Antara Meditasi dan Kontemplasi

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh, menurut Bapak, apa perbedaan antara meditasi dan kontemplasi?
Menurut pandangan Kristen, mana yang benar? Ada teman dengan latar belakang Katolik, saat ini setia melakukan meditasi, dan banyak perubahan yang baik padanya. Dia dapat menemukan kemuliaan Tuhan melalui segala sesuatu di sekelilingnya. Itu membuat dia dapat memuliakan Tuhan, dan melihat sungguh dia adalah manusia berdosa, yang hanya karena kebaikan Tuhan, dia tetap dicintai-Nya. Dia menjadi orang yang sangat idealis, sederhana, dan teguh menjalani hari-harinya di dalam Tuhan. Konsep hidupnya begitu yakin akan pemeliharaan dan kebaikan Tuhan. Bagi dia, dengan meditasi dia dapat menyatu dengan Tuhan? Bagaimana Bapak melihat hal ini?
Jhoni
Tangerang 

SAUDARA Jhoni di Tangerang, pola hidup rohani di masa kini, di era postmo memang sangat variatif. Terjadi banyak sekali pertemuan cara-cara ibadah, khususnya dalam konteks berdoa dari berbagai aga-ma yang berbeda. Dan, repotnya, ini bukan saja sekadar pertemuan cara ritualnya, tapi juga ajarannya, yang biasa kita sebut sinkretisme. Sinkretisme adalah trend masa kini dalam semangat pluralisme (kea-nekaan agama yang coba disatu-kan). Isu-isu ini terus bergerak, juga diwarnai dengan apa yang disebut spiritual quation (SQ), se-hingga banyak sekali muncul pelati-han-pelatihan spiritual, termasuk meditasi pada berbagai agama (jadi bukan cuma pada satu agama).
Sekarang mari kita telusuri pe-maknaan kontemplasi dan meditasi lebih dulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontem-plasi berarti renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Sementara meditasi ber-makna pemusatan pemikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Perbedaannya tampak samar, tidak mencolok. Ada yang mem-bedakannya secara tegas, yaitu tekanan sumber, di mana kontem-plasi dipahami sebagai dari luar ke dalam. Artinya merenungkan sebuah pengertian (diluar), untuk bisa dipahami dengan sebaik-baik-nya dan seutuhnya didalam hati. Meditasi dipahami sebagai sebuah usaha dari dalam keluar. Namun, di sisi lain ada pendapat yang menga-takan kontemplasi dan meditasi sinonim. Khususnya jika dipandang dari perspektif filosofis dalam konteks keagamaan. Sekali lagi perlu diingat, meditasi ada pada tiap agama, dan bisa dengan cara yang sama, namun dalam pemaha-man iman yang berbeda.
Nah, Jhoni yang dikasihi Tuhan, dalam kesempatan ini kita tidak akan memperpanjang istilah ini, melainkan mencari pemahaman Alkitab dalam konteks perenungan akan Firman Tuhan dalam kehidu-pan iman kita sebagai umat Kristen. Dalam konteks perenungan apa pun istilah yang dipakai, kontem-plasi atau meditasi kita pinggirkan dulu. Perenungan akan kebenaran firman banyak dicatat dalam kitab Mazmur. Yosua 1: 8 dengan jelas mencatat perintah Tuhan kepada Yosua: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan ber-hasil dan engkau akan beruntung”.
Alkitab dengan jelas memberikan tekanan perenungan sebagai bagian yang harus dilakukan oleh umat. Mazmur 1: 2, juga mencatat “merenungkan Firman Tuhan siang dan malam”, atau terus-menerus. Dengan merenungkan terus-menerus itu berarti kita selalu hidup sesuai dengan Firman Tuhan yang hidup di dalam hati kita. Dalam Mazmur 119: 9, pemazmur meng-gugat diri dengan mengajukan per-tanyaan, “Bagaimanakah  seorang muda mempertahankan kelakuan-nya bersih?” Orang muda sebuah istilah untuk menunjuk kecende-rungan hidup bebas, tidak suka aturan dan peraturan, termasuk keseriusan terhadap Firman Tuhan. Lalu pemazmur menjawab perta-nyaannya: “Dengan menjaganya sesuai Firman Tuhan”. Artinya se-orang muda menjadi bersih kela-kuannya, benar hidupnya, dan se-nantiasa memuliakan Tuhan dalam kesehariannya. Kata kuncinya adalah menjaga diri sesuai kebe-naran Firman Tuhan.
