Tersalib Dalam Kehinaan

Salib itu lambang kemuliaan. Benar, tetapi setelah mendapat pemaknaan teologis berdasar peristiwa historis: Yesus Kristus disalibkan. Di atas kayu salib itu pekerjaan penebusan mencapai titik paripurna. Tubuh Yesus tercabik. Darahnya tercurah. Yesus mati untuk menebus dosa manusia yang percaya kepadaNya. Setiap orang yang percaya secara pribadi kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Salib telah mengalami pergeseran makna di dalam dunia kekristenan. Saat ini banyak gedung gereja memakai simbol salib baik di luar maupun di dalam. Aksesoris salib semisal kalung, anting dan gelang dengan bangga dikenakan oleh umat kristiani. Bahkan batu akik bermotif salib laku dijual dengan harga selangit. Demikian tingginya apresiasi umat kristiani terhadap salib.

Salib pada dirinya sendiri adalah lambang kehinaan. Penyaliban adalah metode hukuman mati ala Romawi. Hanya penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman yang kejam ini. Hanya orang yang dianggap tidak mungkin bertobat dan sangat mungkin mengulangi perbuatan jahat yang akan disalibkan.

Salib mengandung simbol penghinaan. Orang yang divonis mati dipertontonkan kepada publik. Proses kematian pun berlangsung relatif perlahan. Bisa lebih dari sehari baru akan mati. Tubuh Yesus yang sudah lemah karena berbagai siksaan membuatnya menghembuskan nafas terakhir di kayu salib saat hari belum berganti. Namun satu hal yang pasti, bahwa Yesus bukanlah penjahat dan bukan penghujat seperti dituduhkan para saksi palsu yang tak punya hati nurani.

Yesus sudah setengah mati sebelum dipaku di kayu salib. Iya sudah terlebih dulu dibelenggu. Wajahnya ditampar. Ia dirundung dengan kata-kata nista. Ia ditelanjangi. Ia diludahi. Ia dimahkotai duri. Mahkota duri itu menusuk sampai ke tengkoraknya. Ia dipukuli dengan brutal. Tubuhnya penuh lebam dan luka. Ia memikul kayu salib yang berat dan kasar sampai terjatuh berulang kali.

Yesus hendak diberi minum anggur bercampur empedu maupun mur yang memiliki efek bius untuk menurunkan tingkat kesadaran, namun ditolakNya. Yesus memilih untuk meminum cawan murka Allah sampai tetes terakhir tanpa bantuan, agar proses penebusan dosa berjalan sempurna sampai titik terakhir tanpa gangguan.

Yesus diberi minum anggur asam menjelang kematiannya. Ini adalah anggur murah kualitas rendah. Ia terus dihina, bahkan menjelang ajalNya. Tak disangka tak dinyana, justru jalan kehinaan itulah jalur menuju kemuliaan. Meski Yesus tersalib dalam kehinaan dalam pandangan dunia, itu adalah proses pemuliaan dalam pandangan sorga. Yesus mati agar bisa bangkit. Kehinaan salib Yesus berujung kematian, merupakan pintu masuk pada kemuliaan kebangkitan sampai kekekalan.

Jumat Agung semakin menjelang. Penebusan itu dikerjakan melalui sebuah palang. Baiklah umat Tuhan tetap terkenang. Jangan lupa Getsemani. Jangan lupa sesah keji. Jangan lupa bahwa kasih Tuhan yang memimpin Yesus ke Kalvari. Demi engkau. Demi aku. Demi kita, umat tebusanNya.

Mari mengambil setangkup waktu, masuk dalam permenungan sampai dasar kalbu. Merededikasi hidup dalam kontemplasi Jumat Agung yang mengharu biru. Seraya melantunkan lagu: Salib itu kujunjung penuh hingga tiba saat ajalku. Salib itu kurangkul teguh, dan mahkota kelak milikku.

Selamat menghayati hari Jumat Agung.

Recommended For You

About the Author: Pdt Gelen Marpaung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *