Manajemen

Bagaimana Mengelola Waktu?

Penulis : Harry Puspito | Mon, 25 August 2008 - 15:24 | Dilihat : 2094

Ardo Ryan Dwitanto

 Pengelolaan waktu merupakan suatu keterampilan. Seseorang tidak mungkin memiliki kematangan dalam pengelolaan waktu tanpa berlatih. Latihan memerlukan ketekunan. Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun dilahirkan untuk menjadi seseorang yang buruk dalam mengelola waktu.

Tuhan ingin kita dapat mengelola waktu dengan baik (Efesus 5:16), sehingga jika kita ingin memiliki pengelolaan waktu yang baik, mintalah kepada Tuhan dan yakinlah Dia akan mengabulkannya. Apakah Saudara ingin dapat mengelola waktu dengan baik? Jika ya, maka Saudara dapat melanjutkan artikel ini, jika tidak Saudara dapat berhenti membaca di sini. Ini penting sekali! Untuk dapat mengelola waktu dengan baik dibutuhkan kemauan, bukan hanya sekadar tahu.

 

Satu tujuan

Kerapkali, saya menemukan orang-orang yang menghabiskan waktu-waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuannya. Ibarat seorang atlet yang menetapkan tujuan, yaitu merebut medali di olimpiade, namun sebagian besar waktunya tidak dipakai untuk berlatih.  

Menurut, budaya tertentu, hidup ini bagaikan roda. Kadangkala di atas, kadangkala pula di bawah. Pandangan ini akan membawa seseorang untuk melihat bahwa tujuan tidak diperlukan. Tentu, pandangan ini tidak sesuai dengan Alkitab! Firman Tuhan menyatakan bahwa hidup kita sebagai anak-anak-Nya mengarah kepada satu tujuan, yaitu serupa dengan Kristus: “For whom He foreknew (pra-tahu), He also predestined (ditentukan) to be conformed (serupa) to the image of His Son (Jesus Christ), that He might be the firstborn among many brethren.” (Roma 8:29, NKJV)

Sungguh menyedihkan bagi orang-orang yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Seumur hidupnya hanya mencari sebuah alasan mengapa dia hidup. Sebagian besar orang mengejar keinginannya. Mereka berpikir bahwa jika keinginan mereka terpenuhi, maka mereka akan memperoleh kebahagiaan dan hidup yang berarti. Hal itu tidaklah benar! Mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan hidup yang berati, bahkan mereka justru akan menjadi budak dari keinginan mereka sendiri seumur hidup mereka.

Jadi, sebagai anak-anak Tuhan, kita harus memprioritaskan seluruh kegiatan kita kepada segala hal yang dapat membuat kita serupa dengan Kristus.

 

Membuat jadwal kegiatan

Sebelum kita membuat jadwal, kita perlu mendaftarkan seluruh kegiatan-kegiatan kita. Tanyakan kepada Tuhan apakah semua kegiatan ini dapat membuat Saudara serupa dengan Kristus. Buang semua kegiatan yang Saudara lihat sebagai batu sandungan bagi Saudara untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Setelah seluruh kegiatan didaftarkan, Saudara perlu mengalokasikan kegiatan-kegiatan tersebut ke dalam waktu Saudara. Berikan waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya, jangan berikan waktu untuk belajar pada dinihari, karena tubuh kita pasti sudah lelah dan kita tidak akan dapat belajar secara maksimal.

Selain itu, jangan membuat jadwal kegiatan yang terlalu padat. Berikan waktu jeda (istirahat) dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada Saudara untuk menenangkan diri dan mempersiapkan diri untuk fokus kepada kegiatan berikutnya.

Perlu diingat bahwa kegiatan-kegiatan untuk menjadi serupa dengan Kristus bukan hanya meliputi aspek kerohanian (relasi dengan Tuhan) saja, melainkan seluruh aspek kehidupan kita, seperti interaksi sosial (relasi dengan sesama), fisik (tubuh), dan hikmat. Mari kita lihat bagaimana Tuhan Yesus bertumbuh dan aspek-aspek mana saja Dia mengalami pertumbuhan. “And Jesus increased in wisdom (hikmat) and stature (fisik/tubuh), and in favor with God (relasi dengan Tuhan) and men (relasi dengan manusia).” (Lukas 2:52, NKJV).

Karena itu, Saudara tidak hanya memikirkan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan relasi dengan Tuhan, melainkan juga untuk meningkatkan relasi dengan manusia, hikmat, dan fisik, serta aspek-aspek lain yang tidak disebutkan.

Selanjutnya, Saudara perlu menentukan tingkat kepentingan dari masing-masing kegiatan tersebut. Dengan kata lain, Saudara perlu mengelompokkan kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan kriteria kepentingannya. Paling tidak ada lima kriteria yang dapat digunakan, yaitu: utama, penting, sedang, rendah, dan delegasi.

Untuk mengelompokkan kegiatan-kegiatan sesuai kriteria-kriteria tersebut, Saudara perlu minta hikmat dari Tuhan. Pertanyaan utama yang harus Saudara pikirkan adalah seberapa jauh kegiatan ini memberikan kontribusi untuk menjadikan Saudara serupa Kristus. Semakin besar kontribusinya, semakin banyak waktu yang Saudara alokasikan untuk itu.

Biasakan untuk membuat jadwal secara berkala, seperti bulanan dan mingguan. Berikan waktu khusus setiap harinya untuk memeriksa jadwal Saudara esok harinya. Lebih penting lagi, Saudara perlu mendoakannya dan menyerahkan jadwal Saudara setiap harinya kepada Tuhan. Jangan melihat kegiatan-kegiatan Saudara sebagai rutinitas belaka, melainkan sebagai suatu perjalanan Tuhan membentuk Saudara untuk menjadi serupa dengan Kristus. Jika kita memiliki cara pandang yang demikian, maka kita akan menjalankan hari-hari kita dengan bergairah.

 

Menangani kegiatan-kegiatan di luar perencanaan

Selanjutnya, Saudara juga perlu memberikan ruang dalam jadwal Saudara untuk beradaptasi dengan kegiatan-kegiatan yang di luar perencanaan, yang selanjutnya dikenal sebagai kegiatan interupsi. Namun, memberikan ruang yang terlalu besar untuk kegiatan-kegiatan interupsi adalah tidak baik dan akan membawa Saudara menyimpang dari jadwal yang telah Saudara buat.

Jika Saudara mendapatkan kegiatan interupsi, Saudara perlu menanyakan kepada diri sendiri mengenai tingkat kepentingan dari kegiatan tersebut. Apakah itu utama? Penting? Sedang? Rendah? Delegasi? Jika kegiatan interupsi tersebut bentrok dengan kegiatan yang lebih penting, maka Saudara perlu menolak kegiatan interupsi tersebut. Sebaliknya, Saudara perlu mempertimbangkan kegiatan tersebut untuk menggantikan kegiatan yang sudah terjadwal. Karena itu, Saudara perlu minta hikmat Tuhan untuk mengambil keputusan dalam hal ini.

Terakhir, jangan menerima kegiatan-kegiatan yang Saudara yakin Saudara tidak  dapat menjalaninya secara maksimal. Setiap kegiatan perlu dijalankan dengan konsentrasi yang penuh. Dengan kata lain, pikiran kita harus ada di kegiatan yang sedang kita kerjakan, bukan di tempat lain.q

Komentar


Group

Top