IDW: Jangan Tanya Agamamu Tapi Tanyalah Apa Yang Sudah Kau Buat

Sun, 14 May 2017 - 01:48 | Dilihat : 275

Reformata.com, Jakarta- Pancasila merupakan dasar ideologis dalam berbangsa dan bernegara di tengah kehidupan berdemokrasi masyarakat Indonesia yang majemuk. Namun, belakangan ini eksistensi Pancasila sebagai perekat bangsa kian diuji. Dinamika sosio-politik Indonesia inilah yang mendorong sekelompok orang dari latarbelakang berbeda mendeklarasikan berdirinya Indonesia Democracy Watch (IDW), yakni sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan untuk mengawal keberagaman serta meningkatkan kualitas kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan usai deklarasi Indonesia Democracy Watch, deklarator sekaligus Ketua Umum IDW Pertus Loyani mengimbau kepada segenap anak bangsa agar ambil bagian di dalam memperkokoh kembali persatuan Indonesia. Partisipasi tersebut juga mesti dilakukan tanpa menjadikan segala perbedaan yang ada sebagai sebuah hambatan.

“Jadi jangan lagi tanya, ‘apa agamamu, apa sukumu?’. Tetapi tanyalah, ‘apa yang dapat kamu perbuat untuk bangsa ini?’,” ujar Petrus di lokasi deklarasi dan diskusi yang diselenggarakan oleh IDW, di bilangan Jakarta Barat, Sabtu sore (13/5/2017).

Di kesempatan itu Petrus turut menjelaskan sejumlah strategi yang akan ditempuh oleh IDW sebagai upaya nyata dalam mengawal keutuhan bangsa.

“Kita (IDW) akan melakukan pendekatan pendidikan  atau pemberdayaan dari masyarakat bawah. Kita akan melakukan pencerahan itu di masyarakat bawah. Karena hari-hari ini yang sering dimanipulasi, dan diperalat itu masyarakat bawah,” katanya.

Model pendekatan melalui pendidikan, Petrus berpendapat, masih menjadi sebuah cara ampuh dalam membangun kesadaran akan rasa persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat Indonesia, khususnya demi mengikis isu perbedaan yang semakin ditonjolkan pasca pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta pada 19 April silam. Ketika berbicara seputar peranan IDW dalam hal mengedukasi sang Ketua Umum juga berpesan agar masyarakat Indonesia lebih obyektif dalam memilih pemimpinnya kelak, bukan lagi berdasarkan kepada pandangan sesuku ataupun seagama semata.

“Kita akan menjelaskan kepada mereka (masyarakat) bahwa kita ini satu bangsa, bahwa yang perlu buat kita itu pemimpin yang memenuhi kriteria kredibilitas dan integritas,” imbuh Petrus.

Petrus kemudian menuturkan bahwa sebagai upaya mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan yang ada, maka bangsa Indonesia dapat melakukan pembelajaran dari nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan semangat Pancasila. Ia kemudian mengambil contoh bagaimana masyarakat Sasak muslim di NTB (Nusa Tenggara Barat) dapat hidup toleran dengan masyarakat dan ajaran agama Hindu di wilayah itu. Fakta seperti ini, Petrus menambahkan, juga bisa terlihat dari cara hidup bermasyarakat di Bali.

“Ada teman kita dari Sasak sangat hafal  dengan Mantra Gayatri, kemudian beliau dari Bali hafal Alfatihah. Ini fakta kok, dan itu bisa,” pungkas Petrus.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top