Rocker Korea Gunakan Cara Unik Dalam Berbagi Kasih

Penulis : Redaksi | Thu, 2 March 2017 - 17:20 | Dilihat : 470
paul-kim-boohwal-edit.jpg
Gitaris band rock Boohwal, Paul Kim Tae Won (kiri), bersama sang istri. Foto: ucanews.com

Reformata.com, Seoul- Personel band rock sering kali diidentikan sebagai simbol dari kebebasan dan gaya hidup bebas. Seiring dengan semakin tebalnya pundi-pundi yang mereka miliki, maka cara hidup penuh kemewahan acap kali melekat dengan diri para personel band rock. Namun pemandangan yang amat berbeda justru ditunjukan oleh Paul Kim Tae-Won, seorang gitaris band rock terkenal asal Korea Selatan, Boohwal. Disaat banyak musisi rock lain memilih jalan hidup yang penuh dengan kesenangan duniawi, Paul Kim justru menjawab panggilan hatinya untuk berbagi dengan kaum difabel dan autisme. Cara ia berbagi kasih pun tak kalah unik, yakni dengan menghimpun dana hasil dari penjualan Rosario yang ia lakukan sendiri bersama sang istri, Pauline Lee Hyun- Joo.

“Saya membuat Rosario itu ingin berbagi kasih karunia Allah kepada orang lain karena kasih karunia Allah adalah abadi,” ujar Pauline Lee, seperti dikutip dari ucanews.com.

Paul Kim dan Pauline Lee memiliki seorang anak penyandang autisme. Keadaan itu mendorong mereka untuk semakin gigih dalam membagikan kebahagiaan kepada banyak orang, melalui penjualan Rosario yang dibuat sendiri oleh Pauline. Setiap harinya Pauline mampu membuat 15 buah Rosario dan telah memulai pekerjaan itu sejak 10 tahun silam. Bahan-bahan dibeli oleh sang suami, termasuk manik-manik yang mereka datangkan dari Filipina.

“Saya mulai merasa bahagia dengan membuat dan membagikan Rosario kepada sesama. Saya berdoa sambil membuat Rosario dan merasa lebih bahagia ketika saya membagikannya kepada orang lain,” kata Pauline sembari menanamkan motto “Rosario Berbagi Kebahagiaan” dari pekerjaan yang sedang mereka lakukan itu.

Lebih lanjut, Pauline juga menuturkan bahwa ada kesembuhan yang ia terima ketika membuat Rosario-Rosario itu. Penghakiman orang atas anak-anak difabel amatlah menyakiti hatinya, namun semua luka itu dipulihkan seiring ia bertekun dengan tugas mulia yang sedang jalankannya saat ini, bersama dengan sang suami.

Perlahan, banyak orang yang memburu Rosario karya Pauline. Setelah yakin dengan pekerjaannya itu, ia mulai menjual Rosario dengan menitipkan di pelbagai tempat doa dan paroki-paroki yang ada di Korea, guna mengumpulkan dana bagi pusat anak-anak autisme.

“Saya berharap masyarakat bisa merawat anak-anak autis seperti anak saya bahkan setelah kami meninggal. Setidaknya, saya berharap anak kami tidak akan menerima penghakiman. Melalui Rosario kami, saya berharap, ini menjadi langkah kecil menuju perawatan kaum difabel dengan lebih baik,” imbuh Paul Kim.

Demi memudahkan penjualan Rosarionya, Pauline juga meminta bantuan dari Toko dan Penerbitan Katolik Keuskupan Agung Seoul yang memiliki jaringan distribusi menjual Rosarionya. Saat ini Rosario buah karya Pauline Lee bisa ditemukan di Katedral Myeongdong serta di pusat kegiatan umat Katolik lainnya di Kota Seoul.

“Saya berharap banyak umat Katolik membeli dan menyumbang untuk perjuangan mereka,” kata Pastor Hong Seong-Hak, dari Toko dan Penerbitan Keuskupan Agung Seoul, yang tersentuh dengan ketulusan hati Paul Kim dan Pauline Lee. *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top