Konsultasi Theologi

Roh Kudus Atau Insting Rohani?

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 15 April 2009 - 10:03 | Dilihat : 4775
Tags : Artikel Doktrin Roh Kudus Isu Kontemporer

Terkait


Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter: @bigmansirait

Reformata.com- Bapak Pengasuh yang terhormat, lewat tabloid ini saya ingin bertanya: 1) Bagaimana cara Roh Kudus bekerja? Ada yang mengatakan bahwa  Roh Kudus itu bekerja dalam kata-kata langsung pada kita.  2) Apakah insting rohani/kepekaan itu dianggap sebagai pekerjaan Roh Kudus? 3) Bagaimana jika kepekaan itu selalu benar dan tepat, apakah itu bisa dipakai sebagai patokan untuk memahami kehendak Tuhan? Terimakasih atas jawaban Bapak
Anton
Karawaci

ANTON yang dikasihi Tuhan,  saya senang atas  pertanyaan Anda. Adalah penting untuk memahami dengan benar apa yang dikatakan Alkitab, sehingga kita tidak salah mengerti. Isu tentang Roh Kudus memang sangat ramai akhir akhir ini, walau-pun Alkitab sebenarnya sangat jelas membicarakannya. Sayang-nya, banyak sekali terjadi sinkre-tisme dalam pemahaman tentang Roh Kudus. Misalnya seperti yang Anda tanyakan sendiri, di mana karya Roh Kudus dianggap sebagai insting rohani.  

Mari kita mulai dengan kata “insting”. Dalam Kamus Besar Ba-hasa Indonesia (KBBI), insting dise-but sebagai pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yang diba-wa sejak lahir, atau apa yang biasa disebut naluri. Pembentukan hal ini sangat berkaitan erat dengan pola hidup keluarga, atau lingkungan seseorang yang sangat berpe-ngaruh. Dalam konteks psikologi, ini menjadi daya dorong utama pada manusia dalam kelangsungan hidupnya. Jadi, ini betul betul potensi diri yang ada pada setiap manusia. Soal kuat atau lemahnya, itu bersifat relatif, tergantung pada kondisi tiap pribadi. Sementara Roh Kudus adalah kekuatan dari luar diri, yaitu dorongan oleh Roh Kudus sendiri. Maka jelas sekali Roh Kudus itu bukan insting rohani. Istilah insting rohani mengacu pada naluri yang bersifat keroha-nian. Sementara kerohanian sese-orang sangat variatif. Tapi sekali lagi, ini tidak ada korelasi langsung dengan karya Roh Kudus. Me-ngapa? Karena “kerohanian” sese-orang juga bersifat relatif, sa-ngat subjektif, tergantung pada pengertiaannya ten-tang keutuhan kebenaran.

Jadi seseorang yang belajar rohani di lingkungan yang biasa dengan situasi mende-ngar suara Tuhan, maka jangan heran jika dia merasa sangat peka pada suara Tu-han, sekalipun belum tentu. Tetapi itu adalah keyakinan diri yang sudah terbentuk, dan diberi jubah rohani, dan “dirohanikan”. Hal ini telah sangat mendominasi naluri-nya, apalagi mayoritas kegiatan-nya memang di “dunia rohani”. Ini juga sangat berkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang. Jadi, sekali lagi, karya Roh Kudus bukan insting rohani.
Nah, jika begitu lalu apa yang dimaksud dengan karya Roh Kudus? Dengan jelas dalam Perjanjian Lama, dikatakan Roh Allah mela-yang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1: 2), yang berarti mem-persiapkan penciptaan. Kemudian dalam ayat 26 dikatakan, “Baiklah Kita (Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, yang esa itu—penulis) menciptakan manusia menurut gambar dan rupa KITA”. Nah, jelas Roh Kudus terlibat dalam pencip-taan, karena memang Dia adalah Allah itu. Lalu Roh Kudus yang juga disebut Roh Allah, Roh Tuhan, me-nolong para nabi untuk berbicara atas nama Tuhan, atau juga memberikan kemampuan khusus bagi seseorang untuk menjalankan tugas khusus dari Tuhan.

