Yerusalem Ibukota Israel (5)

Penulis : Bigman Sirait | Wed, 20 December 2017 - 09:16 | Dilihat : 2900
Tags : Israel Yerusalem

SUP-YERUSALEM, ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (5)

Klaim Amerika bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel mendapat tanggapan serius dari OKI, organisasi negara Islam yang beranggotakan 57 negara yang balik mengklaim bahwa Jerusalem Timur (Old City), adalah ibukota Palestina. Sementara DK PBB akan menggelar voting resolusi atas klaim Amerika, yang juga tercatat anggota tetap DK PBB. Yang bermasalah secara langsung adalah Israel dan Palestina, namun hiruk pikuk lebih kencang diluar. Inilah realita politik yang selalu punya latar belakang kepentingan. Perlu cerdas untuk memahaminya agar tak terjebak di pusarannya.

BACA JUGA: MEMAHAMI PERIODE JAMAN AKHIR

Israel memang punya sejarah panjang, sehingga kusutnya realita politik tak terhindarkan. Mereka seakan bermusuhan sejak dulu kala. Sejatinya Palestina bukanlah Filistin, tapi sebutan menunjuk musuh Israel. Filistin adalah bangsa yang berasal dari orang Patrusim. Kasluhim, Kafotorin anak Misraim (Mesir). Mereka keturunan tidak langsung (Kejadian 10:6,13,14). Filistin terindikasi oleh sejarah sebagai pelaut yang berasal dari sekitar Egea, daerah pra Yunani dan menjadi pendatang di Kanaan. Mereka percaya dewa-dewa (Politeisme). Ketika Israel kembali ke Kanaan, Filistin telah ada di sana. Namun jauh kebelakang, lebih dari 430 tahun sebelumnya nenek moyang Israel; Abraham, Ishak, Yakub memiliki tanah dan bermukim di Kanaan. Israel sejatinya pulang ke kampung nenek moyang, dan mereka percaya Allah yang Esa (Monoteisme). Filistin mengalami kekalahan besar dari nabi Daud sang penulis Zabur atas pertolongan Allah yang Esa (2 Samuel 5:17-25). Dan raja Daud membangun kejayaan Israel. Perlu diketahui bahwa Allah Abraham (Ibrahim) yang menghukum habis Filistin (Yehezkiel 25:16, Zefanya 2:5).       

BACA JUGA: PEMBANGUNAN BAIT ALLAH KETIGA

400 tahun sebelum Masehi, Herodotos sejarawan Yunani, memakai nama Palestina untuk menunjuk musuh Israel yang telah kembali dari pembuangan 70 tahun di Babel. Jadi bukan menunjuk Filistin, melainkan gambaran musuh historis Israel dalam masa yang panjang. Dan ketika Israel kembali di zaman dari Babel di era kerajaan Persia, mereka dikembalikan ke Jerusalem, bukan tempat lain. Era Persia berlalu, kerajaan Yunani jatuh, dan imperium Roma berkuasa, mereka tetap memakai nama Palestina, dan itulah yang eksis hingga saat ini. Mari kita lurus-lurus sejarah dulu. Lalu mengapa situasi Israel dan Palestina seperti sekarang ini? Diperhadapkan pada situasi satu tanah dua negara.

BACA JUGA: KIAMAT SEMAKIN DEKAT

Bicara penjajahan, sejatinya Israel adalah negara paling menderita di kolong langit ini, karena dijajah secara bergantian sekitar 2400 tahun (500 tahun sebelum masehi oleh Babel hingga merdeka tahun 1948). Paling tidak tercatat; lepas dari Babel yang bengis, jatuh ke tangan Persia yang murah hati, lalu Yunani yang tidak sedikit rajanya menganiaya Yahudi. Awal masehi, Israel ada di bawah penjajahan Roma yang juga banyak raja yang kejam, hingga dihancurkannya Bait Allah tahun 70 oleh kaisar Titus. Tahun 330-634, era Roma Bynzatium, kebebasan Beragama terjamin. Tahun 614 Bangsa Persia (bukan kerajaan sebelum Masehi), menyerbu dan menghancurkan ratusan gereja yang dibangun oleh Roma Bynzatium. Tahun 636 Kaum Muslim yang baru lahir menguasai Jerusalem Timur dan menjadikannya kota suci yang ketiga setelah Mekkah dan Madinah.  Sekitar tahun 1009 Fitimiyah, penguasa Syiah yang bermula dari Tunisia terus berekspansi ke berbagai negara hingga Mesir. Menguasai Jerusalem membuat banyak kerusakan pusat peribadatan, dan menjadi pemicu lahirnya perang salib. Tahun 1099 Jerusalem dikuasai oleh Ksatria perang Salib, hingga tahun 1187 mereka dikalahkan oleh Saladin pangeran muslim dari Mesir. Lalu tahun 1263, Memeluke dari Mesir ganti menguasai Jerusalem. Tahun 1400 bangsa Mongol dibawah kepemimpinan Timurleng juga pernah menduduki Jerusalem. Tahun 1517 Ottoman dari Turki menguasai Jerusalem hampir 400 tahun. Dia melapisi Dome Of The Rock dengan emas, yang dikenal sebagai mesjid kubah emas. Yang pertama dibangun adalah masjid Al-Aqsa yang diyakini sebagai kiblat pertama umat Islam yang dibangun tahun 754. Renovasi terakhir oleh Salahudin ketika dia berkuasa di Jerusalem, dikenali dengan kubah abu-abu. Dalam penggalian arkeologi persis dibawah Al-Aqsa ditemukan situs kerajaan Israel dan diyakini di sekitar itu jugalah tempat Bait Allah. Bisa anda bayangkan mudahnya semangat saling klaim (perspektif sejarah masing-masing pihak), dan betapa sensitifnya isu seputar area ini.

