampai ke Sidang Umum PBB adalah hal yang wajar saja. Sudah seharusnya. Karena kami di gereja percaya setiap 50 tahun sejarah harus direfleksikan, demikian juga pihak Indonesia sudah saatnya melihat kembali kelakuan dan kemajuan peradaban mereka yang sudah 50 tahun ini tidak membawa kebaikan di Papua,” tambahnya.

Terkait bangkitnya harapan masyarakat Papua yang berjuang untuk bisa menentukan nasib sendiri, Pdt. Giay juga merasa sangat optimis. Kebangkitan itu, menurutnya, karena didorong oleh kebangkitan yang terjadi di Pasifik.

“Yang terjadi di Pasifik itu adalah kebangkitan kesadaran kemanusiaan. Di batin saya, kalau solidaritas untuk hak politik (kemerdekaan) maka itu bisa dilakukan profesional saja. Tetapi kebangkitan di pasifik ini melebihi itu,” ujar Giay, seraya melanjutkan bahwa kebangkitan itu dilandasi oleh satu kekhawatiran besar bahwa bangsa Papua akan punah.

“Kesadaran akan kepunahan suatu bangsa manusia dan peradaban inilah yang melandasi solidaritas mendalam untuk kemanusiaan di Pasifik. Kami pihak gereja mendukung itu,” pungkasnya.  *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top