Sudut Pandang (SUP)

Gereja dan Perbedaan

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


Perbedaan bukanlah kata asing di Alkitab. Sejak mula manusia di-ciptakan, perbedaan justru me-rupakan ekspresi kekayaan yang tidak terbilang. Tataplah alam se-mesta yang megabesar itu, dan catatlah ada apa di sana? Bintang, bulan, matahari dan planet lainnya, ada dalam perbedaan namun setia dalam kesenadaan peran, yakni keteraturan. Di dunia, air pun tak kalah semaraknya dengan perbe-daan, bahkan warna-warni perbe-daan menjadi kekaguman tersen-diri atas kekayaan lautan. Dan, tentu saja, manusia sebagai super-star ciptaan Tuhan, diciptakan dalam kesehakekatan sebagai ma-nusia (yang satu), namun sebagai pria dan wanita (yang dua).

Kekayaan dalam perbedaan ini adalah anugerah besar. Perbedaan yang menjadi ruang luas, di mana cinta kasih bertumbuh, berkem-bang dan berbuah. Perbedaan yang memungkinkan manusia saling membutuhkan dan saling mengisi. Tragis, itulah kata yang tepat untuk melukiskan kejatuhan ke dalam dosa, yang mengakibat-kan perbedaan menjadi malapetaka bagi manusia. Saling mengasihi berubah menjadi saling menguasai. Saling mengisi juga berubah drastis menjadi saling meniadakan.

Namun, di kegelapan itu, muncul sinar pengharapan dari salib yang kembali mempersatukan. Yesus telah tersalib, menjembatani keterpisahan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Kematian-Nya, memulihkan dan memperbaharui hubungan antar anak manusia. Dan untuk itu Dia berkata Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).

Gereja sebagai agen Kasih, dituntut untuk mampu memainkan perannya secara maksimal. Pada dirinya sendiri, gereja diingatkan bahwa perbedaan adalah keaneka-ragaman dalam kesatuan. Paulus dalam I Korintus 12:12-31, melu-kiskan kepelbagaian sebagai banyak anggota namun satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Perbe-daan umat, adalah kekayaan yang harus diurus, bukan diberangus. Perbedaan yang harus tunduk pada kekuasaan Kasih (kuasa untuk saling berbagi bukan menguasai atau meniadakan).

Itu sebab, perbedaan dalam konteks denominasi harus disikapi dengan bijak dan elegan. Perpe-cahan yang permanen di antara sesama tubuh Kristus, hanyalah, ekspresi kemiskinan Kasih Kristus didalam gereja. Jadi, persatuan gereja, sebagai tubuh Kristus, merupakan sebuah keniscayaan. Lalu, bagaimana dengan perbe-daan keyakinan (agama)? Apakah mungkin lahir sebuah persatuan? Alkitab memang secara tegas mengatakan, tidak mungkin gelap bersatu dengan terang . Namun, Alkitab yang sama juga berkata, Kasihilah sesamamu manusia, bahkan, musuhmu sekalipun (Lukas 6:27).

Jadi, perbedaan yang tidak tersatukan, tidak sama dengan, permusuhan abadi. Bahkan, gelap dan terang,  harus diterjemahkan sebagai sebuah kesempatan: kesempatan, untuk menerangi yang gelap. Permusuhan, adalah antara gelap dan terang (hakekat sifat), bukan manusianya. Di sini gereja harus memainkan peran utamanya, yang menjadi panggi-lan hidupnya, yakni, menabur damai di Bumi. Gereja tak diminta mengumbar amarah pada kejahat-an dari musuh gereja . Namun, gereja dituntut menyuarakan kebenaran dalam keberanian ke-pada siapa saja, termasuk musuh gereja . Sebuah sikap paradoks (dua hal bertolak belakang, tapi keduanya betul) yang tak mudah. Tak mengumbar amarah tapi bersuara lantang. Tak mudah, tetapi juga tak susah bagi mereka yang telah mengalami pertobatan oleh kasih Kristus.

Pertobatan, yang membawa manusia percaya, mampu bahagia dalam penderitaannya dan terse-nyum dalam kedukaannya. Batapa dahsyatnya kekuatan gereja. Maka, sangat niscaya gereja menaklukkan musuh dengan kuasa kasih. Persatuan dalam perbedaan keyakinan adalah wilayah kedaulatan Tuhan, namun membagi diri, untuk hidup saling menghargai, dan mengasihi, adalah panggilan kita bersama sebagai gereja Tuhan. Di tengah situasi seperti ini, khususnya dalam konteks Indonesia yang sangat pluralis (Suku, Agama, RAs), umat Kristen harus melengkapi diri; dengan kesadaran dan pembela-jaran yang tak henti.

Sadar, bahwa kita masih di Bumi, dan umat butuh komunikasi dalam bahasa bumi , bukan bahasa angin surga , yang jauh dari realita hidup. Sadar, bahwa kita tak sendiri, karena itu perlu pembau-ran dalam pergaulan pluralis, sebagai reseprentasi Kasih. Sadar, bahwa yang tidak mudah itu tidak sama dengan tidak bisa . Sadar, kesempatan sangat ter-buka, jangan berkurung diri dan terperangkap dalam ruang doa dan puasa, tapi juga tindakan nya-ta. Melengkapi diri sebagai anak bangsa yang tahu hak dan kewajibannya. Gereja harus be-rani berkompetisi bukan konfron-tasi, dengan umat agama lainnya. Berkompetisi dalam mengaktuali-sasi mutu iman dan pengetahuan, untuk bangsa. 

Apakah gereja fasih berdiskusi tentang; UUD, UU, kepres, Kep-men? Kalau tidak, bagaimana mau berbicara! Jangan hanya sekadar menghafal ayat suci, tapi tidak mampu mengaktualisasi. Apakah gereja terus turut berpar-tisipasi, bukan saja membangun negeri tetapi juga mengawasi. Kalau semua dikerjakan, tentu saja jauh lebih mudah, memper-hitungkan berbagai kemungkinan yang bisa merusak sendi-sendi ke-bersama an, dalam berbagai per-bedaan, sebagai kekayaan bangsa.

Akhirnya, selamat belajar menyikapi perbedaan dalam ke-dewasaan, sehingga, anda layak disebut pengawal bangsa dan bukan noda bangsa. Selamat ber-karya dalam perbedaan*

Komentar


Group

Top