Sudut Pandang

Perjalanan Iman Bersama Kawan Seiman

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Mon, 18 June 2018 - 14:22 | Dilihat : 1472
Tags : Sup

Terkait


Dinamika hidup beriman seringkali terjebak pada berkat jasmani semata, sehingga kehilangan makna seutuhnya, atau perjalanan mulus tanpa pergumulan serius. Sangkal diri, pikul salib, sebagai inti kehidupan iman, bukanlah ajaran Yesus Kristus yang disukai umat, melainkan terus berusaha dimodifikasi agar sejalan dengan selera diri. Ah, mencintai Yesus Kristus terasa semakin misterius. Ibrani 11 menceritakan riwayat pergumulan para Bapak Orang ber-Iman. Habel yang mati karena kebenaran persembahannya; Henokh yang “mati dan menghilang” karena hidupnya yang berkenan pada Tuhan; Nuh yang hidup sendirian akibat ketaatan pada kebenaran yang Tuhan perintahkan; atau Sara si penerima janji akan keturunan, tapi seakan menemukan pengharapannya menghilang; Dan, Abraham, Bapa orang ber-Iman yang dicobai Tuhan, justeru dengan janji yang Tuhan genapi tentang Ishak.  Belum lagi mereka orang ber-iman yang didera, dipenjarakan, digergaji, dibunuh, mengembara bukan karena kejahatan, tapi karena kebenaran Imannya. Bagaimana mau mengerti semuanya? Satu kata, tak mungkin! jika bukan perjalanan iman yang menyaksikannya.  Ya, Karena iman yang dianugerahkan Tuhan kita mengerti apa yang telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.  Jika anda berkata percaya hanya ada satu Tuhan saja, apa hebatmu, karena setan juga percaya dan mereka gemetar (Yakobus 2:19).  Sementara orang ber-agama seringkali tidak gemetar pada Tuhan, bahkan berani bermain palsu dalam hidup beragamanya. Perjalanan iman bukanlah sekadar renteten kuantitatif kegiatan pelayanan, melainkan kedalaman kualitatif penyerahan diri pada Tuhan. Ingat, Ayub yang menjaga diri dan keluarganya untuk selalu hidup kudus, malah tergerus harta, anak, istri, sahabat, dan kesehatannya. Tapi di kehilangan, Ayub menemukan pengenalan sejatinya akan Tuhan (Ayub 42:1-2). Ada yang mau?

Cukup panjang waktu yang saya jalani dalam rangka pengobatan, melebihi waktu yang telah dipersiapkan (1,5 bulan), sehingga terasa “menjengkelkan” ketika terlewati. Tapi saat yang bersamaan, semakin membukakan diri akan pengenalan keberimanan dan kedewasaan menikmati pemeliharaan Tuhan. Semakin dalam rasa kehilangan target diri, justeru semakin terbenam dalam berkat besar Illahi. Perjalanan paradox orang beriman.  Tak mungkin satu logika dapat menyelesaikan, namun iman membuat logika terang benderang untuk menikmati.  Adalah augerah-NYA ketika kita bisa mengerti dan semakin mengenal DIA. Iman yang menguasai Ilmu, membuat Ilmu mampu menjelaskan hidup beriman dalam keilmuan. Besarnya Iman, indahnya Ilmu, itulah anugerah untuk memaknai hidup yang utuh.

Duisburg Nord, Jerman, Evangelical Klinikum adalah RS pertama, di mana 11 hari saya dirawat untuk memastikan vonis dokter di Singapore, bahwa aku harus memasang pompa jantung buatan. Prof. DR. Kurfer (Heart Surgery) yang memang ahli dalam pemasangan pompa jantung dan masih terus merisetnya hingga kini, memberi kesimpulan bahwa tidak perlu pasangan pompa, karena otot jantung masih baik. Ada konsekwensi berat pemasangan pompa jantung, yaitu keharusan tranplantasi jantung. Rasanya menyenangkan, dan terbayang segera pulang lebih cepat. Namun supaya pemeriksaan lengkap maka gelombang kedua dimulai.

