Manajemen

Success Is Not My Right

Penulis : Harry Puspito | Wed, 5 March 2008 - 18:01 | Dilihat : 4465
DUA bulan belakangan ini saya ditanyai oleh para peserta inhouse training dan beberapa jemaat gereja-gereja di mana saya melayani, untuk berceramah tentang apa signifikansi ucapan seperti “success is my right”, dan slogan (yel-yel) “salam sukses luar biasa…”,

“selamat pagi…, luar biasa”. Karena di setiap kantor dan kebaktian gereja para pemimpin pujian selalu meneriakkan yel-yel tersebut, lalu ditambah kata “shalom”.  

Inilah yang disebut affirmasi diri dengan mengucapkan kata-kata positif dengan penuh semangat, seperti: “saya bisa!”, “saya yakin!”, “saya mampu!” Bagi saya ini adalah pembiusan untuk menjadi pola pembodohan life structure manusia sebagaimana seorang motivator menganjurkan kata-kata mantranya: “Satu-satunya kekuatan manusia adalah kekuatan batin yang disertai tekad kuat. Tak seorang pun mampu menahan keinginan kuat Anda. Bila kita punya niat dan tekad, besi batangan pun bila digosok terus akan menjadi jarum!”

Mantra yang lain, ”Fokuslah pada peristiwa yang paling menyenangkan lalu asosiasikan dengan cara memvisualkan, mendengarkan dan merasakan peristiwa itu dengan intens”.

Latah dan trend menjadi budaya di masyarakat yang lemah dalam pola pikir kritis (sebagaimana tulisan yang lalu tentang “mindset”), dikarenakan krisis akan makna hidup yang makin maju tapi selalu ingin shortcut atau jalan pintas.  Ini menjadi  temuan yang jelas sekaligus memalukan karena banyak slogan dan semangat bombastis tidak mendidik dan tidak ada relevansinya dalam hal kinerja, bahkan hidup kesaksian yang benar.

Di 20 perusahaan dimana saya memberikan inhouse training, mereka mengatakan bahwa baru disadari ternyata perusahaan selama ini sering membuang banyak uang untuk membayar para profesionalnya mengikuti pelatihan motivasi seperti itu, dan hasilnya hanya mendapatkan yel-yel saja. Berarti investasi perusahaan untuk menghasilkan sumber daya manusia dengan kualifikasi tinggi ternyata nol besar. Survei membuktikan perusahaan tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Dalam hal kinerja, karakter, etos kerja, tidak ada perubahan. Eksistensi diri menjadi pribadi yang aneh dan rumit bahkan terkesan heboh dengan perangai yang sepertinya fresh always tapi ditopengi kepalsuan karena membangun spirit yang bersifat situasional melalui yel-yel belaka.

Richard Branson, CEO Virgin Group, ingin mengarungi dunia, menikmati ruang, menyendiri untuk introspeksi, dengan mengendarai balon udara karena ia ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk bisnis yang digelutinya. Hidupnya sudah dibatasi ruang waktu dengan komunikasi nirkabel tanpa henti, hanya bicara bisnis melulu. ”Sedang bersantai pun, saya tidak pernah berhenti berpikir. Otak saya bekerja sepanjang waktu selama saya terjaga, terus mengeluarkan dan mengolah gagasan,” katanya.  Dia pun berkesimpulan, “Cintailah hidup dan nikmati sebanyak-banyaknya setiap saat, lakukan perenungan jadikan setiap detiknya berharga, jangan mudah menyesal.”

Aristoteles mengatakan, Allah sebagai sosok “pembangkit energi” yang tidak berpribadi dan tidak terbatas. Sumber energi untuk mengembangkan diri ini menjadi akar dari suatu gerakan zaman baru. Protagoras (abad 5 sebelum Masehi) pun mengatakan, ”Manusia adalah tolok ukur dalam segala hal”.  Inilah paganisme modern dengan menganggap, mengasumsikan, dan menyembah Allah di dalam ciptaan (Abraham Kuyper-Lectures on Calvinism).

Janganlah kita selalu terjebak dengan konsep diri akhirnya menjadi ilah atau idols (berhala) sebagaimana dikatakan bahwa kita memiliki potensi diri yang nyaris tak terbatas; kita berkuasa atas diri kita dan bahkan kita bisa menentukan nasib kita seperti dalil dari Anthony Robbins yang tertuang dan tertulis didalam bukunya “Unlimited Power”.   

