Sudut Pandang

Yerusalem, Antara Isu Rohani Dan Politik (2)

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Thu, 14 December 2017 - 14:02 | Dilihat : 1926
Tags : Israel Jerusalem Palestina Yerusalem

Terkait


#SUP - Mungkin tak banyak yang sadar, bahwa kisah kerajaan Israel sangat berliku. Tapi itulah fakta sejarah yang dicatat Alkitab, tanpa kita harus menduga-duga. Saya sering merenung dengan kebenaran Alkitab yang terang benderang, bukan rekayasa, teguran keras dalam pembentukan umat, bukan puji puja yang menggelapkan mata. Semua mengajak orang percaya untuk sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, tak hanya sekedar menyebut Tuhan tapi lalai melakukan kehendak Nya (Matius 7:21-23), tak hanya yakin pada khotbah, tapi juga mengujinya (1 Tesalonika 5:21-22).

BACA JUGA: #JERUSALEM ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (1)

Sejarah Israel sebagai sebuah bangsa, berawal dari janji Tuhan tentang keturunan kepada Abraham (Kejadian 15:5-6). Lalu Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham yang diwujudkan dalam sunat terhadap orang seisi rumahnya, termasuk para budak (Kejadian 17:12-13), mulai dari usia 8 hari. Mungkin kita akan bertanya, bayi umur 8 hari mana bisa mengerti? Di sinilah letak kesalahan manusia karena lupa bahwa Allah yang sepenuhnya ber-inisiatif menyatakan janji dalam kemurahan Nya, bukan keunggulan pikir atau keagamaan kita. Itu sebab Abraham disebut sebagai Bapa orang percaya dari segala bangsa (Kejadian 17:5), melalui Ishak (Kejadian 17:15,16,21), dan Yakub (Kejadian 25:23-26), dan Yehuda (Kejadian 49:8-10), dan kemudian Daud (2 samuel 2:4-7), hingga akhirnya penggenapan dalam Yesus Kristus yang disebut sebagai “Anak Daud”, “Singa Yehuda” (Yohanes 7:42, Matius 21:9, Wahyu 5:5). Dan berita sukacita itu tiba pada kita melalui pemberitaan para rasul (Kisah 1:8).

BACA JUGA: #SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.5)

Lalu siapa yang dimaksud dengan keturunan Abraham, rasul Paulus yang asli Israel dari suku Benyamin (Filipi 3:4-6), dengan amat sangat jelas telah mengatakan; Bukan keturunan-keturunan (seolah banyak orang), melainkan keturunan (satu orang), yaitu Yesus Kristus (Galatia 3:16). Dari Yesus Kristuslah janji berkat Allah digenapi bagi semua orang percaya. Sekali lagi, karena itulah orang percaya disebut dengan anak Abraham (Ibrani 11:12). Sementara yang tidak mau percaya, Yesus Kristus adalah Mesias, yaitu orang Yahudi tulen yang menyebut diri anak Abraham, disebut oleh Yesus Kristus sebagai anak Iblis (Yohanes 8:37,39,40,44). Merekalah yang membunuh Yesus Kristus di Jerusalem. Jadi jelas, yang disebut anak Abaraham bukan karena keturunan jasmani, tapi rohani, yaitu taat dan melakukan perintah Allah. Ini adalah perkataan Yesus sendiri yang tidak mungkin direvisi.

BACA JUGA: #SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.4) 

Ingat Zakheus pemungut cukai, yang menurut orang Israel pendosa, karena pertobatannya disebut Yesus sebagai anak Abraham? (Lukas 19:7,9). Zakheus disebut Yesus anak Abraham bukan karena kebangsaannya, melainkan keimanannya. Hati-hati, jangan spekulasi tentang arti umat pilihan, anak Abraham, Yesus Kristus, Dialah penggenapan janji berkat bagi dunia, bukan keturunan yang banyak. Bacalah dengan teliti silsilah Yesus Kristus dalam Matius 1, jelas sekali disebut anak Daud, anak Abraham. Dari Abrahamlah (penerima janji) silsilah Yesus Kristus (penggenapan janji) dimulai, bukan Adam juga bukan Nuh. Dan, di sana, di silsilah Yesus Kristus ada Rahab (perempuan Yeriko), Rut (perempuan Moab), mereka bukan Israel asli. Kedaulatan pilihan Tuhan tak dibatasi kebangsaan, termasuk Niniwe sebagai bangsa yang nabi Yunus tak bisa menerimanya karena bangsa kafir. Demi keyakinan nasionalismenya hanya Israel penrima anugerah, maka perintah Allah pun tidak ditaatinya. Ah, Alkitab memang luar biasa, tapi memang capek sih mempelajarinya dengan benar, namun hati penuh sukacita, sehingga kita tidak asbun (asal bunyi).

