Kedubes Palestina Sampaikan Pesan Perdamaian

Penulis : Redaksi | Wed, 1 February 2017 - 18:05 | Dilihat : 284
dubes-palestina-di-natal.jpg
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Palestina, Taher Ibrahim Abdallah Hamad (berdiri di mimbar) saat menyampaikan pesan perdamaian di hadapan perwakilan pemuda Kristen se-Indonesia (30/1). Foto: Ronald

Reformata.com, Jakarta- Kuasa Usaha Kedutaan Besar Palestina untuk Republik Indonesia, Taher Ibrahim Abdallah Hamad,  menyerukan pesan perdamaian dan toleransi kepada masyarakat Indonesia saat menghadiri acara “Natal dan Tahun Baru Bersama Pemuda Kristen se-Indonesia”, di GBI Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta Utara (30/1). Dalam kesempatan itu ia sekaligus menepis adanya pandangan bahwa konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel selama puluhan tahun berdasarkan agama.

“Di Palestina, umat Muslim dan Kristen hidup harmonis dan saling toleran. Isu yang ada di Palestina itu bukan tentang agama, ini adalah masalah tanah (wilayah),” ujar Hamed.

Hamed menjelaskan bahwa konflik yang terjadi bermula ketika penduduk asli Palestina mulai tersingkir sejak pendudukan pemerintah kolonial Inggris di Tepi Barat. Sejak saat itulah pemerintah Inggris membawa orang-orang Yahudi dari Eropa untuk menempati wilayah Palestina, dan menyebabkan tersingkirnya rakyat Palestina dari tanahnya sendiri. Namun, Hamed menambahkan, saat ini yang menjadi prioritas rakyatnya adalah merajut perdamaian dengan Israel.

“Kami rakyat Palestina menginginkan hidup yang damai dengan orang-orang Israel. ‘Solusi Dua Negara’, jadi ada Palestina di sini, lalu Israel di sana,” katanya.

Pejabat pelaksana tugas Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia itu juga mengatakan, bahwa toleransi merupakan budaya yang sangat mengakar di Negara asalnya, di mana antar sesama umat beragama menunjukan sikap saling menghormati. Sebagai contohnya terlihat ketika bulan puasa dimana banyak orang Kristen Palestina secara sukarela membangunkan umat Muslim untuk ibadah Sahur, ataupun membagikan makanan saat waktu berbuka puasa tiba.   

“Negara kami adalah Negara sekuler. Orang Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan tanpa perbedaan,” imbuh Ahmed. *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top