FKUB, Kerukunan Umat Beragama Di Jakarta Dipengaruhi Oleh Politik

Penulis : Candra | Fri, 22 December 2017 - 11:47 | Dilihat : 265
fkub-kerukunan-umat-beragama-d.jpg
Prof. KH. Dr. Syafii Mufid Ketua FKUB DKI Jakarta didampingi oleh perwailan lembaga-lembaga agama yang ada di KI Jakarta saat menggelar Konfrensi Pers tentang Refleksi FKUB DKI Jakarta. Foto : Candra

Reformata.com. Jakarta – Prof. KH.  Dr. Syafii Mufid, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta mengatakan, selama kurun 10 tahun berdirinya FKUB DKI Jakarta, kerukunan umat beragama mengalami up and down, atau pasang surut dan pasang naik.

“Kurang bagus hubungan antar umat beragama. Menurut saya itu terjadi karena mendekati Pemilu dan Pemilu Kada. Artinya, kerukunan umat beragama itu sangat dipengaruhi oleh kondisi politik, bukan disebabkan oleh perbedaan ajaran agama, perbedaan kultur tetapi riak-riak itu muncul mana kala dekat-dekat Pemilu atau Pilkada” Ujar Prof. KH.  Dr. Syafii Mufid saat mengadakan konfrensi pers tentang Refleksi FKUB tahun 2017 yang dilaksanakan di Kantor FKUB DKI Jakarta. Jl. Awaludin. Jakarta. (21/12).

Prof. KH.  Dr. Syafii Mufid yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta mengatakan, bahwa Politik telah memanfaatkan agama, menurut dia seharusnya agamalah yang harus memamfaatkan politik itu, agar politisi itu berjuang dengan sungguh-sungguh, agar bangsa Indonesia konsekwen dengan dasar negara, yaitu negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Politik itu memanfaatkan agama dan agama belum bisa memanfaatkan politik, dan sampai sekarang Undang-Undang tentang kehidupan beragama dan Undang-Undang tentang kerukunan umat beragama belum ada, yang ada baru Undang-Undang penistaan atau penodaan agama saja” ujar Syafii.

Syafii juga mengatakan, bahwa adanya upaya-upaya yang membuat Jakarta tidak rukun, meski demikian, menurut dia masyarakat Jakarta tidak bisa diprovokasi dengan hal kecil. “Yang terjadi sampai pada hari ini adalah Jakarta tetap rukun antar umat beragama, kalau di Jakarta itu intolerean, maka pada tahun 2017 tidak mungkian ada 12 permohoman rekomendasi mendirikan rumah ibadah yang sudah dikeluarkan oleh FKUB, diantaranya 7 Gereja Kristen dan 5 Masjid” terang Syafii.

“Saya menyebut ini karna saya ingin menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta itu toleransi nya kuat. Buktinya rumah ibadah yang telah mendapatkan IMB dalam kurun waktu 10 tahun berdirinya FKUB DKI Jakarta yang paling mengajukan pendirian rumah ibadah adalah Gereja, untuk 2017 ini, kami mengeluarkan rekomendasi pembangunan 7 gereja dan 5 masjid. Jadi fakta apalagi yang bisa dikatakan bahwa Jakarta itu inteloran?” tegas Syafii.

Dalam konfrensi pers itu selain Prof. KH.  Dr. Syafii Mufid, turut hadir Rm. Ignatius Suyadi dari Keuskupan Agung Jakarta. Pdt.Manuel Raintung dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Jakarta. Pedande Ray Sogata Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI).  Liem Wira Widjaya dari Wali Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dan Xs. Djaengrana Ongawidjaya dari Majelis Tinggi Khonghucu Indonesia (MATAKIN) dan perwakilan dari kementrian Pendidikan.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top