Kebenaran Firman yang dire-nungkan siang dan malam, secara kontiniu dan konsisten. Perenu-ngan ini menjadi kekuatan diri dalam menjalani kehidupan ini. Tetapi harus dipahami dengan benar, bukan diri pribadinya yang kuat, melainkan Firman Tuhanlah yang membuat dirinya menjadi kuat. Firman Tuhan di sini bukan objek, apalagi mantera, melainkan subjek, yang berotoritas, yang berkuasa atas kehidupan manusia, dan tidak pernah kembali sia-sia (Mazmur 33: 9, Yesaya 55:11).
Mazmur 119:105, menyebutkan Firman Tuhan sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan hidup manusia. Artinya tanpa Firman Tuhan manusia akan hidup dalam kegelapan, dan akan tersandung berbagai kekacauan. Manusia dalam menggapai keberhasilan yang seutuhnya, bukan feno-menanya, hanya dimungkinkan apabila mereka hidup dalam kebe-naran Firman Tuhan. Jadi, yang penting di sini bukan model ritual-nya (kontemplasi atau meditasi-nya), melainkan sikap hati yang dipenuhi oleh kebenaran Firman Tuhan. Sikap hidup yang menak-lukkan diri sepenuhnya kepada perintah perintah Tuhan.
Kontemplasi atau pun meditasi hanyalah sebuah cara, dan belum menunjukkan kualitas kerohaniaan yang sesungguhnya. Karena itu jangan sampai terjebak pada cara-nya tanpa menemukan intinya. Ada beberapa hal yang kita perlukan dalam mengembangkan kehidupan iman kita sebagai seorang Kristen. Yang pertama adalah pengenalan yang benar akan Firman Tuhan. Untuk ini kita tentu harus mem-baca dan mempelajari Alkitab de-ngan rutin dan terpola. Ini biasa kita sebut Saat Teduh, dan dilaku-kan setiap hari. Tanpa pemahaman yang benar, bisa-bisa perenungan kita akan menjadi kekacauan, atau bahkan membuat kita justru kehilangan kebenaran.
Yang kedua adalah perenungan itu sendiri. Merenungkan firman itu siang dan malam, di mana dan kapan saja, ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia, juga mensyukuri dan menikmati alam ciptaan Tuhan. Sehingga tiap keputusan yang kita buat dalam merespon kehidupan ini, senantiasa sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Dan, yang ketiga, tentu saja secara proaktif kita bertindak, melakukan Firman Tuhan dalam segala aktivitas kita, dan men-jadikan kehidupan adalah ibadah yang sejati (Roma 12: 1). Sehing-ga, dari hari ke hari akan tampak nyata perubahan hidup kita secara utuh. Bukan sekadar cara hidup sopan santun, atau membangun konsep hidup sederhana, melain-kan betul-betul lahir dari perenu-ngan yang mendalam.
Kita hidup bekerja keras, maksi-mal mencapai pencapaian yang bisa, sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Sehing-ga hidup kita adalah hidup yang berhasil dalam konteks di mana Tuhan menaruh kita (Matius 25:14-30). Tetapi, saat yang bersamaan kita juga terus hidup berbagi de-ngan sesama, peka terhadap rea-lita hidup, dan hadir tanpa harus diminta (Matius 5: 13, Kisah 20: 5). Kemuliaan Tuhan yang suci tak mungkin tergapai manusia yang berdosa, sebesar apa pun usaha kita (meditasi atau kontemplasi). Tetapi bersyukurlah, Tuhan mau mengaruniakan pengampunan dan kemuliaan-Nya.
Akhirnya Jhonni yang dikasihi Tuhan, biarlah kiranya kehidupan temanmu, menginspirasi dan men-dorong kamu untuk hidup bahkan lebih baik lagi. Percayalah Roh Kudus pasti akan memampu-kan setiap orang yang rendah hati dan selalu haus akan kebenaran Firman Tuhan (Yohanes 14: 24-26). v

Recommended For You

About the Author: Pdt Bigman Sirait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *