Seminar Politik RCRS, Kekeristenan Dan Nasionalisme

Penulis : Chandra | Tue, 22 August 2017 - 13:05 | Dilihat : 481
berita-rcss.jpg
sumber foto: RCRS

Reformata.com. Jakarta. Reformed Center for Religion and Society (RCSS) mengadakan seminar politik yang bertajuk: “Kekeristenan dan Nasionalisme”. Dalam acara itu, hadir sebagai narasumber antara lain Jend. TNI (Purn.) Luhut B. Panjaitan, Mentri Koordinator bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Romo Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, Budayawan dan Rohaniawan Katolik, Pdt. Dr. (H.C) Stephen Tong, Budayawan dan Rohaniawan Kristen.  Acara yang  dimoderatori oleh Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D ini dilaksanakan di Reformed Millenium Center Indonesia, Jl. Industri, Kemayoran, Jakarta Pusat. (19/8)

Nasionalisme di mata Stephen Tong  adalah istilah yang sangat bagus di Indonesia ini.  Sayangnya, menurut dia, kata nasionalisme sendiri telah diperalat oleh orang jahat, orang yang bertopeng munafik, untuk melakukan segala sesuatu hanya karena dia menganggap dirinya nasionalis.

“Nasionalisme itu sendiri harus dipahami dengan baik, bahwa siapa yang sungguh-sungguh mencintai bangsa ini.  Siapa nasionalis di Indonesia dari pada Ahok? Coba kasih tahu ke saya”. Ujarnya.

Pdt. Stephen Tong menambahkan, bahwa nasionalisme itu tidak dibedakan dan tidak dikategorikan dari kategori yang baik, yang salah yang sehat dan yang sakit.  Ia mengatakan, Nasionalisme harus dipahami sebagai siapa yang sungguh-sungguh mencintai bangsa Indonesia.

Terkait nasionalisme di kekeristenan, ia berpesan kepada setiap umat, untuk menjadi seorang nasionalis harus membuang sifat egois. Karena, menurut dia, dari sikap egois itulah muncul masalah korupsi dan lain-lain. Dia berpendapat, jika sudah meninggalkan sikap egois maka dunia menjadi akan baik.

“Egois adalah musuh kekristenan. Egois mengakibatkan korupsi, menjadi ambisi yang liar, Jadilah nasionalis yang bersifat bukan nasionalis sempit, dan sombong” Tegasnya.

Sementara itu Romo Magnis Suseno mengatakan bahwa Pluralisme menjadikan kita bangga menjadi bangsa Indonesia. Ia mengatakan agama menjadi rahmat bagi semua, agama tidak mengancam, dan agama tidak menakutkan. Seperti kehadiran kita agama Kristen harus menjadi penyembuh bagi bangsa Indonesia ini.

“Di Indonesia, di dalam lingkungan segenap umat merasa aman hidup menurut keyakinannya, Negara memberi ruang sesuai apa yang kita yakini” ujarnya

Menurut Magnis Indonesia semenjak Krisis 1998  tidak menjadi kacau, dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidak dikuasai oleh salah satu agama, bahkan seluruh rakyat Indonesia bersama-sama membangun kembali Bangsa ini. “Reformasi pada dasarnya berhasil, kecuali dalam pemberantasan korupsi” ucap Romo.

Chandra

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top