Manajemen

Transformasi Akal Budi – Kunci Sukses

Penulis : Harry Puspito | Sat, 5 July 2008 - 17:40 | Dilihat : 1782

 Oleh: Harry Puspito

(harry.puspito@yahoo.com)*

 

 Pada tulisan sebelumnya, sudah kita bicarakan untuk memiliki motivasi kita perlu memiliki pemahaman yang benar tentang hidup yang sedang kita kejar, yaitu hidup ’berkelimpahan’ (Yoh 10:10b) atau dalam bahasa sehari-harinya hidup ’sukses’. Jika kita belum dalam perjalanan seperti itu, bagaimana kita menuju ke sana?

Paulus memberikan kuncinya dalam Roma 12:2 yaitu ”berubahlah olehpembaharuan budimu”. Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru dan mengalami proses pembaharuan (2 Kor 5:17) dan tanggung jawab kita adalah mentransformasikan pikiran-pikiran kita kepada kebenaran (1 Kor 10:5b).

Manusia adalah mahluk yang hidup dengan kepercayaan-kepercayaannya. Alkitab berbicara tentang ‘iman’ (Ibrani 11:1) dan ‘orang benar akan hidup oleh iman (yang benar)’ (Roma 1:17).  Kepercayaan adalah asumsi yang kita anggap benar walaupun tanpa bukti-bukti yang memadai. Dan kepercayaan-kepercayaan kita menyebabkan kita menerima atau menolak informasi baru yang masuk.

Dengan bertambahnya umur kita membangun kepercayaan tentang segala sesuatu, misalnya tentang siapa kita, apa yang baik dan buruk, apa tujuan hidup kita di dunia, apa sukses itu, seperti Allah itu, bagaimana kita selamat, dsb, dsb, dsb. Semua kepercayaan-kepercayaan kita membentuk apa yang dikenal dengan ‘sistem keyakinan’ kita. Istilah lain yang sama atau serupa adalah akal budi, cara pandang, sistem keyakinan dan paradigma. Darrow L Miller (1998) dalam bukunya ’Membangun dengan Pikiran Allah’ memberikan definisi: ’sebuah cara pandang seseorang (worldview) adalah seperangkat asumsi yang dipegang dengan sadar atau tidak sadar dalam iman mengenai dasar tatanan dunia ini dan bagaimana dunia itu bekerja.’

Cara pandang bisa diibaratkan menjadi seperti ’kaca mata’ yang dipakai seseorang ketika dia memandang dunia  sekitarnya. Seberapa akurat pandangannya tergantung dengan kualitas kaca mata yang dia gunakan. Kaca mata yang tidak pas ukurannya akan membuat kabur pandangan seseorang. Warna kaca akan memengaruhi warna-warni dunia yang dia amati. Sistem keyakinan kita ini akan mengendalikan bagaimana kita merespon kehidupan. Dia membangun sikap seseorang, pikiran-pikirannya, komitmen dan perilaku atau gaya hidupnya dan emosi-emosi yang dialami seseorang.  

Contoh cara pandang yang tipikal adalah animisme, sekulerisme dan theisme Alkitab. Dasar worldview animisme bahwa semua realitas adalah roh, fisik adalah maya dan dihidupkan oleh roh-roh. Sebaliknya bagi pandangan sekuler, realitas bersifat fisik dan menolak pandangan adanya realitas rohani. Sedangkan theisme Alkitab berkeyakinan adanya Allah, realitas yang bersifat obyektif yang diciptakan Allah yang berpribadi. Di antara tiga sistem yang berbeda ini ada spektrum yang sangat luas. Dengan dasar keyakinan yang berbeda jelas mereka yang meyakininya akan melihat dunia dengan cara pandang yang sangat berbeda dan dengan sendirinya berperilaku berbeda.

 

Sistem keyakinan kita ditunjukkan dari bagaimana kita hidup, bukan oleh apa yang kita tahu atau kita klaim kita percaya. Sudah barang tentu sistem keyakinan kita memengaruhi pandangan kita tentang hidup sukses yang kita aspirasikan. Pandangan sekuler akan mendefinisikan sukses berdasarkan hasil-hasil fisik seperti harta, prestise, posisi, kekuasaan, prestasi, kesengangan, dsb yang bersifat ’dunia’. Bagi animis dengan bentuk modern-nya yang dikenal dengan the new age, sukses adalah meninggalkan yang duniawi dan menyatukan dengan yang roh. Sedangkan sukses Alkitab adalah dalam rangka memenuhi tujuan dan rencana Sang Pencipta bagi dirinya.

Kita tahu sistem keyakinan kita telah dirusak oleh dosa. Karena itu sistem keyakinan kita perlu ditransformasikan dengan kebenaran. Dengan kata lain setiap orang percaya kalau mau mengalami sukses sejati harus bersedia mengalami proses ’pemuridan’ sehingga dia berpikir seperti Sang Guru Agung berpikir. Proses transformasi ini adalah suatu perubahan radikal yang sering digambarkan seperti metomorfosa dari ulat yang jelek dan merayap dengan tubuhnya menjadi kupu-kupu yang cantik yang bisa terbang. Walaupun masih dari satu pribadi yang sama, transformasi mengubah fisik dan perilaku seseorang karena perubahan radikal dalam diri pribadi seseorang. Transformasi diri oleh kebenaran akan menjadikan pribadi yang utuh, dan ini bukan suatu sulap tetapi suatu proses yang terjadi seumur hidup.  

Proses transformasi seseorang dipengaruhi cara berpikir yang harus terus-menerus dibentuk oleh kebenaran. Ini memengaruhi sistem kepercayaan seseorang yang membawa harapan-harapan kepada masa depan yang positif. Selanjutnya sikap dan perilaku seseorang dibentuk yang akan memengaruhi kinerjanya dan akhirnya menentukan seberapa sukses atau gagal seseorang dalam hidupnya. Mau sukses dalam hidup Anda? Ikuti proses transformasi Tuhan dalam diri Anda, dimulai dari akal budi Anda. Tuhan memberkati!q

 

 

*Penulis adalah Partner di Trisewu Leadership Institute

Komentar


Group

Top