Masyarakat Lintas Suku Dan Agama Meriahkan Harkitnas Dengan Acara Genta Pancasila

Penulis : Redaksi | Sat, 20 May 2017 - 22:10 | Dilihat : 288

Reformata.com, Jakarta- Sebanyak ratusan orang lintas suku dan agama di Indonesia pada Sabtu siang (20/5/2017) memadati wilayah Silang Barat Laut Monumen Nasional demi mengikuti acara Gerakan Cinta Bangsa dan Pancasila (Genta Pancasila). Dengan mengenakan pakaian adat Betawi, Kalimantan, Papua dan sejumlah etnik yang berasal dari daerah lainnya di Indonesia, para peserta acara Genta Pancasila melantunkan lagu-lagu kebangsaan dan seruan Kebinekaan, sebagai sebuah dukungan terhadap tegakknya NKRI, Pancasila  dan UUD’45, sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei.

Salah seorang tokoh agama yang menghadiri acara Genta Pancasila, Pendeta Mangapul Sagala, berpandangan bahwa melalui momentum Kebangkitan Nasional maka segenap elemen bangsa harus semakin bersatu, terutama jika dikaitkan dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini.

“Pertama sebagaimana tadi kita doakan supaya NKRI kita ini bersatu dan jaya. Karena itu kita tadi menyerukan supaya pemerintah dalam hal ini TNI dan POLRI dengan tegas, cepat, jangan terlambat, menindak semua kaum radikal intoleran. Itu seruan kita,” ujar Pdt. Mangapul, yang sebelumnya turut naik ke atas podium di acara Genta Pancasila untuk melaksanakan doa bersama bagi bangsa, dengan sejumlah pimpinan umat lintas agama lainnya.

Selaku pemimpin umat, Pdt. Mangapul melihat bahwa kehadiran umat Kristen di Indonesia seharusnya bisa makin menegaskan bahwa Kristen itu sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Sehingga segenap umat harus turut ambil bagian dalam pelbagai upaya demi mempertahankan keutuhan bangsa.  

“Saya menyerukan seharusnya kita (umat Kristen) lebih menghayati doktrin kebangsaan. Karena apa? Di dalam agama Kristen jelas dikatakan ‘bumi, tanah, air, itu ciptaan Tuhan kita. Itu jelas, kita harus bertanggungjawab. Ketika kita punya Tanah Air diobok-obok, coba dihancurkan, ya kita harus bertanggungjawab,” imbuhnya.

Sebagai langkah konkret dalam membangkitkan rasa persatuan, lanjut Pdt. Mangapul, maka bangsa Indonesia perlu kembali meresapi setiap nilai yang tersirat di Pancasila.

“Yang Pertama saya berkata ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Kenapa disebut Ketuhanan Yang Maha Esa? Ide Ketuhanan membuka peluang bahwa setiap orang dijamin, WNI yang beragama. Makanya jangan kafir-kafirkan; Yang Kedua, tadi saya mengatakan ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’, karena itu Pancasila menjamin setiap WNI (Warga Negara Indonesia). Jangan bicara pribumi dan nonpribumi, saya mengatakan itu tadi. Siapa orang pribumi Indonesia? Orang Batak? Tidak juga. Orang Batak itu, teorinya, berasal dari Mongol, ada juga yang berkata dari bangsa India; Lalu yang Ketiga saya berkata ‘Persatuan Indonesia’. Kalau kita menghayati itu maka jangan lagi mengkotak-kotakan mayoritas dan minoritas. Karena apa, setiap jengkal republik ini direbut tanpa ada sebut agama atau suku, tetapi dari Sabang sampai Merauke itu atas dasar NKRI,” tutup pimpinan dari STT Trinity, Parapat, Sumatera, Utara, itu.

Selain atraksi seni dan budaya, acara Genta Pancasila juga dimeriahkan dengan Marching Band dan turut dihadiri oleh penyanyi yang concern mengawal isu-isu keberagaman, Melani Subono. Berdasarkan pantauan Reformata di lapangan, Banser Nahdlatul Ulama dan Laskar Manguni juga nampak di lokasi acara guna membantu pihak Kepolisian yang melakukan pengamanan. *Ronald

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top