Prof. Yanyan Mochamad Yani: Tanpa Indonesia ASEAN Tidak Ada

Penulis : Candra | Fri, 15 September 2017 - 13:59 | Dilihat : 243
prof-yanyan.jpg
Prof. Yanyan Mochamad Yani MAIR., Ph,D (Guru besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung) Foto: Candra

Reformata.com. Jakarta  - Universitas Kristen Indonesia (UKI) kembali menyelenggarakan kuliah umum yang mengangkat tema “Indonesia dan ASEAN Pasca 2015”. Prof. Yanyan Mochamad Yani MAIR., Ph,D (Guru besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung) menjadi pembicara dalam seminar yang dilaksanakan di Ruang Seminar kampus UKI Cawang, Jakarta Timur, Rabu (15/9)

Prof. Yanyan dalam pemaparannya menjelaskan mengenai Politik Luar Negeri Indonesia dari jaman orde lama hingga era reformasi.  Ia menjelaskan pemahaman mengenai posisi politik luar negeri Indonesia adalah modal dasar dalam menganalisa fokus Indonesia di ASEAN. Yanyan menambahkan bahwa terdapat 3 faktor yang mempengaruhi politik luar negeri Indonesia antara lain, Nasionalisme, Pembangunan Ekonomi, dan politik domestik.

Menurut Guru besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung itu, pengaruh Indonesia di ASEAN juga ditentukan oleh doktrin pemimpin Indonesia dari masa ke mas. Oleh karena itu ia mengatakan, bahwa ASEAN sangat penting bagi Indonesia.  Menurutnya seperti dalam kehidupan kita sehari-hari orang yang paling dekat dengan kita selain keluarga adalah tetangga.  “Sebagai bagian dari masyarakat ASEAN Indonesia tentu harus mengambil peran.  Karena Indonesia adalah salah satu founding power, atau yang mempunyai pengaruh yang sangat besar di ASEAN.  Indonesia diharapkan melakukan peranan membangun masyarakat ASEAN.”

“Indonesia adalah ASEAN, jika tidak ada Indonesia maka tidak akan ada ASEAN”. Ujar prof Yanyan.

Sementara itu, Angel Damayanti, akademisi dari UKI mengatakan, dalam umur ASEAN yang ke-50, bulan April lalu, sudah cukup banyak keberhasilan ASEAN.  Tetapi menurut dia masih ada yang harus di selesaikan  dan Indonesia diminta terlibat di situ, misalnya masalah Hal di Myanmar, permasalahan perbatasan, baik itu di darat atau pun di laut, masalah lingkungan, masalah asap dan pembakaran hutan ini menjadi “PR” Bersama negara yang tergabung di ASEAN.

“Banyak PR yang harus dikerjakan oleh negara-negara ASEAN terutama Indonesia yang merupakan negara terbesar di ASEAN tentu diminta atau mungkin sedikit di tuntut untuk banyak terlibat di dalamnya”. jelas Angel.

Di depan para mahasiswa Fisipol UKI, Angle mengajak untuk ikut mengambil bagian untuk mendukung program ASEAN,  karena menurut ia, sepanjang tahun 2016 sampai hari ini beberapa kegiatan mendukung program Asean itu sudah dilakukan. Bahkan Parade pestifal ulang tahun asean yang ke 50 salah satu mahasiswa kita adalah duta finalis muda asean tahun 2017.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Fisipol harus ikut berkontribusi dalam memperkuat posisi Indonesia di ASEAN”. Tegas Angle.

*Chandra

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top