Adik Ahok, Lihatlah Pemimpin Dari Kinerjanya

Penulis : Redaksi | Wed, 12 April 2017 - 17:43 | Dilihat : 324
basuri-t-purnama-edit.jpg
(Kiri-kanan) Ketua Germaspol PGIW DKI Jakarta Albert Siagian, pengamat politik Yunartho Wijaya serta mantan Bupati Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama, saat berdiskusi di kantor PGIW DKI Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur (11/4/2017). Foto: Ronald

Reformata.com, Jakarta- Dunia politik bagi sebagian orang sering dipandang sebagai dunia yang tak bisa lepas dari praktik manipulatif dan cenderung kotor. Namun melalui dunia politik pula seseorang dapat dipakai oleh Tuhan untuk memimpin dan melayani masyarakat luas, serta membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Ada pelbagai kriteria yang bisa digunakan sebagai tolak ukur seorang pemimpin. Salah satunya dengan melihat kinerja selama mengemban tugas memimpin rakyat. Pandangan itu disampaikan oleh adik kandung Ahok, yakni dr. Basuri Tjahaja Purnama M. Gizi., Sp. GK. Basuri menganalogikan, figur pemimpin yang tepat untuk dipercaya memerintah sebuah daerah layaknya seorang sopir yang akan mengemudikan sebuah kendaraan.

“Tidak mungkin kita berani kasih sopir baru untuk bawa mobil. Maka sopir yang berpengalaman jauh lebih baik daripada yang baru belajar (mengemudi),” ujar Basuri ketika berbicara di diskusi "Gereja, Masyarakat dan Politik" yang diadakan oleh Biro Germaspol Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah DKI Jakarta (PGIW-DKI Jakarta), Selasa sore (11/4/2017).

Di kesempatan itu Basuri juga menyampaikan bahwa ia meyakini atas perkenanan dan jalan Tuhan-lah maka seseorang bisa dipilih oleh rakyat untuk memimpin bangsa dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Ini pula yang dirasakannya ketika ia dipercaya oleh rakyat Kabupaten Belitung Timur untuk memangku tugas sebagai seorang Bupati, periode 2010-2015.

"Tapi saya tahu ini semua rencana Tuhan. Apa pun yang Tuhan siapkan, kalau kita oke, Tuhan akan atur. Nah soal terpilih atau tidak itu tergantung kerja di lapangan, tetapi juga Tuhan yang tentukan," imbuh Basuri.

Lebih lanjut Basuri menceritakan bahwa tak pernah terbesit di dalam benaknya sebuah keinginan untuk terjun ke dunia politik. Terlebih saat itu dirinya masih melayani masyarakat sebagai seorang dokter. Namun, pria yang akrab disapa dokter Yuyu ini menambahkan, pelbagai nasehat dari sang ayah tentang bagaimana cara memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui sebuah sistem, turut memberikan dorongan terhadap dirinya untuk masuk ke dalam pemerintahan.

“Waktu itu saya tidak punya keinginan di politik. Tapi ajaran papa saya soal masuk ke dalam sistem, merubah sistem, itu kita tahu persis. ‘Orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan lawan pejabat, mau lawan pejabat jadilah pejabat’. Kita tidak bisa teriak dari luar saja kalau mau merubah sistem, harus masuk ke dalam,” ujar Basuri menirukan wejangan sang ayah kepada dirinya ketika itu.

Basuri berujar ketika masuk ke dalam sistem barulah ia menyadari bahwa kehadiran seseorang yang memiliki jiwa untuk membangun, memajukan masyarakat, amatlah diperlukan. Jika tidak, maka Negara akan menghadapi kehancuran. Suami dari Linda Julistiani itu kembali mengatakan, aplikasi dari kebulatan tekad seorang pemimpin yang memiliki jiwa membangun masyarakat bisa dilakukan melalui pelbagai cara sederhana, seperti mewujudkan clean governance di dalam sebuah sistem, serta turun langsung untuk melakukan monitoring anggaran daerah yang akan digunakan.

“Saya bisa nungguin sampe ke bawah hanya untuk bahas anggaran, supaya bisa dicocokkan anggarannya, supaya nggak dicuri,” pungkas anggota tim percepatan realisasi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata Morotai, Maluku Utara, itu. *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top