TRINITAS DAN PANCASILA

Penulis : Bigman Sirait | Sat, 7 October 2017 - 04:18 | Dilihat : 4956

Dibenturkannya Trinitas dan Pancasila mendadak viral. Bukan karena analisa akedemis yang sistematis dan komprehensif, melainkan lompatan berpikir yang sulit dinalar. Menanggapi soal Perppu pembubaran Ormas yang tidak sesuai Pancasila, maka Eggi Sudjana menyatakan, bahwa Kristen dengan konsep Trinitasnya juga harus dibubarkan. Karena Trinitas dinilai tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ke-Tuhan-an yang maha Esa. Biarkanlah itu sebagai pendapatnya. Ini pendapat saya.

Jujur saya tergelitik ketika esensi agama dan ormas gagal dibedakan, sehingga menimbulkan kebingungan yang amat sangat. Saya juga tak tega jika anak kita di Pendidikan dasar ikut limbung atas sikap para dewasa, yang bisa saja karena usia belaka. Karena itu biar jelas tuntas mari kita berjalan di ranah keilmuan dari berbagai perspektif.

1.Perspektif Bahasa dan makna, dengan jelas KBBI menyebut agama adalah; Sistem, prinsip, kepercayaan kepada Tuhan dengan ajarannya. Sementara organisasi adalah; Kesatuan/susunan yang terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu. Dalam sebuah organisasi bisa berbasis agama, tapi juga campuran berbagai agama, sesuai tujuan organisasinya. Sementara agama khusus untuk pemeluknya. Organisasi bisa dibangun atas nama agama, tapi belum pernah ada agama dibangun atas nama organisasi. Sejauh bumi dari langit, begitulah perbedaannya.

2.Perspektif Histori, sangat jelas agama resmi di Indonesia sudah ada jauh sebelum Pancasila, bahkan negeri tercinta ini merdeka. Dalam memperjuangkan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia dalam keanekaan agama dan suku bersatu berjuang diberbagai tempat hingga kemerdekaan menjadi nyata. Dalam keanekaan suku, ras, dan agama, Indonesia punya semangat Bhineka Tunggal Ika. Sebagai negara merdeka kita memiliki UUD 45 dan turunannya yang harus senafas. Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa. Dan NKRI sebagai semangat RI tak terpisahkan. Jadi pendapat Trinitas menolak Pancasila A-Historis. Juga gambaran alpa belajar sejarah kerajaan sebelum Republik Indonesia terbentuk, dan alpa wisata peninggalan bersejarah yang kaya dan bertebaran di Indonesia tercinta.

SAYAPANCASILA (SERI 3)

3.Perspektif Pancasila sendiri, sila pertama Ke-Tuhan-an yang maha Esa, semangatnya menunjuk kepada negara kita yang beragama, teistik dan bukan ateistik. Sehingga sekalipun beda agama namun ber-Tuhan-an, bukan ateis. Sila pertama Pancasila bukanlah perdebatan teologis melainkan isu sosiologi keanekaan dan kebangsaan. Karena itu semangat Sila pertama adalah agar negara memberikan kebebasan dan jaminan kepada warganya untuk memeluk agamanya. Tidak ada yang dipertentangkan, tidak ada larangan atau paksaan, tidak anti ke-Tuhan-an. Dalam perbedaan keyakinan umat beragama dipanggil untuk bersama membangun bangsa tercinta dan bukan menggerogotinya.

4.Perspektif Hukum, dengan jelas semangat sila pertama Pancasila dilindungi oleh UUD 45. Pasal 28 dan 29 mengatur dan menjamin kebebasan umat beragama memeluk dan beribadah menurut keyakinannya. UUD 45 memerintahkan negara untuk menjalankan dan menjamin persamaan hak beragama dalam perbedaan yang ada. Jelas menunjuk bukan hanya satu agama. Jika UUD 45 sebagai basis Republik Indonesia bernegara tak lagi dihargai dan dipatuhi, mau kemana kita melangkah. Bersatu saja kita memerlukan energi besar untuk membangun bangsa ini, apalagi terpecah. Pemecah belah adalah musuh bersama semua agama resmi yang ada di Indonesia.

5.Perspektif Teologis, Trintas tidak berke-Tuhan-an yang maha esa? Ah, apa ini serius? Sederhana saja, bagi yang gak sempat baca sehingga gak tahu, ini kutipan dalam PL, Ulangan 6:4; Tuhan Allah kita itu ESA. Lalu di PB, Yohanes 5:44; Carilah hormat dari Allah yang ESA. 1 Timotius 2:5; Allah itu ESA. Yudas 1:25; Allah yang ESA. Jika Cuma soal kata ESA itu bertaburan di Alkitab, baik yang tersurat maupun tersirat. Jika yang tersurat saja gagal paham, akan sulit berdiskusi yang tersirat. Mari kita ambil contoh gampang, kita percaya Allah yang ESA, pertanyaanya apakah Allah itu ada diseluruh dunia (dimana-mana)?. Jawabannya pasti sama; Ya, Allah itu ada dimana-mana, karena Dia maha ada. Ini namanya perspektif teologis. Dalam perspektif matematis, jika ada di mana-mana maka itu bukan satu bukan ESA. Perspektif matematis ada di mana-mana itu sama dengan banyak. Dan itu tidak perlu diperdebatkan atau dibenturkan, karena matematika itu ilmu pasti, sementara teologi itu ilmu keimanan. Memang jadi super repot jika berbicara isu teologis tapi dari perspektif matematis. Apalagi jika miskin informasi yang tersurat, sementara yang tersirat lebih luas lagi arena berpikirnya. Soal Trinitas, silakan baca lebih dari satu tulisan saya menjawab Zakir Naik. #MENJAWAB ZAKIR NAIK (TRINITAS)

Akhirnya begitulah Panca Perspektif ini saya sampaikan, semoga anak-anak kita sebagai penerus bangsa tidak kebingungan melihat kita. Kalau generasi yang terdahulu sudah pasti geleng-geleng kepala. Majulah Indonesiaku, kami Bersama sebagai anak Indonesia sejati, yang berbeda suku, ras, agama, akan terus bahu membahu mengumandangan semangat Sumpah Pemuda, UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

*Bigman Sirait

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top