Sudut Pandang (SUP)

Gereja Berlebaran

Penulis : Pdt Bigman Sirait |
Tags : Doktrin Gereja Eklesiologi

Terkait


Setiap tiba hari raya Idul Fitri yang akrab kita sebut dengan Lebaran Indonesia  punya ke-sibukan luar biasa, dan dalam skala besar. Kesibukan yang melibatkan berbagai lapisan dan bidang. Persediaan barang yang harus dikontrol demi kestabilan harga, juga alat transportasi ekstra untuk lalu lintas para pemudik. Belum lagi pengaturan jalan yang cukup melelahkan Pak Polisi. Banyak ide dan tenaga yang dibutuhkan demi kelancaran Lebaran ini.

Momen ini, sesungguhnya meru-pakan kesempatan baik bagi gereja untuk ambil bagian berlebaran , meringankan beban saudara sebangsa setanah air. Gereja berlebaran , dalam hal ini berarti: sebagai majikan yang kristiani, harus berani dan rela memberi (uang ekstra, bingkisan, tiket),  kepada pembantu di rumah yang kebetulan berlebaran. Hal itu akan sangat menolong mereka meraup kesukacitaan bersama keluarganya di kampung halaman.

Kesukacitaan tak terlupakan, majikan yang dikenang, dan me-reka akan membayarnya dengan kesetiaan, dan kisah kepada handai taulan akan kebaikan majikan. Mungkin tak semua membalas budi, bahkan seringkali air susu berubah menjadi air tuba. Namun ingat, bukankah berbuat baik adalah panggilan gereja? (Galatia 6:10). Gereja harus berbuat baik, apa pun risikonya!

Jadi, janganlah berhitung tentang risiko, melainkan kesem-patan berbuat baik. Jangan sampai Anda berhutang kebaikan (Roma 13:8), karena tidak membayar kesempatan yang Tuhan berikan. Kesempatan berbuat baik yang seringkali terabaikan oleh gereja, kerap mendatangkan petaka yang disesali berkepanjangan. Gereja harus berani mengoreksi diri, bahwa banyak masalah yang muncul karena kelalaian berbuat baik. Sehingga banyak kesulitan yang dialami gereja kurang bernilai Salib (kesulitan bukan karena kebenaran tetapi kelalaian).

Jadi, sebagai gereja, Anda sendiri, juga dapat berkarya dalam Lebaran. Alangkah luar biasanya jika semua bersama melakukan-nya. Pasar murah, juga sebuah ide bersama yang sangat membantu. Kebutuhan pokok yang cen-derung melambung di masa Lebaran, menjadi beban tersendiri bagi masyarakat kurang mampu. Nah, ingin berbagi kasih? Di sinilah saatnya. Janganlah itu cuma teori atau retorika mimbar yang tak berwujud. Ini kesempatan emas Anda untuk mewujudkannya. Buatlah pasar murah di seputar gedung gereja. Tak perlu menem-pelkan ayat ayat Alkitab pada produk yang dijual. Cukup se-nyum, dan harga murah, mereka sudah tahu Anda orang yang baik.

Begitu sederhananya mewujud-kan kebaikan, tapi kita terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan gereja yang tidak bersinggungan dengan masyarakat sekitar. Berbagai seminar yang berkisah tentang pengabdian, namun tidak kunjung terwujud dalam tindakan. Gereja berlebaran adalah sebuah kesempatan, bukan akhir sebuah perjalanan pelayanan. Kesem-patan untuk berinteraksi dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan. Berinteraksi dalam keutuhan rasa kemanusiaan, kepedulian, kebersamaan, yang akan menceritakan bahwa kita betul-betul manusia yang sudah diperbaharui Tuhan.

Berbagai reaksi negatif dalam menyikapi perbedaan agama, tak perlu direspon dengan cara yang sama. Sebaliknya, gereja harus elegan menunjukkan kedewa-saannya sebagai manusia, yang muncul ke permukaan sebagai wujud keberimannannya. Menya-lahkan orang lain, merasa diri paling unggul, bahkan meniadakan yang lain, sungguh tidak mencerminkan citra manusiawi. Jadi, gereja harus menjadi gereja dengan mewujud-kan panggilannya, tanpa terjebak isu di sekitarnya.

Yang paling benar itu Tuhan, bukan agama. Yang paling ber-kuasa itu Tuhan, bukan manusia. Tuhan itu omnipoten, omni pre-sent. Dan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir itu melihat semua yang terjadi di Bumi ciptaan-Nya. Dia akan bertindak untuk menye-lesaikan semua masalah dengan cara-Nya dan di dalam waktu-Nya. Itu, kalau Tuhan Anda anggap Tuhan. Jika tidak, Anda akan terpancing melakukan segalanya dengan cara Anda, seakan ingin menolong Tuhan yang tidak berdaya menolong diri-Nya sendiri. Ini adalah ekspresi yang salah dari agama.

Orang lain, silakan saja melakukan itu, tapi yang pasti gereja tidak boleh menirunya. Gereja harus menyadari, dia dipanggil bukan untuk mengha-kimi, melainkan mengasihi, bukan pula untuk menolong Tuhan, melainkan melayani DIA. Kesa-daran yang utuh akan menolong gereja hadir di Bumi dan menjadi model yang disukai, modal yang diandalkan, dan motor utama penggerak kehidupan yang tertib dan mampu bersama dalam perbedaan yang ada.

Gereja berlebaran , itu sudah seharusnya. Sudahkah Anda lebaran , atau malah semakin menyempit saja, karena terkurung semangat fanatisme yang salah? Akhirnya, selamat berlebaran , berbagi rasa, dan membuat saudara kita umat Islam bisa merasakan dan merayakan Idul Fitri dengan penuh kebaha-giaan, karena kita sebagai gereja juga turut merasakan hal yang sama. Alangkah indahnya ketika gereja juga ikut berlebaran .*

Komentar


Group

Top