Disiplin Rohani Istirahat Sabat

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat…” Keluaran 20:8

Allah menciptakan istirahat untuk manusia sejak awal (Lihat Kejadian 2:2-3). Allah sendiri tidak memerlukan istirahat, tapi Dia menciptakan istirahat untuk segala ciptaan-Nya, khususnya manusia. Fakta ini saja menunjukkan pentingnya bagi manusia untuk melakukan disiplin istirahat.

Manusia memerlukan istirahat secara fisik maupun rohani. Istirahat fisik saja tidak cukup bagi manusia, yang adalah mahluk spiritual. Istirahat rohani diperlukan untuk menyegarkan rohani kita untuk hidup dekat dengan Dia. Yesus berbicara tentang istirahat rohani dalam Matius 11:28 dan selanjutnya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Sebagai sebuah disiplin rohani, Sabat menjadi satu disiplin yang menolong kita untuk sehat secara rohani, hidup dekat dan bergantung kepada Allah, dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Memelihara hari Sabat bukan sekedar salah satu disiplin rohani, tapi juga merupakan ketaatan kepada satu dari Sepuluh Perintah (Keluaran 20:8). Orang Yahudi merayakan Sabat setiap minggu dari Jumat matahari terbenam hingga Sabtu matahari terbenam. Mereka mengerjakan pekerjaan ekstra pada hari sebelum Sabat agar bisa istirahat total dalam 24 jam hari Sabat. Dalam Sabat Yahudi ada ritual-ritual dan tradisi-tradisi yang mereka ikuti.

Menerapkan perintah menghormati Sabat dimulai dengan “jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (Keluaran 20:10). Ini adalah bentuk disiplin absen atau menyangkal diri. Dalam menghormati Sabat, kita mempraktekkan ketidak bergantungan pada diri sendiri tapi kepada Allah saja; dan beristirahat dari bekerja dalam kasih-Nya.

Hari Sabat juga disebut-sebut lagi di Perjanjian Baru. Yesus, sebagai Tuhan atas Sabat, mengatakan bahwa Sabat adalah untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat (Markus 2:27). Dengan kata lain, Sabat dibuat untuk menjadi berkat bagi manusia. Karena itu kita tidak bersikap legalistik dalam menjalankan Sabat. Namun ketika kita tidak mengerjakan Sabat, kita kehilangan berkat-berkat Sabat untuk kita.

Tidak bekerja berarti tidak melakukan pekerjaan kita, pekerjaan yang menghasilkan uang, tidak terus asyik dengan proyek; dan sebanyak mungkin tidak melakukan tanggung jawab hidup sehari-hari, termasuk tanggung-jawab di rumah. Tentu kita tidak bisa tidak melakukan apapun untuk pemeliharaan diri keluarga kita. Namun kita usahakan, sebanyak mungkin, kita persiapkan sebelum atau sesudah Sabat, sehingga pada hari Sabat kita bisa bebas dan hadir dalam kehadiran-Nya.

Memelihara Sabat berarti menyisihkan waktu satu hari 24 jam dimana kita tidak bekerja untuk beristirahat secara pribadi dan tinggal dalam pemeliharaan Tuhan. Sabat adalah waktu untuk menahan diri dari tanggung-jawab sehari-hari untuk berdoa, beribadah dan berekreasi dengan Allah dan dengan sesama.

Bagaimana kita mempraktekkan Sabat? Sebagai disiplin rohani, kita menetapkan satu hari dan meniadakan kegiatan-kegiatan rutin kita dan mengisi dengan berbagai kegiatan istirahat ‘rohani’ seperti melakukan saat teduh yang khusus, berdoa, melakukan studi alkitab, ibadah bersama, dan ‘rekreasi’ dalam kehadiran Allah. Kita mencari tempat yang khusus, berbeda dengan tempat kita sehari-hari beraktivitas, jika memungkinkan.

Pada abad pertama para pengikut Yesus mengubah hari Sabat dari Sabtu ke Minggu. Kita bisa memilih hari Minggu sebagai hari Sabat kita. Namun Perjanjian Baru mengajarkan bahwa setiap hari adalah baik dan bisa dipilih untuk menjadi hari Sabat kita (Lihat Roma 14:5-6). Yang penting kita memiliki satu hari dalam satu minggu dan mencoba sebisa mungkin memegang hari yang sama dari minggu ke minggu untuk Sabat kita itu. Bagus kalau pada hari Sabat kita bisa beribadah dan bersekutu dengan sesama karena itu hari Minggu menjadi pilihan banyak orang percaya. Namun para pendeta dan pengerja lain punya banyak tugas pada hari Minggu sehingga mereka sulit mempraktekkan Sabat pada hari itu.

Pada hari Sabat bukan berarti kita melakukan apapun yang kita suka di luar pekerjaan dan tanggung-jawab rutin kita. Hari Sabat didedikasikan kepada Tuhan. Sekali pun kita santai dan menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman, kita memelihara fokus kita kepada Dia.

Sabat merupakan kesempatan yang baik untuk merefleksikan hidup kita. Bagaimana kita telah menjalani hari-hari kita? Apakah masih dalam jalan-jalan-Nya? Apa yang perlu kita koreksi? Apa yang perlu kita tambahkan?

Banyak penulis Kristen menyarankan orang percaya menyisipkan ‘jam Sabat’ atau ‘menit Sabat’ di berbagai waktu kita, di luar ‘minggu Sabat’ yang 24 jam itu. Anugerah Sabat itu bukan sekedar istirahat tapi gaya hidup bekerja dan istirahat dalam keseimbangan yang baik. Sabat mengisi ulang ‘batere’ hidup kita secara utuh – kerohanian, emosi dan fisik – untuk hidup sehat seutuhnya, sehingga hidup kita produktif bagi kemuliaan nama-Nya. Apakah Anda menerima anugerah Sabat? Apakah Anda memperhatikan hari Sabat? Tuhan Yesus memberkati!

Recommended For You

About the Author: Ev Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *