Guru Besar Theologia Sorot Reformasi Gereja Dari Kebudayaan, Politik Dan Sejarah

Penulis : Candra | Wed, 8 November 2017 - 16:33 | Dilihat : 177
kuliah-umum-500-tahun-reformas.jpg
Prof. Dr. Hans Peter Grosshans Guru Besar Theologia Protestan, Muncher University, Jerman saat memberikan pemaparannya. Foto : Candra

Reformata.com, Jakarta – Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Indonesia, bekerja sama dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) gelar kuliah umum 500 Tahun Reformasi.

Bertempat di Gedung Oikumene, Jl. Salemba Raya No. 10. Jakarta Pusat, Kuliah yang digelar pada Senin (6/11), lalu itu menghadirkan Guru Besar Theologia Protestan, dari Muncher University, Jerman, Prof. Dr. Hans Peter Grosshans sebagai pembicara. Professor di bidang teologi Sistematika dan Dogmatika ini memaparkan “Reformasi Luther” dari sisi yang tidak biasa. Bukan dari sisi teologi, melainkan dari sisi kebudayaan, politik dan sejarah.

Dalam paparannya itu Hans mengatakan, bicara tentang reformasi, berarti juga bicara tentang adanya perubahan-perubahan, yang tentunya tidak selalu disukai banyak orang. Reformasi abad 16, papar Hans, secara perlahan membentuk sebuah landscape politis yang baru di Eropa, sehingga mengubah dasar hukum dari negara-negara di Eropa. Bukan lagi berdasarkan agama atau religius, melainkan berganti kepada dasar logika. Hal ini berarti segala sesuatu itu harus dapat dimengerti dan dapat dibuktikan kepada setiap orang. Menurut Prof Hans, inilah dasar dari sebuah negara modern.

Hans juga menyorot perbedaan antara kebudayaan di Eropa dengan kebudayaan di Indonesia.  Di Indonesia, kata dia, lebih mempertimbangkan komunitas atau kelompok, sementara di kebudayaan barat lebih individualistis.

Namun demikian  Prof. Hans menggarisbawahi tentang penggunaan kata individualitas.  Sebab banyak orang salah interpertasi tentang individualisme. Sering orang beranggapan individualisme itu sesuatu yang buruk, tetapi kenyataan Individualisme itu muncul justru dalam apa yang Luther lakukan ketika mempertahankan prinsip yang dimilikinya.

Hans menjelaskan ketika itu Luther adalah seorang yang tidak penting atau bukan seorang tokoh, bila dihadapkan dengan pemimpin atau pangeran-pangeran pada masa itu. Karena itu dia disuruh menarik perkataannya yang tertuang dalam 95 dalilnya, tapi Luther tidak melakukan itu.

“Luther tidak mau menarik pernyataanya, karena bertentangan dengan hati nuraninya. Hal ini sekaligus memperlihatkan kontribusi lainnya dari reformasi, yakni soal integritas individu yang mendapat tempat di hadapan otoritas gereja (kolektif dan institusional). Jika kita yakin bahwa ini adalah kebenaran maka kita tidak bisa digoyahkan” ujarnya.

*Candra

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top