Temu Pelayanan Lembaga Kristen Bahas Kebutuhan Kaum Tuna Rungu

Penulis : Redaksi | Thu, 19 January 2017 - 18:05 | Dilihat : 501

Reformata.com, Jakarta- Dukungan pelayanan rohani terhadap penyandang disabilitas di Indonesia, khususnya bagi jemaat yang mengalami gangguan pada indera pendengaran (tuna rungu), hingga kini terasa masih sangat minim. Sejumlah kendala juga menjadi penghambat bagi kaum tuna rungu dalam mengakses pelayanan rohani. Merespon sejumlah permasalah tersebut pada tanggal 17-19 Januari 2017 Yayasan Suluh bekerjasama dengan Asia Pacific Sign Language Development Association (APSDA) mengadakan “Temu Pelayanan Alkitab Bahasa Isyarat Indonesia” yang berlangsung di Wisma PGI, Menteng, Jakarta Pusat.

“Perhatian terhadap kaum tuna rungu masih sangat sedikit. Ini adalah pertemuan tahunan APSDA, jadi anggota APSDA dari Asia dan Pasifik datang ke sini untuk bersama-sama memikirkan bagaimana nanti pelayanan kaum tuna rungu di Indonesia,” tutur Ketua dari Yayasan Suluh Insan Lestari, Pdt. Tantono, saat ditemui Reformata di lokasi acara (18/1).

Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) diakui Pdt. Tantono sebagai kendala yang amat terasa dalam  pelayanan rohani bagi kaum tuna rungu. Di Indonesia sendiri, lebih lanjut Pdt. Tantono mengatakan, terdapat dua jenis bahasa isyarat yang digunakan. Namun, di kedua jenis bahasa isyarat tersebut belum terdapat standarisasi bahasa isyarat yang berkaitan dengan Alkitab. Untuk itulah melalui pertemuan tersebut Yayasan Suluh bekerjasama dengan sejumlah komunitas dan lembaga terkait berupaya memberikan sebuah solusi nyata.

“Kaum tuna rungu memiliki bahasa sendiri, bahasa isyarat. Kami ingin membuat standar dulu bersama kawan-kawan ini, agar orang-orang tuna rungu di seluruh Indonesia bisa dilayani,” imbuh Pdt. Tantono.

Sementara itu salah seorang pelaksana acara “Temu Pelayanan Alkitab Bahasa Isyarat Indonesia”, Veni Setiawati, mengatakan bahwa salah satu kendala mendasar yang dihadapi oleh kaum tuna rungu adalah sedikitnya jumlah gereja yang melayani kebaktian bagi kaum tuna rungu, dan sedikitnya SDM Kristen yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Dari keterangan Veni, meski  kaum tuna rungu mendapatkan pelajaran membaca gerakan bibir (oral) di Sekolah Luar Biasa (SLB), namun tetaplah menjadi kendala ketika mereka datang ke gereja dan mengikuti ibadah bersama dengan manusia normal lainnya.

“Disaat kebaktian mereka harus membaca gerakan bibir, tapi kan posisinya jauh (dari Pelayan Firman). Kalau begitu bagaimana mereka bisa “mendengar” Firman Tuhan secara utuh? Mereka memang memiliki kemampuan untuk membaca Alkitab. Tetapi Bahasa di Alkitab itu tinggi, buat kita yang normal saja kadang tidak tahu artinya,” kata Veni sembari memberikan gambaran beberapa kosa kata rumit yang terdapat di Alkitab.

Lebih lanjut, Veni menambahkan, sampau saat ini telah ada tim yang bekerja untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa isyarat guna menjangkau kaum tuna rungu. Melalui beberapa video berdurasi pendek para kaum tuna rungu diharapkan medapatkan pemahaman tentang Firman Tuhan, lengkap dengan penerjemah yang menggunakan bahasa isyarat.

“Jadi saat ini ada tim dari InSL (Indonesia Sign Language), sama-sama menerjemahkan Alkitab dalam bahasa isyarat. Tetapi dimulai dengan cerita terlebih dahulu, cerita-cerita tentang Yesus. Dalam waktu efektif dua tahun, tim ini sudah menyelesaikan lima belas cerita. Bukan hanya tentang Yesus, tetapi juga ada tentang Lazarus dan lainnya, yang semuanya dalam bahasa isyarat,” tutup Veni.

Acara "Temu Pelayanan Alkitab Bahasa Isyarat Indonesia" dihadiri oleh sejumlah peserta yang berasal dari interdenominasi gereja di wilayah Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Peserta dari sejumlah Negara juga nampak hadir dalam pertemuan itu, seperti Jepang dan Filipina. *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top