Ornamen Natal Dan Gerakan Intoleransi

Penulis : Redaksi | Mon, 19 December 2016 - 23:35 | Dilihat : 854

Menjelang Natal dan mungkin akan berlanjut menjelang tahun baru nanti, masyarakat Indonesia bakal diramaikan dengan aksi “aneh bin ajaib” kaum intoleran (baca: radikal) yang sangat ngeri melihat “ornamen Natal” (?) karena dikhawatirkan bisa mengganggu akidah.

Saya sengaja menulis ornamen Natal dengan tanda tanya (?)di belakangnya sebab tutup kepala merah putih ala Santa Claus, pohon cemara yang dihiasi lampu kerlap kelip, kapas (salju), kereta rusa bertanduk, bintang, lilin dan sebagainya bukan bagian dari simbol – apalagi iman – kekristenan.

Sebagai orang Kristen, sungguh saya tak menganggap penting itu semua. Meminjam bahasa anak muda sekarang (maaf) “prettt”-lah dengan simbol-simbol (hiasan) yang membuat kelompok radikal ketar-ketir dan menganggap ornamen itu sebagai bagian dari iman orang yang mereka benci  sehingga harus dihormati oleh orang Kristen dan wajib dipajang menyambut Natal.

Ayah (almarhum) saya adalah  seorang  pendeta. Beliau tidak pernah mengajarkan anak-anaknya bahwa pohon natal, salju, bintang, lilin, rusa bertanduk  yang sedang menarik kereta, Sinterklas, dan sebagainya identik dengan Kristen dan bagian dari “iman” atau perangkat kekristenan.

Menjelang Natal, di rumah tidak ada tradisi memasang pohon natal. Sampai saat ini saya juga tidak pernah memasang pohon natal. Buat saya, pohon natal dan semacamnya identik dengan Eropa. Saya adalah orang Indonesia asli. Pohon padi mungkin lebih cocok dipasang di rumah menjelang Natal daripada pohon cemara yang diberi hiasan kapas sebagai pengganti salju.

Ayah cuma  mengajarkan hanya satu simbol yang berkorelasi dengan kekristenan, yaitu salib. Mengapa? Karena lewat salib-lah, orang Kristen diingatkan akan penderitaan Yesus.  Melalui salib, orang Kristen diajak untuk memahami dan merasakan bagaimana Yesus dihina, difitnah, dizolimi, disiksa hingga mati.

Oleh sebab itulah bagi banyak orang Kristen (bahkan semuanya) mengatakan “kita harus siap memikul salib” saat dalam kehidupan nyata mengalami penderitaan, difitnah, dizolimi, dilecehkan dan diperlakukan tidak adil. Umat Kristen di Indonesia saat ini mungkin sedang merasakan “memikul salib” ketika kelompok intoleransi sedang merajalela.

Kembali ke soal aksi para kaum radikalis. Sebagaimana tersiar melalui pemberitaan di media massa (mainstream), media sosial hingga what’s app (WA), para kaum radikal yang disebut-sebut pemilik sorga itu kini sedang bersukacita merazia pusat-pusat perbelanjaan di banyak kota. Di sana mereka mempreteli spanduk dan hiasan bernuansa Natal. Mereka bahkan memaksa para karyawan pusat perbelanjaan melepas atribut yang dianggap identik dengan Natal kaum kafir (?).

Kaum radikal “pemilik sorga” itu juga telah menyiapkan draf surat pernyataan untuk ditandatangani para penanggung jawab (pemilik) pusat-pusat perbelanjaan yang isinya tidak akan meminta para karyawannya mengenakan atribut atau ornamen natal (?).

 Buat sebagian besar masyarakat, khususnya kaum cerdik pandai, aksi “heroik” kaum radikal di atas adalah “hiburan” menjelang akhir tahun. Namun, aksi seperti itu sekaligus membawa keprihatinan, “kok masih begitu banyak warga di negeri ini yang bangga memelihara kebodohan.”

