Gereja Harus Jadi Wadah Pencerdasan Umat

Penulis : * | Sat, 3 June 2017 - 18:06 | Dilihat : 1294
corpus-christy-edit.jpg
Seminar politik yang digagas oleh FPK-LG Corpus Christy, di Kampus IBM ASMI, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (03/06/2017). (Kiri-kanan): Pdt. Karel Erari, Pdt. Yerry Tawalujan, Pdt. Bigman Sirait dan Pdt. Harsanto Adi. Foto: Yunus.

Reformata.com, Jakarta- Forum Pemimpin Kristen-Lintas Gereja (FPK-LG) "Corpus Christy" menyelenggarakan seminar terkait situasi sosial politik yang berkembang saat ini terkait radikalisme dan pemahaman Pancasila dari perspektif Kekristenan, Sabtu (03/06/2017), di Kampus IBM ASMI, Pulomas, Jakarta. Pada kesempatan itu salah satu nara sumber yang juga pendiri Reformata, Pdt. Bigman Sirait, mengatakan bahwa agama khususnya gereja harus menjadi wadah pencerdasan bagi umat di bidang politik. Sebagai wadah, tambah Pendeta Bigman, gereja juga harus cerdas agar bisa menjalankan peran mengedukasi umat, untuk hidup sesuai dengan falsafah negara NKRI.

“Tetapi awas, sebagai institusi gereja tidak boleh lalai, wajib mendidik umatnya melek politik. Pertanyaannya, bagaimana umat itu melek politik orang pak pendetanya buta? Sebagai institusi,harus cerdas,” kritik Pdt. Bigman.

Pendeta Bigman kemudian mengambil contoh bagaimana para pendeta di masa lampau menggunakan seluruh hikmat yang dimilikinya untuk kebaikan dan mencerdaskan umatnya, termasuk negaranya.

“Sedikit di waktu lampau, yang namanya pendeta bukan hanya sebagai teolog, dia juga filsuf, dia psikolog, dia sosiolog. Itu sebab pendeta di masa lampau, seperti Agustinus menceritakan dua Negara, Calvin bagaimana merumuskan sistem dan membangun Jenewa. Ketika para politisi pada saat Natal (merayakan natal), Calvin merumuskan sistem, akhirnya lahir Palang Merah dan lainnya, di Jenewa. Itu sumbangsih gereja,” lanjutnya, di hadapan para peserta seminar yang terdiri dari para rohaniwan, tokoh masyarakat Kawanua, mahasiswa, dan warga gereja yang memadati kampus IBM ASMI.

Ketika menyinggung soal tantangan dalam kehidupan pelayanan, Pendeta Bigman Sirait kemudian angkat bicara betapa dunia pelayanan Kristen yang acap kali diperhadapkan dengan pelbagai situasi serta godaan duniawi. Pendiri sekaligus pemimpin Gereja Reformasi Indonesia itu juga kembali mengingatkan, agar para pemimpin Kristen harus selalu waspada untuk tidak terjebak di dalam pusaran politik praktis sewaktu memberikan pendidikan politik kepada umat yang dipimpinnya. 

“Sebagai gereja, gereja tidak  boleh sebagai institusi menjadi arena politik. Jangan pernah memberikan mimbarmu di gereja untuk Caleg (Calon Legislatif), Cabup (Calon Bupati), atau siapapun untuk kampanye di situ. Terlalu terhormat gereja,” tandas Pdt. Bigman.

Seminar politik yang digagas Corpus Christy mengangkat tema "Antara Pancasila vs Radikalisme: Bagaimana Sikap Pemimpin Kristen?", dan menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pdt. Brigjen TNI (Purn) Harsanto Adi; Pdt. Bigman Sirait; tokoh Papua, Pdt. Dr. Phil. Karel Erari; serta dimoderatori oleh Pdt. Yerry Tawalujan. Nampak hadir dalam seminar politik tersebut sejumlah pemimpin gereja, antara lain Romo Daniel dari Gereja Ortodoks Indonesia dan Pendeta Ferry Haurissa-Kakiay dari Sinode Gereha Bethel Indonesia.

*Nick Irwan

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top