Manajemen

Ciri-Ciri Pengikut yang Efektif

Penulis : Harry Puspito | Mon, 25 February 2008 - 18:01 | Dilihat : 10954

Harry Puspito*

(hpuspito@indosat.net.id)

 SEPERTI sudah dibicarakan sebelumnya, menurut Robert E. Kelley (The Power of Followership, 1992) seperti dikutip dalam buku Anthony D’Souza (2001) yang berjudul Empowering Leadership dua dimensi yang penting ketika kita melihat seorang pengikut

adalah kemampuan berpikir yang independen dan dimensi kemampuan bekerja keras.  

Dua dimensi ini ternyata sangat alkitabiah karena ‘manusia baru’ diperintahkan untuk melakukukan segala hal dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kolose 3: 23). Sedangkan di sisi lain, Alkitab juga meminta kita untuk: “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.” (Kolose 4: 5). Ayat-ayat ini jelas meliputi apa yang kita lakukan ketika bekerja dalam tim dan bersikap sebagai bagian dari kelompok di bawah seorang pimpinan.

Dari dua dimensi ini kemudian bisa diidentifikasikan lima tipe pengikut sebagai berikut: 1) ‘Pasif’ (pasif; tidak berpikir bebas, tidak kritis); 2) ’Yes Man’ (aktif; tidak berpikir bebas, tidak kritis); 3) ’Kritikus’ (pasif; berpikir bebas, kritis); 4) ’Efektif’ (aktif; berpikir bebas, kritis); 5) ’Tanggung’ (sedang-sedang). Kita bisa melihat berbagai tipe pengikut ini namun memang bagaimana distribusinya seperti apa di lingkungan kita, belum ada statistiknya.

Kali ini kita akan melihat secara garis besar ciri-ciri pengikut yang ideal itu, yaitu yang bisa ambil bagian secara efektif dalam kerja tim. Pengikut yang efektif mampu berpikir secara independent, dan seorang yang bekerja-keras untuk pimpinan atau organisasi di mana dia menjadi bagian. Secara lebih detil bagaimana karakteristik pengikut yang efektif ini?

 

Karakteristik pengikut yang efektif 

Menurut penulis yang sama kualitas pengikut yang efektif adalah mereka yang memiliki self-management yang baik; komitmen; kompeten dan fokus; dan keberanian. Pada tulisan ini kita akan melihat secara sepintas keempat karakteristik tersebut. Pada tulisan-tulisan berikut kita akan mendalami arti masing-masing.

Self management memiliki banyak arti tapi pada dasarnya berhubungan dengan disiplin atau penguasaan diri. Seorang pengikut dengan self management yang baik mampu berpikir untuk diri sendiri. Dia bisa mengontrol diri dan kebebasannya, dan bisa bekerja tanpa supervisi yang ketat. Bahkan dia mengidentifikasikan diri sendiri sebagai sang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sehingga mampu memberikan yang terbaik dalam suatu kerja tim.

Seorang pengikut yang efektif memiliki komitmen kepada sesuatu, berupa suatu alasan, misi, organisasi, gagasan di samping terhadap hidup dan karirnya sendiri. Dia melihat sang pemimpin sebagai petualang bersama dalam suatu usaha yang memiliki nilai. Dia memiliki loyalitas untuk memuaskan kebutuhan organisasi di mana dia menjadi bagian.

Seorang follower yang efektif tidak sekadar memiliki karakter yang kuat tapi juga memiliki ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya secara efektif. Dengan kata lain dia memiliki kompetensi untuk menjalankan tugasnya. Dia terus belajar, belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuannya. Seorang follower yang efektif mau bekerja ekstra tapi dia menyelesaikan pekerjaan utamanya dengan baik. Dia tahu kekuatan dan kelemahannya, dan menggunakan kekuatannya dalam bekerja dan menutupi kelemahannya dengan belajar, bahkan melibatkan orang lain jika memungkinkan.

Seorang pengikut yang efektif jelas harus bisa dipercaya dan seorang yang berani. Dia berani berpikir dan mengemukakan pendapat dan gagasan-gagasannya. Dia seorang yang bisa berpikir kritis terhadap lingkungannya dan memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya itu. Dia berani mengambil tanggung jawab dalam pekerjaannya, berani melayani, berani menantang dan berani terlibat dalam perubahan. Keberaniannya disebabkan dia memiliki integritas yang kuat.  

Jika kita belajar dari Alkitab, keberhasilan yang sejati adalah bersifat holistik, yaitu dalam segala aspek penting hidup kita (lihat Mazmur 1: 1-3). Keutuhan dan keseimbangan ini biasa kita lihat dalam dimensi-dimensi yang berhubungan dengan kita pribadi, yaitu kerohanian, kesehatan, pengetahuan, keluarga, sosial, pekerjaan dan pelayanan, keuangan dan rekreasi. Namun kita juga bisa melihatnya lebih fokus dalam peranan-peranan kita di berbagai komitmen kita.

Karena itu perlu kita pikirkan, bagaimana kinerja kita dalam ’semua’ lingkungan di mana kita telah menjadi bagian, seperti keluarga, gereja, tempat bekerja, kelompok kerja, persekutuan di kantor, kepanitiaan dan kelompok-kelompok lain. Dalam hal apa kita perlu memperbaiki diri? Self-management, komitmen, kompeten, atau keberanian? Di mana khususnya kita masih harus memperbaiki diri? Tuhan menolong dan memberkati.q

 

*Penulis adalah Partner di Trisewu Leadership Institute

Komentar


Group

Top