Khotbah Populer

Undangan Bagi Orang Yang Berbeban Berat

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 14 April 2009 - 11:58 | Dilihat : 6098
Tags : Spiritual Kristen

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait
 
REFORMATA --Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu…” Demikian undangan Yesus dalam Matius 11: 28-30. Undangan yang luar biasa, simpatik, dan pasti menjadi impian setiap orang. Undangan Yesus ini jelas beda dengan undangan kita, karena ditujukan kepada orang-orang yang punya masalah. Sementara yang kita undang biasanya orang yang tidak berbeban berat, yang dinilai layak memberikan nilai bagi pengundang.  
Mari kita pikirkan. Siapa yang mengundang? Yesus Sang Juru Selamat. Siapa yang diundang?  Mereka yang letih, lesu, berbeban berat, tertimpa berbagai kesulitan, dan ingin mengalami kelepasan dan kelegaan. Apa syarat undangan-nya? Sederhana saja, yakni mau percaya kepada Sang Pengun-dang, dan percaya bahwa Sang Pengundang mampu mengaktuali-sasi undangannya.
Jika undangan ini datang dari orang yang hanya mengambil keuntungan, yang kita dapat adalah kekecewaan. Tetapi menjadi berbeda ketika undangan itu dari Yesus Kristus, yang tak mengambil untung, bahkan “rugi”, karena Dia harus mengorbankan diri, disalibkan, memberikan nyawa-Nya untuk orang yang diundang-Nya. Secara hitungan  manusia Dia rugi, tetapi cinta kasih-Nya membuat itu semua bisa terjadi.
Cinta kasih yang luar biasa.
Mari kita berhenti sejenak untuk merenung: Sudah berapa pan-jang langkah kita untuk melewati hari-hari untuk menemukan ketenangan? Sudah berapa variasi atau usaha yang kita kerjakan untuk menuai damai sejahtera atau kebahagiaan? Mungkin kita mencoba meraihnya dengan banyak cara, termasuk “usaha keagamaan”. Tetapi secara jujur kita harus berkata bahwa kita tidak pernah menemukan ketenangan. Kita tidak pernah mene-mukan kelegaan karena yang ada justru hanya beban, pindah dari satu beban ke beban lain.   

Kita terjebak, tampak sangat agamawi, seperti mengalami ketenangan kepuasan dan kelegaan, tetapi dalam batin yang paling dalam kita letih, lesu, menanggung beban berat. Jangan memperpanjang persoalan hidup, jangan menambah beban, entah karena sakit, kesulitan, entah karena pekerjaan, masalah keluarga atau apa pun. Belajar untuk datang kepada Tuhan. Mungkin kau merasa sudah lama berdoa. Entah sudah berapa pendeta yang menumpangkan tangan di atas kepalamu. Entah sudah berapa banyak khotbah yang kau dengar, dari yang biasa-biasa sampai yang menjanjikan kasih karunia, tetapi kau tetap letih lesu dan berbeban berat. Tentu saja kau letih lesu dan berbeban berat karena sejatinya kau tak pernah mencari Dia, Sang Juru Selamat. Kau hanya mau yang enak dari Dia, dari karya-Nya, tetapi kau tidak pernah mencari Tuhan yang sejati itu.
Kelepasan itu tidak tergantung pada pendeta, pengkhotbah. Mereka cuma alat. Belajarlah dari ayat 29: “Pikullah kuk yang dipasang-Nya...” Apa itu kuk? Kuk adalah kayu lengkung yang ditaruh di leher sapi atau kerbau, untuk menarik bajak atau gerobak. Ketika Dia berkata, “Pikullah kuk yang Ku-pasang, belajarlah daripada-Ku…”, artinya kita belajar apa yang menjadi kehendak-Nya, dan menaatinya. Dan jangan lupa, kuk itu menempel pada diri kita. Jadi, kita tak boleh melepasnya.

Bukankah kuk yang Dia pasang itu suatu beban, menggandoli, padahal kita membutuhkan kelegaan, kelepasan, ketenangan? Tetapi dengarlah yang Dia katakan, “Pikullah kuk yang Kupasang, belajar pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati”. Dia bukan diktator yang membebani kita, yang menambah kepahitan. Dia lemah lembut dan rendah hati. Oleh karena itulah jiwamu mendapat ketenangan ketika bersama Dia, melaksanakan kehendak-Nya. Jiwa kita tenang justru ketika memikul kuk itu, karena kuk yang dipasang-Nya itu enak, dan beban yang ditaruh itu ringan. Apa artinya? Kuk itu sebenarnya melukiskan ketetapan-ketetapan  firman hidup itu. Itu tidak membuat kita menjadi sakit. Karena itulah yang akan membe-baskan kita dari berbagai problem. Kuk itulah firman yang ditanam di dalam hatimu. Kuk itu membebani tetapi bukan untuk mematikan, tetapi memberi kelegaan, kenik-matan yang luar bia-sa. Karena firman yang hidup itu me-nolongmu untuk lepas dari persoalan.

Kebebasan yang sejati
Banyak remaja, di tengah pencarian identitas beranggapan bahwa ikut Tuhan itu tidak enak, tidak bebas, banyak aturannya. Ini jelas salah, sebab justru kalau kau tidak belajar firman maka kau tidak bebas. Sebaliknya, kalau kau belajar dan mengikutinya, justru kau bebas. Mengertikah kau arti “bebas”? Mana ada kebebasan yang sejati. Bebas karena tidak ikut firman Tuhan, bagaimana mungkin? Karena ketika kau tidak ikut firman,  maka kau akan melakukan kehendak setan. Mungkin dengan gagah perkasa kau membunuh orang. Ujungnya, penyesalan. Mungkin kau mabuk tertawa-tawa, tetapi akhirnya menyesal. Karena apa? Karena sejatinya kau tidak bebas. Kau justru diperangkap oleh keinginan bejat. Tetapi dengan Tuhan, kau tidak akan menjadi pemabuk atau penjahat. Bersama Tuhan, kau tidak akan melakukan hal-hal yang menghancurkan masa depan. Justru dengan Tuhan dalam firman-Nya, kau menemukan kemerdekaan, masa depan gemilang.
Karena itu, datanglah kepada Dia. Berseru dan minta tolong pada-Nya. Tetapi jangan dalam kemunafikan, melainkan dalam kejujuran. Belajarlah mengakui kebebalanmu selama ini karena merasa bisa hidup dengan kemampuanmu, atau metode keagamaanmu. Minta ampun atas kebodohanmu karena selama ini kau justru mempercayakan dirimu kepada orang yang membawa-bawa nama Juru Selamat, mencatut dan memperjualbelikannya untuk keuntungan diri sendiri.
Tuhan mengasihimu. Dan kalau kasih itu sampai dalam batinmu mana mungkin tak ada kesukaan dalam batinmu. Karena itu, jika Saudara punya beban berat, letih dan lesu, datang pada firman hidup, bergaul dengannya.  Bukan karena membaca 2-3 ayat maka penyakitmu sembuh, atau rejekimu bertambah. Ayat itu bukan mantera. Tetapi semakin dalam kau merenungkannya, semakin dalam kau mengenal Dia, semakin kuat akar pemahamanmu akan Dia, makin bahagialah hidupmu, makin legalah jiwamu.
Selamat menerima undangan, selamat menghadiri perjamuan kemenangan Yesus Kristus Tuhan, sekarang dan nanti, di sini dan di kekekalan. Amen.

(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan )
    
 

Lihat juga

Komentar


Group

Top