Vierseen, Jerman, Allgemeines Krankeshaus adalah RS kedua, di mana 5 hari saya dirawat untuk pemeriksaan pembengkakan jantung yang memang sudah lama, oleh Prof. Dr. Nicolas von Beckerath (Klinik für Kardiologie und Angiologie).  Sebagai Ahli jantung (Cardiology) dan penyakit dalam, pemeriksaan dilanjutkan dengan endoscopy dan colonoscopy karena kecurigaan HB rendah dan pemeriksaan pisces.  Ditemukan tumor usus sekitar 4 cm memanjang menempel pada dinding usus besar. Obat-obatan beberapa diganti dan tumor harus diangkat. Ini menjadi perjalanan berikutnya menemui dokter yang memang ahli dibidangnya. Padahal HB rendah bukan hal baru pada diriku, tapi memang tak pernah ada pemeriksaan yang dianjurkan selama ini. Persimpangan antara sakit dan berkat. 

Mochengladbach, Jerman, Maria Hilf Klinikum adalah RS ketiga, di mana 25 hari saya dirawat oleh Prof. Dr. Kania (Gastro Sugery) dan Prof. DR. Behne (Anastesi). Pasangan ahli operasi dan ahli anastesi yang memang diperlukan mengingat riwayat kondisi jantung yang berat. Waktu sangat lama karena harus mengatur pengentalan darah, dan kecepatan pengentalan darah, dan kondisi fisik lainnya. Dalam pemeriksaan lanjutan di sini ditemukan juga pembengkakan pada hati yang perlu diperbaiki menuju operasi, dan rendahnya fungsi ginjal, sementara kondisi jantung tidak memadai maka perlu penanganan konservatif yang ekstra hati-hati. Dan standard kerja di Jerman yang buat kita orang Asia terasa saklek, kaku “tak bisa ditawar”. Persimpangan berikutnya, lama, tapi perlu dan sangat berguna bagi kondisi diri.

41 hari berobat di Jerman, di 3 RS, dan 4 Profesor, pengobatan yang terasa melelahkan dan membosankan. Tapi, Tuhan dengan cara-Nya mengaturnya buat hamba-Nya, melalui Dr. John dan istrinya Hanna yang menjadi sahabat setia mendampingi selama berobat di Jerman. Berpindah kota, mengatur jadwal ke dokter bukanlah hal yang mudah, tapi dapat dijalani dengan baik. Ketika ditemukan ada penyebab sakit lainnya, hati terasa gembira, namun di sisi lain terasa membebani karena berarti akan lebih lama lagi. Begitulah hari, suasana hati yang naik turun, dan pengobatan berjalan silih berganti. Kennan anak laki-laki yang pertama mendampingi tak sempat menunggu waktu operasi. Begitu juga Keithy kakaknya yang dokter, juga tak bisa melihat operasi karena waktu yang berubah. Sementara tiket kembali yang sudah siap untuk 20 Mei, hangus karena operasi masih perlu waktu. Semua rencana awal berantakan, dan bisa dibayangkan kejengkelan yang luar biasa. Tak mudah memahami pemeliharaan Tuhan, karena urusan tak berjalan mulus dalam ukuran kemanusiaan. Namun di sisi lain Tuhan juga mengirim kawan-kawan berkunjung dari Jakarta, Jerman, dan Belanda, ada kawan lama tapi juga kawan baru.

Rencana Allah yang tak mudah dipahami menjadi terang, justru dalam kegelapan pikiran manusia. Ya, gelap di buntunya pikiran, tapi cahaya itu terbersit, membangun harapan memberi kekuatan untuk menjalani setiap episode kehidupan. Dan tiap episode semakin menyadarkan diri, semua yang Tuhan berikan adalah terbaik dalam ke-Mahaan-NYA. Namun jujur, seringkali terasa kurang pas dalam keterbatasan manusiawi yang coba mengintervensi keajaiban cara kerja Allah. Ini seringkali menjadi jebakan bagi orang percaya di antara bunyi doa dan menjalaninya. Betul sekali kata Rasul Paulus, dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, aniaya, kesesakan (yang semua kita tidak suka), aku justru senang karena di sana aku menjadi kuat oleh kasih karunia-NYA (2 Korintus 12:9-10). Perjalanan Iman yang murni ini nadanya banyak dimodifikasi, sehingga dibuat mudah dan akan diselesaikan oleh Tuhan yang sudah mati tersalib, dengan meminjam Roma 8:35-37, lebih dari pemenang. Padahal ini sejatinya berarti segala perkara akan kuat kita tanggung jika kita terikat pada DIA Kristus Tuhan. Penderitaan, kita yang akan  menjalani (berproses selama hidup dibumi), bukan Kristus yang menjalani (DIA sudah menyelesaikan dan mewariskannya pada kita). Orang ber-Iman berbahagia dalam penderitaan karena kebenaraan, dimampukan oleh Firman Tuhan. Di mana kita berdiri? Semoga tak terjebak sedang memodifikasi arti beriman. Bersaksi tentang keunggulan diri bukan penyerahan diri. Sebagai kawan sepelayanan mari kita saling mengingatkan di perjalanan iman.

Senin 11 Juni keluar dari RS, lanjut Selasa 12 Juni kembali ke Prof. Von Beckerath untuk pemeriksaan jantung (EKG, Radiologi, Echo, dll), kondisi jantung jauh membaik. Suka atau tidak, fakta panjangnya waktu berobat di RS telah memberi waktu yang panjang pula pada jantung untuk beristirahat. Jika Tuhan yang mengatur semua indah pada waktunya, sekalipun terasa pahit dalam menjalaninya. Setelah berangkat 5 April 2018, baru kembali ke Indonesia Jumat 15 Juni (70 hari), berkumpul kembali dengan keluarga, kawan, dan pelayanan yang menanti, terasa sangat menyenangkan. Ah, andaikata tak terasa beratnya penantian waktu berobat maka kenikmatan pertemuan pun pasti akan berbeda. Tapi jika disuruh mengulang, senyum kecut yang ada, itulah ciri-ciri “manusia lemah karena kurang berserah”, tahu tapi tak mau. Tuhan memang “penuh humor” memelihara umat-Nya yang setia melayani Nya, sudah semestinya kita belajar berserah sepenuhnya. Urusan hari esok, itu bisnis Tuhan, tapi hari ini mari kita jalani dalam garansi penyertaan-Nya. Bukan sekadar susunan kata indah beriman, tapi hidup benar bertindak nyata dalam iman.

20-23 Juni kalender tetap pelayanan MIKA Mission Trip, dan kali ini juga peresmiaan tahap pertama STT Makedonia (yamika.org). Sementara pelayanan pendirian sekolah di Papua menunggu gilir dimulai. Apakah kesehatan dan kekuatan saya cukup untuk semuanya? Jawabannya, bukan pada diri saya, melainkan apakah DIA akan memakai saya menyelesaikan-Nya? Itu bisnis Tuhan dalam perjalanan hidup saya. Hidup matiku bukan hanya di tangan-Nya, tapi untuk Dia sepenuhnya. Iman memberi kita kekuatan berkorban bukan makan korban. Menyerahkan diri bukan memuaskan nafsu. Membuat kita semakin kenal diri bukan terjebak membuat diri semakin terkenal. Terimakasih Tuhan untuk semua kawan-kawan sepelayanan yang hadir dan bersama dalam perjalanan iman ini. Doa kalian tak terdengar telinga tapi menyapa jiwa. Ada yang bertemu fisik, ada yang tidak, tapi semua bathin kita saling berjaga dan menguatkan diperjalanan iman. Dukungan semua kawan sepelayanan menumbuhkan kebanggaan dan kenikmatan persahabatan.

Doa saya untuk kawan-kawan, selamat menjalani dan menikmati perjalanan iman masing-masing secara pribadi, dan saling menguatkan di kebersamaan kita melayani DIA. Jangan berkeluh kesah pada Tuhan di duka hidup ini, karena sejatinya bahagia adalah karena mengikut Dia. Suka-duka di dunia hanyalah kekayaan warna untuk semakin mengenal Tuhan Sang Pencipta. Semua hanya alat, jangan sampai mencuri bahagia kita karena persekutuan dengan Tuhan. Tapi kita perlu keras dan marah pada diri, jika kita gagal menaklukkan kehendak diri pada kehendak Illahi. Berobat karena sakit sejujurnya saya tak suka, tapi Tuhan membuat semuanya karena saya memerlukannya. Dan, jika kawan sepelayanan sedang mengalami kedukaan dan terasa beruntun, jangan buru-buru untuk marah, melainkan tenang dan lihatlah apa yang Tuhan kerjakan bagi kita. Doa yang tulus akan memampukan kita menajalaninya.

Selamat berjalan dalam kesejatian iman kawan-kawan. Selamat menikmati “betapa manisnya pahit kehidupan”. Tuhan pasti membimbing dan memampukan kita semua.

Ini SUP yang diolah khusus dari dapur pribadi saya, disajikan untuk kita nikmati bersama. Jika ada bumbu yang terasa kurang, dapat ditambah sesuai konteks perjalanan hidup beriman kita. Tidak perlu harus sakit untuk memahaminya, tapi seperti yang diungkap diatas ada banyak sudut untuk dapat menikmatinya.  

Lihat juga

Komentar


Group

Top