Pela Gandong, Eratkan Silaturahmi Antar Agama Di Maluku

Penulis : Candra | Wed, 22 November 2017 - 09:26 | Dilihat : 346
pela-gandong-membuat-semua-aga.jpg

Reformata.com. Ambon – Konsep hidup Pela Gandong telah berhasil membuat masyakarat di Maluku kembali rukun.  Hal itu dikatakan Abidin Wakano, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Maluku dalam International Interfaith Dialogue (IID) di Wisma Gonzalo, Ambon, Jumat (17/11), lalu. Lebih lanjut Abidin juga mengatakan, bahwa Pela Gandong yang sejak lama sudah diterapkan di Maluku membuat pemimpin dari setiap agama di kepulauan Maluku menyepakati pentingnya menciptakan perdamaian dan menjalin kehidupan yang rukun antar umat beragama.

"Pela Gandong mengingatkan, bahwa kita semua adalah basudara yang harus saling menjaga dan hidup bersama. Masyarakat saat ini sudah hidup dengan normal, dan kegiatan dialog lintas iman yang diikuti peserta dari berbagai organisasi dan agama yang berbeda menjadi salah satu cara untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain. Saya berharap generasi muda dapat meneruskan nilai-nilai Pela Gandong ini," ujar Abidin dalam rilis pers GMKI yang diterima reformata.com. (19/11).

Pela Gandong merupakan intisari dari kata “Pela” dan “Gandong”. Pela adalah suatu ikatan persatuan, sedangkan Gandong mempunyai arti Saudara. Jadi Pela Gandong merupakan suatu ikatan persatuan dengan saling menganggap semua bersaudara.

Pasca konflik yang melanda Maluku, yang merupakan tragedi yang memilukan bagi orang Maluku membuktikan bahwa nilai-nilai sakral dalam ikatan Pela Gandong begitu mudah rapuh. Padahal, Pela Gandong yang terjalin sudah lama bahkan sejak nenek moyang mereka. Oleh karena itu pemerintah mulai mengupayakan budaya Pela Gandong sebagai suatu cara agar terciptanya suatu kebersamaan walau berbeda ras, suku dan agama agar terciptanya Maluku yang damai, tentram dan aman.

Ketua MPH PGI, Pdt. Albertus Patty juga mengapresiasi bahwa Pela gandong telah berhasil membuat masyarakat Ambon kembali hidup rukun antar umat beragama.

“Masyarakat Ambon telah berhasil bangkit dari pengalaman pahit. Pengalaman ini semakin mendewasakan dan mempererat hubungan antar umat beragama di kota Ambon, dan masyarakat Maluku secara umum,” ujar Patty

Patty juga mengatakan bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan bagi generasi muda agar pemuda dapat mengimpelemantasikan nilai-nilai tersebut di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

International Interfaith Dialogue dilaksanakan di Ambon dari tanggal 16 sampai 19 November 2017. Peserta yang hadir berjumlah 150 orang dan berasal dari berbagai negara, daerah, dan organisasi seperti GMKI, HMI, PMII, IMM, PMKRI, dan lainnya.

*Candra

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top