BACA JUGA: #YERUSALEM ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (4)

Ketika sekutu pada perang dunia pertama, tahun 1917, menguasai Israel di bawah pimpinan jendral yang terkenal Allenbay dari Inggris, dikeluarkanlah deklarasi Balfour yang menyatakan Palestina sebagai tanah air Israel. Lalu ada resolusi PBB 24 Juli 1922 dan diberlakukan September 1923, yang berisi pengakuan atas sejarah Israel dan bahwa Palestina adalah national home bangsa Israel. Belum ini terealisasi muncul lagi resolusi PBB no 181 (II), 29 November 1947 yang berbunyi satu tanah dua negara Israel dan Palestina, dan Jerusalem menjadi kota Internasional, kota bersama. Ketika Israel merdeka tahun 1948, mereka diikat oleh resolusi no 181. Namun bagi Israel, ini sikap tidak tegas PBB, dan Israel berpegang kepada resolusi 1922, pengakuan sejarah Israel atas Jerusalem. Tak heran jika Israel dan Palestina terus menerus saling klaim wilayah Jerusalem yang kini menjadi kota suci bagi 3 agama (Yahudi, Kristen, Islam).

BACA JUGA: #YERUSALEM ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (3)

Lalu Jerusalem ibukota siapa? Jika melihat fakta sejarah, jelas ibukota Israel yang memang terkoyak dan terjajah dinegeri sendiri sekitar 2400 tahun. Namun jika melihat resolusi PBB 181 (II), tahun 1947 Jerusalem adalah kota bersama, inilah realita politik. Pertanyaannya, siapa yang paling berhak menentukan hal ini? Ujungnya pasti perdebatan, dan celakanya, banyak negara yang terlibat untuk membuat keputusan. Karena itu, isu ini masih panjang. Belum lagi berbagai kepentingan di baliknya. Di mana akan berakhir, adalah penantian tersendiri. Yang pasti perlu bijaksana memahami sejarah Israel dan realita politik yang ada, supaya kita tidak terjebak.

Tapi sangat penting bagi umat Kristen yang mengaitkan isu Jerusalem kepada kedatangan Mesias. Ingat, bagi Israel, Mesias belum datang dan mereka masih menantikannya, dan itu menjadi doa mereka di tembok ratapan. Jika Mesias datang, diyakini itu adalah kebangunan kembali kejayaan Israel. Sementara bagi Kristen, Mesias sudah datang (Yesus Kristus), dan jika Mesias datang yang kedua kalinya adalah kehancuran dunia. Beda sekali terminologinya. Soal kembalinya Israel setelah 70 tahun pembuangan, itu menunjuk pada hukuman Tuhan yaitu pembuangan Yehuda ke Babel (Yeremia 25:11-12), dan mereka sudah kembali, nubuat itu sudah digenapi, dan Daniel 9:2 juga menunjuk pada nubuat nabi Yeremia. Raja yang mengalahkan Babel dan akan mengijinkan mereka kembali sudah dinubuatkan nabi Yesaya (Yesaya 44:28), dan Daniel ada di Babel hingga tahun pertama pemerintahan Koresh (Daniel 1:21). Nubuat ini sudah digenapi dengan terang benderang (Ezra 1:1-2). Israel kembali ke Jerusalem dalam tiga gelombang dibawah kepemimpinan Zerubabel, Nehemia, dan Ezra. Entah bagaimana caranya soal 70 tahun yang jelas di Alkitab, nubuatan nabi Yeremia, dan sudah digenapi, ditafsir menjadi tahun 2018 setelah Israel merdeka 70 tahun. Lucukan, bukannya 70 tahun setelah dijajah/dibuang, tapi 70 tahun setelah merdeka. Sudah merdeka loh! Orang Israel di berbagai belahan dunia, dengan berbagai kewarganegaraan, banyak menguasai bisnis dunia, dari pasar uang hingga pasar modal. Dari media hingga permata. Dari industri  hingga teknologi. Mereka tidak bodoh dan tidak lemah.

BACA JUGA: #JERUSALEM ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (2)

Soal gelombang kembalinya Israel (Yahudi Diaspora), itu bukan isu baru, sudah ada sejak didirikannya gerakan Zionis oleh Theodor Herzl, yang kongres pertamanya tahun 1897 di Basel. Gerakan Zionis secara umum berarti kembali ke Sion (Israel), gerakan cinta tanah air. Dan setelah kemerdekaan Israel, jumlah Israel yang kembali ke Sion terus meningkat. Bagaimana lengkapnya? Sabar dulu ya lagi dibumbuin, biar sedap, nyata dan bukan asal. Nubuat bukan lubuat. Makanya harus diuji (1 Tesalonika 5:19-22).

Udahan dulu #SUP nya dimakan yang kenyang, yang kemarin-kemarin (SUP 1-4) perlu dicicipi ulang biar jatuh cinta pada rasanya. Selamat senyum dan senang ya!

BACA JUGA: #JERUSALEM ANTARA ISU ROHANI DAN POLITIK (1)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top