Manajemen

Self Management

Penulis : Harry Puspito | Thu, 3 April 2008 - 17:56 | Dilihat : 6985

Harry Puspito*

ORANG percaya adalah hamba Tuhan, seperti tertulis: Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya (Kol 3: 24b). Namun di dunia dia mengerjakan tugas pelayanannya kepada manusia lain. Karena itu, mau tidak mau, seseorang adalah ‘follower’ atau anggota tim.

Tidak ada seorang yang menjadi pemimpin di semua kelompok dia berada. Seorang presiden atau raja sekalipun, dia adalah seorang anggota jemaat, kalau dia seorang Kristen.

Dari satu sumber, kita sudah pelajari ciri-ciri pengikut yang efektif adalah memiliki kekuatan dalam manajemen diri, komitmen, kompeten dan fokus dan berani. (The Power of Followership, Robert E. Kelley (1992) – Anthony D’Souza (2001): Empowering Leadership). Pada kesempatan ini, penulis bermaksud lebih mendalami satu ciri yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang follower, yaitu manajemen diri.

Wikipedia (ensiklopedia internet) menyatakan dalam bisnis, pendidikan dan psikologi self management menunjuk kepada cara-cara, ketrampilan, dan strategi seseorang mengarahkan kegiatan-kegiatannya secara efektif untuk mencapai sasaran-sasaran, dan termasuk goal setting, perencanaan, penjadualan, memonitor tugas, evaluasi diri, intervensi diri, pengembangan diri, dsb. Secara lebih luas self-management bisa kita lihat sebagai bagian dari self-discipline (disiplin diri) yang oleh seorang penulis didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengatur perilaku seseorang berdasarkan prinsip dan keputusan yang sehat daripada oleh dorongan, keinganan, tekanan atau kebiasaan sosial.

Dalam bahasa Alkitab, disiplin diri bisa dirangkum dalam satu kata ‘taat’, taat kepada Tuhan dan firmanNya. Namun disiplin ini bisa diartikan secara lebih luas, tidak saja taat kepada perintah Tuhan, tapi juga kepada aturan-aturan yang ditetapkan institusi-institusi dimana seseorang menjadi bagian, dan bahkan aturan-aturan yang ditetapkan sendiri untuk dirinya. Bagaimana seseorang bisa memiliki managemen diri yang baik. Kalau kita mau belajar dari Paulus (1 Kor 9:26-27), seorang rasul yang luar biasa dalam masa mula-mula gereja berdiri, kita bisa mendapatkan beberapa pokok berikut.

Pertama, kita perlu memiliki strategi.

Paulus mengumpamakan dirinya seorang atlit ’Isthmian Games’ – suatu lomba atletik yang dilaksanakan setiap 5 tahun. Seorang atlit yang berhasil mempunyai tujuan yang jelas, yaitu meraih medali kemenangan. Pada jaman dulu, medali banyak diberikan kepada satu pemenang saja. Jaman sekarang, medali diberikan kepada banyak ’pemenang’: juara 1 hingga 3, kadang lebih; juara harapan 1 hingga 3, sering lebih. Untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba itu, biasanya seseorang akan berlatih paling tidak 10 bulan. Dia tidak saja harus melatih fisiknya tapi juga harus mempelajari peraturan tentang lomba itu agar tidak mengalami diskualifikasi karena tidak taat aturan.

Dengan tujuan yang jelas, maka seorang atlet yang Paulus pikirkan, akan membuat rencana bagaimana dia akan menang. Apa sasaran-sasaran antara yang harus dia tetapkan dan bagaimana dia akan mencapai sasaran-sasaran itu? Jelas dia harus mencari pelatih, berlatih fisik dan ketrampilan lomba, mempelajari aturan-aturan lomba, mencapai kondisi fisik yang optimal, dsb. Tujuan akhir adalah memenangkan lomba atau sukses.

Tujuan yang jelas mendorong seseorang membuat rencana-rencana untuk mencapainya. Rencana-rencana itu memungkinkan pencapaian tujuan. Menjalani hidup dengan strategi seperti ini memungkinkan seseorang memiliki manajemen diri dan bekerja-keras.

Kedua, kerja keras. Dalam semua bidang kita harus bekerja keras: kerohanian, kesehatan, pembelajaran, keluarga, sosial, pekerjaan, keuangan, bahkan rekreasi. Kita akan bekerja keras kalau memahami arti kerja bagi kita, yaitu panggilan Allah, bukan sekadar mendapatkan uang. Namun self management tidak berarti seseorang bekerja berlebihan, karena dia harus me-manage bagian-bagian hidup lainnya, dengan waktu yang terbatas.

Ketiga, membangun dan mentransformasi kebiasaan-kebiasaan baik. Mayoritas atau ada yang mengatakan 90% lebih dari hidup kita adalah kebiasaan, mulai dari jam bangun, apa yang dilakukan pertama, sarapan, keluar rumah, dan seterusnya hingga tidur kembali. Pertanyaannya apakah kebiasaan-kebiasaan kita efektif membawa sukses atau tidak? Kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak bernilai membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang efektif. Zig Ziglar (2006) menyebutkan 12 kebiasaan yang perlu dibangun dalam bukunya ”Better than Good”: kebiasaan untuk termotivasi, mendengar, membaca, menebus waktu yang terbuang, melakukan yang terbaik sebisa mungkin, sehat, beristirahat, disiplin diri, memberikan lebih dari seharusnya, berpikir yang murni dan menghindar yang tidak positif.

Jika kita bisa me-manage diri, kita bisa bekerja secara efektif dalam time frame yang tersedia. Kita akan terus mengembangkan diri dalam kompetensi dibutuhkan tugas. Jika demikian jelas kita akan menjadi aset bagi perusahaan atau kelompok dimana kita menjadi bagian. Tuhan memberkati.q

*) Penulis adalah partner di TRISEWU

Komentar


Group

Top