Manajemen

Manajemen Pengelolaan Waktu Pribadi

Penulis : Harry Puspito | Fri, 25 July 2008 - 17:39 | Dilihat : 3032
Seorang anak muda, sebut saja namanya Budi, memutuskan mengambil sebuah ujian internasional sebagai persyaratan untuk studi di luar negeri. Ujian tersebut akan berlangsung tiga bulan lagi. Dia sudah menetapkan diri untuk mengambil dua jam setiap harinya untuk latihan-latihan soal.

Pada bulan pertama dan kedua, dia belum mulai berlatih soal-soal, karena beberapa tugas di kantornya sedang banyak-banyaknya dan dia terlalu letih untuk berlatih soal-soal setelah bekerja. Setelah dua bulan itu, dia mulai berlatih. Karena tinggal satu bulan menjelang, dia merasa panik dan memutuskan untuk mengundurkan waktu ujian dua bulan lagi.   

Apa yang membuat Budi tidak mencapai tujuannya? Pekerjaan-pekerjaan di kantor yang semakin banyak? Bukan itu, tetapi Budi sendiri. Permasalahan besar yang dihadapi oleh Budi adalah dia tidak dapat mengelola waktu pribadinya dengan baik. Pengelolaan waktu pribadi bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, namun membutuhkan latihan-latihan yang terus-menerus, dan ketekunan.

 

Pandangan terhadap waktu

Ketrampilan dalam pengelolaan waktu pribadi perlu sekali dilandasi dengan pemahaman yang benar tentang waktu itu sendiri. Ada yang memandang waktu itu uang yang lazim diungkapkan dengan istilah, “Time is money!” Pandangan ini memandang waktu dan penghasilan mempunyai hubungan linier yang positif. Dengan kata lain, jika waktu yang diluangkan semakin banyak, maka penghasilan yang didapat semakin banyak pula. Contoh: seorang pembuat sepatu tradisional dapat membuat lima pasang sepatu dalam satu jam. Jika sepasang sepatu seharga Rp 50.000, maka dia dapat memperoleh Rp 250.000 dalam satu jam atau Rp 500. 000 dalam dua jam atau 750.000 dalam tiga jam dan seterusnya.

Pandangan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Kemampuan manusia untuk menghasilkan sesuatu (produktivitas) tidaklah tetap, tetapi makin lama makin menurun. Produktivitas bekerja di pagi hari berbeda dengan produktivitas bekerja di siang hari dan malam hari. Jadi, pernambahan penghasilan semakin menurun seiring dengan penambahan waktu. Selain itu, pandangan ini dapat membawa seseorang untuk cenderung mengejar pekerjaan-pekerjaan yang hanya berpotensi mendatangkan uang. Kita mengetahui bahwa cinta uang merupakan penyebab dari segala kejahatan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka.”(I Timotius 6:10, ITB)

Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang menerangkan waktu, yaitu kronos dan kairos. Kronos berbicara mengenai waktu secara keseluruhan, sedangkan kairos berbicara mengenai waktu yang tepat untuk sesuatu.  Alkitab berbicara bahwa hal yang membedakan orang bijak dengan orang bebal adalah terletak dari bagaimana mereka menggunakan kairos. Sungguh menarik, Alkitab menekankan kairos, dibandingkan kronos.

“Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:16, ITB)

Kata “pergunakan” dalam bahasa Yunaninya adalah exagorazo, yang berarti menggunakan semua kesempatan sebijaksana mungkin untuk berbuat baik (Thayer). Jadi, motivasi penggunaan waktu untuk kebaikan, bukan untuk uang. Orang yang cinta uang akan menempatkan uang sebagai patokan dari kebaikan, namun orang yang cinta Tuhan menempatkan Tuhan sebagai standar dari kebaikan. Orang yang cinta Tuhan akan memandang setiap kesempatan untuk berbuat sesuai kehendak Tuhan.

 

Mengapa kita perlu mengelola waktu?

Efesus 5:16 mengatakan kita harus menggunakan waktu yang ada sebab hari-hari ini adalah jahat. Apa yang dimaksud dengan jahat di sini? Dalam bahasa Yunani, kata “jahat” ditulis dengan poneros, yang berarti kesusahan atau penderitaan (Thayer). Jadi, hari-hari ini dilalui melalui berbagai kesulitan dan penderitaan. Ini fakta yang harus kita terima bahwa tidak ada sesuatu yang mudah. Jadi, kita akan semakin susah dan menderita  kalau kita tidak dapat menggunakan segala kesempatan dengan bijaksana.

Selain itu, waktu mempunyai beberapa karakteristik. Pertama, waktu tidak dapat disimpan. Seperti halnya dengan manna yang Tuhan berikan pada bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah Mesir dan terputar-putar di padang gurun selama 40 tahun yang diberikan tiap hari oleh Tuhan dan tidak dapat disimpan, jika disimpan mana tersebut  menjadi basi, waktu tidak dapat disimpan. Waktu yang dipunyai oleh setiap orang adalah 24 jam per hari, jika waktu dapat disimpan, maka beberapa orang dapat mempunyai waktu lebih dari 24 jam tiap hari, yang di mana itu tidak akan mungkin terjadi. Karena itu, kita harus menggunakan setiap kesempatan yang ada dan jika kita abaikan maka kesempatan tersebut akan lewat.

Kedua, waktu tidak dapat dihentikan. “Waktu berjalan terus!”, itulah yang saya sering ucapkan kepada diri saya jika saya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Saya  sering mendengar dari beberapa orang alasan untuk menunda pekerjaannya adalah tenggat waktu masih lama, namun tanpa memperhitungkan bahwa waktu berjalan terus.

Ketiga, waktu tidak dapat dikaretkan. Sekali lagi, satu hari itu ada 24 jam dan tidak akan pernah lebih dari itu. Kita dapat menunda pekerjaan atau suatu acara, tetapi kita tidak dapat menunda waktu. Saya cenderung berkata kepada diri saya, “seandainya saya masih punya waktu lebih.”, ketika saya tidak berhasil memenuhi tenggat waktu dari pekerjaan saya. Itu bukan salah waktu yang tidak dapat diperpanjang, namun salah kita jika kita tidak berhasil memenuhi tenggat waktu yang diberikan.

Terakhir, waktu tidak dapat digunakan secara berlebihan. Segala sesuatu itu ada waktunya. Kesempatan tidak dapat kita gunakan secara berlebihan. Jika ada waktu untuk bekerja, maka ada waktu untuk beristirahat dan berekreasi. Saya mempunyai pengalaman yang menarik mengenai hal ini. Saya terbiasa untuk membuat jadwal kegiatan saya selama satu minggu, di antaranya saya mengalokasikan satu jam setiap hari untuk mempersiapkan tes bahasa Inggris. Sehubungan dengan pekerjaan-pekerjaan di kantor, saya sering memakai waktu persiapan tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantor dan memindahkan waktu untuk persiapan ke waktu istirahat saya. Apa yang terjadi? Saya tidak pernah kesampaian mempersiapkan diri untuk tes tersebut karena saya terlalu letih untuk berlatih soal-soal.q

 

Komentar


Group

Top