Jujur, saya tidak tahu apa yang harus kita lakukan – juga pemerintah lakukan – untuk memintarkan kaum radikal itu. Aksi mereka memang telah mengundang reaksi kecaman dan penyesalan, bahkan dari orang-orang yang seiman dengan kelompok intoleran tersebut. Tapi, seperti apa pun kecaman yang disampaikan, menurut saya, justru malah membuat aksi mereka semakin menjadi-jadi.

Ada baiknya semua pihak terkait saling berdialog dan terbuka. Oleh sebab itu saya memberikan apresiasi kepada Pdt Dr Jan Aritonang, guru besar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta,  yang telah menulis surat kepada Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang memberikan wacana dan mengkritisi fatwa MUI Nomor 56 tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim.

Dalam suratnya, Jan Aritonang menulis bahwa di dalam fatwa tersebut tidak secara rinci disebut apa-apa saja yang dimaksud dengan atribut atau simbol keagamaan non-muslim yang dinyatakan haram, kendati pada keputusan, butir ketentuan umum, dinyatakan bahwa “dalam Fatwa ini yang dimaksud dengan atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.”

Kendati tidak disebut secara rinci, Aritonang mengatakan, dapat diduga bahwa yang dimaksud adalah pernik-pernik hiasan yang digunakan banyak orang untuk merayakan Hari Natal, misalnya: pohon terang dengan berbagai hiasannya, bintang, lonceng, topi sinterklas, topi bertanduk rusa, kereta salju, lilin, dan sebagainya.

Nah, betul kan? Sampai sekarang gereja Kristen yang terdiri dari berbagai aliran dan organisasi, menurut Aritonang, belum pernah membuat konsensus tentang atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu.

Konkretnya, apa yang disasar kelompok radikal itu, tidak ada berkait dengan natal. Ornamen-ornamen itu dipasang tidak lain adalah untuk menyemarakkan bisnis “dalam rangka” Natal dan Tahun Baru. Tak ada sama sekali dengan iman, apalagi bermotifkan mengganggu akidah umat lain.

Masih menurut Aritonang, bahkan ada juga gereja yang tidak merayakan Natal dan tidak menggunakan simbol salib. Atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di Barat (Eropa dan Amerika), yang kemudian disebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Benar apa yang dikatakan Aritonang, di komunitas gereja Kristen Jawa, ada pendeta yang tidak pernah menggunakan toga hitam (khas Belanda) saat berkhotbah, tapi mengenakan pakaian Jawa (beskap) dan berblangkon. Ada juga pendeta yang setiap hari mengenakan peci (kopiah).

Di gereja saya (Gereja Kristen Jawa Tangerang), ada anggota panitia natal yang bingung mencari pakaian orang Majus dan gembala (ala Timur Tengah) sebagai simbol untuk memberikan persembahan palungan pada ibadah Natal.

“Ngapain repot-repot. Pakai saja pakaian petani khas orang Jawa,” kata saya. Saran saya disetujui.

Kaum intoleran tidak percaya? Silakan datang ke gereja saya pada 25 Desember. Lihatlah, kalian tidak akan temukan hiasan natal (?) seperti di mal-mal yang membuat kalian bergidik dan meradang. Di gereja saya, kalau pun ada pohon natal, bukan berupa pohon cemara atau sejenisnya, tetapi pohon terbuat dari gelas plastik bekas air mineral.

Panitia natal hanya menyiapkan hiasan berupa kandang domba (kambing). Nah, ini baru simbol natal, sebab Yesus pada saat itu memang lahir di kandang kambing. Kalau Anda konsisten dengan “iman” kalian,  obrak-abriklah itu kandang tetangga kalian yang memelihara kambing. Tapi jangan lupa, ajak polisi untuk mengawal.[]

Gantyo Koespradono

*Penulis adalah Wartawan Senior

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top