BACA JUGA: #SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.3)

Kita mundur dulu ke era Musa yang memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir. Di Mesir Israel berkembang menjadi 1 bangsa dengan 12 suku. Dari Mesir, Israel dipanggil Tuhan agar beribadah kepada Allah (Keluaran 5:1-2, Hosea 11:1). Ini menjadi gambaran panggilan pada orang berdosa (perbudakan), untuk menjadi orang percaya (merdeka). Itulah yang dikatakan rasul Petrus pemimpin gereja yang pertama, bahwa kita dipanggil untuk menjadi umat kepunyaan-Nya (1 Petrus 2:9-10). Lepas dari perbudakan dosa, dan hidup merdeka sebagai umat Allah, pemenang yang tidak takut pada penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparaan, ketelanjangan, bahaya, pedang, bahkan kematian sekalipun (Roma 8:31-39). Lebih dari pemenang, bukan menang-menangan mendapat semua yang diinginkan, melainkan berani menyerahkan diri semuanya kepada kehendak Allah. Ini umat sejati yang dilukiskan dengan terang oleh rasul Paulus.

Perjalanan Musa berhenti di Nebo setelah 40 tahun memimpin Israel di padang gurun, dan dia meninggal usia 120 tahun (Ulangan 34:1-7). Musa melihat kedegilan hati manusia, mulai dari orang Mesir yang ditulahi Tuhan, juga umat Israel yang mati masal dipagut ular, ditelan bumi, dan dia menuliskan realita hidup manusia ini dalam Mazmur 90, sekaligus apa yang menjadi harapan orang yang setia. Suksesi Musa dilanjutkan oleh Yosua, abdi Musa (Keluaran 33:11), yang diangkat sebagai penggantinya atas perintah Allah (Bilangan 27:18-23).

BACA JUGA:#SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.2)

Yosua memimpin Israel memasuki tanah Kanaan, tanah perjanjian yang diberikan Tuhan kepada Israel (Yosua 1:1-7). Ya Tuhan pemilik bumi lah yang memberikan tanah perjanjian kepada Israel, mereka tak pernah sukses merebut pada dirinya, melainkan karena pertolongan Tuhan semata. Semua agama Samawi (yang percaya Allah itu Esa), yang jumlah (kuantitas) terbanyak didunia, pasti bisa memahaminya. Melewati berbagai perang yang dimenangkan Israel, Yosua pun membagi tanah untuk 12 suku. Pada waktu itu tanah Israel meliputi hingga Kana di Libanon (bukan Galilea) yang diduduki suku Asyer (Yosua 19:28-31). Dataran tinggi Golan gunung Hermon diberikan kepada suku Manasye, dan suku lainnya (Yosua 13:5, 21:27), namun kini status qou, tarik menarik dengan Suriah. Juga dataran tinggi Medeba (Yosua 13:8-10) yang kini ada diwilayah Yordania. Begitu juga yang berbatasan dengan Mesir. Artinya banyak tanah Israel yang kini bukan lagi miliknya melainkan milik negara lain, bahkan separuh Israel terbagi dengan Palestina. Betlehem kota bersejarah juga ada diwilayah Palestina. Bahkan kuburan nenek moyang Israel; Abraham, Ishak, Yakub ada di Makhpela, di Hebron, yang kini juga menjadi daerah Palestina (Kejadian (23:19, 49:29-33). Apakah Betlehem, kota kelahiran raja Daud, Yesus Kristus, dan Makhpela kubur para leluhur Israel tak penting seperti Yerusalem? Apakah Tuhan tak mampu menjaga Nya? Hmm, perlu jujur dan jernih untuk memahami misteri dalam sejarah Israel.

BACA JUGA:#SUP - MENJAWAB ZAKIR NAIK (SERI.1)

Israel pertama, dengan Israel kini, memang jelas berbeda, ya tanahnya, ya sukunya yang kini campur baur, tidak jelas seperti semula, akibat pembuangan Israel kerajaan utara (10 suku) oleh Asyur. Di era Yoshua dan diteruskan oleh Hakim-Hakim Israel berdiri dengan sistim pemerintahan Teokrasi, yang kemudian berubah menjadi Monarki, dan kini Republik. Ini isu penting dari sudut politik Israel. Tapi nanti ya, sabar dulu, lagi dimasak.

Nikmati SUP nya agar semakin sehat pikiran kita dan bisa lebih menikmati Alkitab dari semua bagian. Biarkan Alkitab yang menafsirkan Alkitab dengan cara; Baca, Pelajari, ayat tidak boleh lepas dari pasalnya, dan pasal tidak boleh lepas dari kitabnya, dan kitab dari kitab-kitab lainnya. Alkitab itu PL dan PB satu kesatuan, jadi tidak bisa semau kita mencomotnya demi kepuasan tafsir kita, apalagi memelintir maksud Alkitab demi kepentingan diri. Jadi semua ayat-ayat yang disebut harus dibaca dengan tenang. Dan perkataan Donald Trump tentang Jerusalem harus disikapi dengan benar, bukan sekedar dihubung-hubungkan hal yang sesungguhnya tidak berhubungan.      

SUP berikut segera dikirim, semakin pedas biar semakin segar (tetap senyum ya).

Lihat juga

Komentar


Group

Top