Pro-Kontra Yerusalem Disorot Dari Berbagai Perspektif

Penulis : Candra | Fri, 22 December 2017 - 11:48 | Dilihat : 326
pro--kontra-yerusalem-dari-ber.jpg
Pdt. Gomar Gultom Sekum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) bersama para pembicara di Talkshow Prokontra Yerusalem dari berbagai Perspektif. Foto: Candra

Reformata.com. Jakarta - Memandang masalah Yerusalem bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, begitu kompleks, ini bukan soal agama, ini soal bangsa, tanah, identitas.  Kalau anda hanya menggunakan satu pendekatan, kacau!

Hal itu dikatakan oleh Pdt. Gomar Gultom, Sekretaris Umum  Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dalam sebuah acara acara talkshow  bertajuk Pro-Kontra Yerusalem dari berbagai perspektif, yang dilaksanakan di BPK Gunung Mulia, Kwitang, Jakarta Pusat. (21/12)

“Kita juga perlu memahami temuan-temuan arkeologi bahwa jauh sebelum Israel menurut temuan arkeologi sudah ada penghuni sebelumnya. Karena itu melihat permasalahan ini harus dilihat dari berbagai pandangan perspektif. Mengenai Yerusalem semua punya klaim sendiri, lalu klaim siapa yang kita pakai, apakah versi Israel atau Palestina?” ujar Gomar.

Dalam acara yang diinisiasi oleh Pewarna dan Yayasan Komunikasi Masyarakat (Yakom-PGI), Gomar Gultom juga mengatakan, bahwa “saya yakin semua menentang penjajahan. Sekalipun atas nama agama, damai tidak mungkin tercapai tanpa keadilan. Penjajahan tidak pernah menciptakan keadilan. Dalam undang-undang juga menyatakan kita harus ikut melaksanakan perdamaian dunia, maka segala yang mencederai jalan damai harus kita kritisi” kata Gomar

“Persoalannya adalah ketika kita ingin damai, tetapi dunia selalu konflik, itu disebabkan karena kita selalu mengorbankan orang lain demi tercapainya damai. Saya mendorong Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam perdamaian Palestina-Israel, tentunya untuk ke sana harus membuka hubungan dulu. Dari dulu saya kita sudah menganjurkan itu,” tegas Gomar Gultom.

Sementara itu, Prof Dr Marthen Napang, ahli Hukum Internasional Universitas Hasanuddin Makassar mengatakan, melihat permasalahan Yerusalem harus dalam konteks modern, yakni kebebasan dan kemerdekaan dalam satu negara.

“Dari perspektif hukum internasional mengatakan bangsa berhak menentukan nasib sendiri, termasuk ibukotanya. Prinsip kemerdekaan negara dalam kedaulatan negara. Kalau sudah menyatakan kemerdekaan dan ibukota, ada resolusi PBB itu menjadi masalah. Resolusi tidak selalu mengikat langsung” ujar Prof Marten Napang.

Selain Pdt. Gomar Gultom dan Prof Dr Marthen Napang hadir juga Pdt. Dr. Audy Wuisan dari Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Pdt. Benjamin Obadiyah dari Gereja Kehilat Mesianik Indonesia, dan Monique Rijkers, Founder Hadassah Of Indonesia.

*Candra

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top