Lalu dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus itu dijelaskan agar semakin jelas, bahwa Dia adalah pribadi/seorang penolong (Yohanes 14: 16). Roh Kudus berkarya dalam hidup manusia untuk menginsafkan manusia akan dosa karena tidak percaya kepada Yesus Kristus (Yohanes 16: 8-11). Lalu Roh Kudus yang sama juga yang akan memberikan kepada manusia ke-mampuan untuk mengakui bahwa Yesus Kristus itu adalah Tuhan (1 Korintus 12: 3). Tidak ada manusia yang sadar akan keberdosaannya jika kalau bukan karena Roh Kudus. Dan juga, tidak ada manusia yang bisa percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan jika bukan karena Roh Kudus.
Jadi sangat jelas, karya utama Roh Kudus dalam Perjanjian Baru adalah menyadarkan, memulihkan, dan membawa manusia sebagai yang terhilang untuk kembali kepada Sang Pencipta. Manusia dikembalikan kepada gambar dan rupa yang semula. Roh Kudus juga yang memimpin manusia untuk berjalan di dalam kebenaran Firman (Yohanes 16:13). Tidak ada orang percaya yang bisa hidup benar tanpa pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus juga yang akan meng-hibur orang percaya yang dalam tekanan kehidupan, sehingga orang percaya kuat menanggung-nya. Seluruh perjalanan hidup orang percaya untuk dipersekutukan secara sempurna dengan Allah di dalam kekekalan, adalah karya Roh Kudus. Roh Kudus memelihara kehidupan semua orang percaya.

Pertanyaan, “Apakah Roh Kudus itu bekerja dengan kata-kata”, jawabannya jelas, bisa “ya”, dan bisa juga “tidak”. Ingat ketika Anda berjalan di jalan yang benar, berani memilih yang benar, itu adalah pertolongan Roh Kudus, dan di sana tidak ada suara suara. Tapi bisa saja ketika berpikir dan meren-canakan yang tidak baik, tiba tiba ada suara yang begitu jelas pada hati nurani kita yang berkata, “Jangan!” Tapi ingat, suara itu bukan pada telinga melainkan lebih kepada batin kita.
Jadi, kebiasaan ingin mendengar suara Roh Kudus, agak kurang pas dengan ajaran Alkitab yang sudah jelas, kecuali memang orang malas membacanya. Juga mendengar suara Roh seringkali dianggap sangat rohani, padahal Alkitab itu terang benderang, Jika tidak, maka itu berarti Firman Tuhan tidak sempurna. Bacalah Alkitab, maka Roh Kudus akan memberi pence-rahan untuk memahami maksud Tuhan dengan jelas.

Soal bagaimana jika kepekaan seseorang selalu tepat, dan apakah itu bisa dipakai sebagai patokan memahami kehendak Allah, jawaban saya jelas, “tidak bisa!” Patokan kehendak Allah jelas Alkitab (band. Mazmur 119:105, 2 Timotius 3:16-17), jadi bukan pengalaman ketepatan. Di sisi lain, saya kurang sependapat dengan kata-kata “kepekaan yang selalu tepat”, mungkin yang dimaksud adalah kebanyakan tepat. Karena jika selalu te-pat itu malah menunjukkan betapa yang bersang-kutan bukan manusia biasa. Bahwa kalau itu pe-ngakuan atau kesaksian sese-orang, maka perlu diuji, tidak bisa serta-merta diterima. Rasul saja seringkali harus rapat bersama untuk memutus sesuatu mengenai kepu-tusan pelayanan. Nabi Samuel ter-nyata tidak tahu siapa yang Tuhan pilih untuk menjadi raja dari keluarga Isai, untuk menggantikan Saul.
Akhirnya, Anton saudaraku yang dikasihi Tuhan, selamat terus mem-baca REFORMATA, dan semoga jawaban ini boleh menjadi berkat.
 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top