Dunia management pernah dihebohkan filosofi Jack Welsch, CEO General Electric, yang sangat terkenal, “the smartest people in the world always hired the smartest people in the world”. Sepertinya ada nilai-nilai arogansi di dalam diri pribadi CEO tersebut. Nyatanya tidak. Dia sedang membongkar ketidakefisienan di dalam struktur organisasi dan perlu menyaring ulang kapasitas para pekerjanya. Ini terkenal dengan hukum 4E (energy, energize, edge, dan execute).

Apa yang dicari orang dalam kurun waktu hidup yang terbatas ini? Jabatan, harta, dan pengakuan.  Ini adalah korban dari hukum teori Abraham Maslow, di mana manusia dibentuk dalam suatu jenjang untuk mencapai nilai tertinggi, dan nilai akhir ada pada diri manusia yang menilainya.   

Bersyukurlah profesional Kristen yang mengerti arti nilai atau konsep nilai yaitu perspektif akan kedaulatan Allah yang perlu dipikirkan, digumulkan, direnungkan, ditelusuri dengan seksama sebagaimana Rasul Paulus katakan di kitab Roma 12: 1, 2. Hal mempersembahkan tubuh dikaitkan dengan nilai ibadah sejati. Jangan menjadi serupa dengan dunia ini tapi berubahlah. Ini dikaitkan dengan pengenalan akan kehendak Allah yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Francis Schaeffer dalam bukunya “A Christian Manifesto” mengatakan, kerohanian yang benar tidak hanya melingkupi seluruh kehidupan, tetapi  juga tiap bagian dari spektrum kehidupan.  Jadi di sini kita melihat bahwa Allah memiliki ”cetak biru” bagi setiap diri kita dalam rancangan-Nya. Karena kesuksesan atau keberhasilan adalah milik Tuhan, semua sumber daya yang dimiliki manusia adalah kepunyaan-Nya.

Dimensi kekekalan dalam mengelola hidup dan kerja harus dipertanggungjawabkan. Sebagaimana tertulis bahwa setia dalam perkara kecil, setia juga dalam perkara besar (Lukas 16: 10). Perspektif seperti ini akan melahirkan logika ilahi yang bersifat menerobos. Keuntungan yang bernilai kekal tidak dapat diukur dengan uang (sebagaimana yel-yel dari para motivator yang membius dan akhirnya membuang iman sejati diganti kepalsuan sejati). Kepuasan muncul saat seseorang dapat membangun kinerja dan profesionalitasnya tanpa menggadaikan jiwa dan nilai imannya.

“Apakah yang ada di tanganmu”, kalimat motivasi ini didasari panggilan dari Allah Abraham, Isak, dan Yakub kepada Musa (Keluaran 4: 2) untuk membawa pembebasan bangsa Israel.  Allah mengajarkan kepada kita bahwa untuk melihat sesuatu tidak dibatasi uang semata sebagai ukuran kesuksesan, tapi justru jauh melampaui uang karena uang adalah materi yang terbatas tapi sekaligus bisa menjadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6: 10). 

Robert Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad Poor Dad” mengatakan bahwa ayat yang mengatakan seperti itu adalah konsep Allah yang miskin, bukanlah kebetulan karena di dalam ayat yang sama dari Rasul Paulus dilanjutkan bahwa banyak orang menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka oleh karena kerakusan dan ketidakmengertian akan makna uang (1 Timotius 6: 10b).

Itu semua realitas  yang mempertontonkan bahwa yang ingin sukses, dan kaya, terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamnkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (1 Timotius 6: 9).

Apa yang menjadi inti motivasi hidup kita yang berkorelasi dengan kesuksesan yaitu bahwa Allah memberi nilai kekal kepada setiap pribadi sehingga akhirnya mampu menempatkan diri di dalam rencana dan pembentukan Allah dengan pemberdayaan kapasitas diri di dalam waktu yang ada. Inilah misteri hidup yang diterobos oleh Dr. Stephen Tong yang mengatakan, ”Saya memeras hidup, memeras talenta, memeras kesehatan demi mencapai efisiensi yang paling maksimal dengan keyakinan bahwa waktu begitu singkat.  Jiwa yang selalu ingin berkenan di hati Tuhan dan menggugah banyak orang supaya tidak tertidur dan tidak mencari kenikmatan diri sendiri melainkan setia dan taat kepada Tuhan. Always think of everything from God’s perspective, itulah rahasia arti sukses.q

Komentar


Group

Top