Pastur Jepang Sampaikan Permohon Maaf Atas Dosa Masa Lalu Negaranya

Penulis : Redaksi | Tue, 14 March 2017 - 14:14 | Dilihat : 676
pastur-nakai-edit.jpg
Pastur Nakai dari Provinsi Shimonoseki, Jepang, saat menyampaikan permohonan maaf atas dosa masa lalu yang pernah dilakukan negaranya. Foto: The Catholics Times of Korea

Reformata.com, Seoul- Selama Perang Dunia (PD) II berkecamuk tentara Jepang dikenal dengan perilaku kejam, terutama di wilayah yang menjadi koloni dari Kekaisaran mereka. Kekejaman ini dimanifestasikan dalam pelbagai bentuk seperti Romusha (kerja paksa) hingga kekerasan seksual. Kisah kelam yang menjadi bagian dari sejarah negeri berjuluk “Matahari Terbit” itu rupanya mengusik hati Pastur Jun Nakai, seorang Imam Yesuit asal Provinsi Shimonoseki, Jepang. Dalam sebuah Misa Mingguan untuk mencari “Keadilan bagi Mantan Wanita Penghibur” yang digelar di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul, Korea Selatan, ia menyampaikan permohonan maaf atas dosa masa lalu yang pernah dilakukan oleh negaranya itu.

“Setelah saya mengetahui semua tindakan salah tersebut, hati saya terasa sakit,” ujar Pastur Nakai di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul, bertepatan dengan momen Hari Rabu Abu silam, dikutip dari laman ucanews.com.

Sebagai bentuk protes atas dosa masa lalu Jepang, sejumlah aktivis di Korea Selatan mendirikan sebanyak 37 patung “Wanita Penghibur” yang terbuat dari perunggu. Patung perempuan tanpa alas kaki dalam posisi duduk di bangku itu merupakan sebuah simbol ketidakadilan yang dialami oleh kaum perempuan Korea selama Jepang menduduki Negara itu.  Ke-37 patung ini adalah representasi dari 37 korban perbudakan seks tentara Jepang yang masih hidup. Patung-patung itu tersebar di seluruh wilayah Korea Selatan. Dua di antaranya berada di luar Kedutaan Besar Jepang di Seoul, dan di luar Konsulat Jepang di Busan.

“Ketika saya kembali ke Jepang, saya akan mencoba membuat Jepang ingat sejarah yang kejam dan membangun masa depan dengan mendirikan patung-patung di dalam hati setiap orang Jepang,” kata Pastur Nakai mengacu kepada kehadiran patung-patung tersebut.

Sementara itu Ketua Konferensi Tarekat Religius Pria Korea, Pastur Charles Ho Myeong-Hwan OFM, dilaporkan turut angkat bicara dan menyampaikan harapannya terkait hubungan dari kedua Negara di Asia Timur itu.

“Saya berdoa agar kebenaran terungkap terkait dengan wanita penghibur dan permintaan maaf dari pemerintah Jepang,” kata Pastur Myeong-Hwan.

Selama Perang Dunia II diperkirakan sebanyak 200.000 perempuan dipaksa menjadi “wanita penghibur” bagi tentara Jepang. Mereka berasal dari sejumlah wilayah pendudukan Jepang seperti Korea, Tiongkok, Filipina, Indonesia, dan sejumlah Negara lainnya. Pemerintah Jepang sendiri telah mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Korea Selatan untuk menyampaikan permohonan maaf, serta memberikan 1 Miliar Yen (Rp. 114 Triliun) sebagai kompensasi atas perbudakan seks yang mereka lakukan di masa silam.  *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top