Sudut Pandang (SUP)

Kristus Sebagai Pusat Penderitaan

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 15 September 2009 - 11:50 | Dilihat : 4025
Tags : Artikel Jumat Agung Doktrin Kristus Kristologi

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

Dalam Yesaya 53:1-7 dituliskan demikian, ”Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan? Sebagai taruk dia tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”.

Lukisan penderitaan Kristus dalam nubuatan Yesaya ini sungguh menyedihkan dan menyakitkan. Tidak ada satu pun bagian dari hidupnya yang luput dari penderitaan. Penderitaan Kristus menjadi sangat sempurna karena dia menderita bukan karena Dia bersalah tetapi justru karena dosa manusia. Penderitaan di atas kayu salib sangat tidak terbayangkan, tidak terpikirkan oleh manusia. Dan pada puncak penderitaan itu Ia harus menyerukan satu kalimat yang terdengar seperti orang yang putus asa, ”Eli, Eli, lama sabaktani? (BapaKu, BapaKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?)” Yang tidak mungkin terjadi itu sudah terjadi. Bapa meninggalkan Anak yang terkasih, Anak berpisah dari Bapa. Murka Bapa bukan karena dosa dan kesalahanNya tetapi karena dosa dan kesalahan yang dipikul atau ditanggungNya. Kitalah yang membuat Dia tersalib. Kitalah yang membuat Dia menderita. Apabila demikian adanya, apakah yang membuat kita tidak bersedia menderita bagi Dia?

Pelukisan bahwa Kristus tidak tampan, tidak semarak, tidak mempunyai daya tarik, sehingga orang tidak ingin melihatnya, adalah merupakan suatu pelukisan yang sangat dekat dan tepat dengan kondisi ketika Yesus tergantung di atas kayu salib. Siapakah yang ingin melihatNya? Tidak ada sesuatu yang menarik di sana.

Beseles Ling, seorang penulis banyak buku tentang kata-kata mutiara mengatakan bahwa pelukisan tentang Yesus yang tersalib itu terlalu indah dan sangat bagus, sebab wajah di sana tidak penuh dengan memar. Darah yang mengucur membasahi seluruh tubuhNya, wajahNya yang coreng moreng, bukan karena tinta tetapi karena luka. Kepala yang tertusuk mahkota duri. Siapa yang ingin memandangNya? Siapa yang ingin berlama-lama melihatNya? Siapa yang ingin berlama-lama menatap dan berada di depanNya? Tidak ada. Kengerian, keburukan, kejelekan saja yang ada di sana. Tuhan menderita? Jawabannya, Ya! Dia dihina, dihindari orang; Dia seperti sampah, bau busuk menyengat hidung setiap orang yang lalu lalang di situ, dan mereka merasa terganggu dengan kehadirannya. Padahal di kayu salib itu tergantung Allah yang dengan rendah hati dan penuh cinta kasih menderita demi penebusan dosa manusia.

Selanjutnya dituliskan bahwa Dia penuh dengan kesengsaraan dan menanggung segala kesakitan. Dia biasa menanggung kesakitan dan penuh kesengsaraan. Sekarang tolong ceritakan kepada saya, siapa orang yang mampu menanggung segala beban penderitaan tersebut kecuali Yesus Kristus. Adakah orang seperti Dia? Tidak ada. Tetapi inilah Yesus Kristus Tuhan kita yang dengan penuh kerendahan hati menanggung dosa kita. Pada Dia-lah terpusat seluruh penderitaan yang ada. Pada Dia-lah terpusat seluruh kutuk karena dosa; padaNyalah terpusat seluruh aib karena dosa manusia. Berkat pengorbananNya, manusia berdosa dan terhukum yang seharusnya binasa oleh kemurkaan Allah, menjadi terselamatkan. Kristus telah menggantikan posisi manusia yang berdosa dan terhukum. Sebab dosa telah mengacaukan sistem tata kehidupan manusia; orang sehat menjadi sakit; orang yang lurus menjadi bengkok. Orang yang seharusnya hidup dengan penuh cinta kasih justru menjadi saling menghakimi. Orang yang bersatu diceraiberaikan. Dosa benar-benar telah mengacaukan seluruh sistem tata kehidupan manusia. Dan lebih parahnya lagi, kekacauan itu ternyata tidak berhenti pada dimensi fisik saja tetapi juga merasuk merusak sampai pada dimensi rohani dan relasi sosial manusia. Relasi yang rusak itu tidak hanya relasi antara manusia dengan sesamanya tetapi juga relasi antara manusia dengan Allahnya, Allah tidak lagi menjadi Tuhan bagi manusia. Manusia mau mengangkat dirinya menjadi Tuhan. Untuk meluruskan sistem ini, Ia harus membayar mahal di atas kayu salib. Ia menanggung murka Allah sebagai tumbal atas dosa manusia. Ia ditikam, diremukkan. Lambungnya ditusuk tombak. Seluruh tubuh mengalami luka. Belum lagi jiwaNya yang remuk redam dan terolok-olok oleh pengkhianatan Yudas dan penyangkalan Petrus serta para murid yang pergi meninggalkanNya. Kristus seperti domba, dianiaya, ditindas, dibantai bahkan penderitaannya melebihi seekor domba yang dibawa ke pembantaian. Ia tidak berkeluh kesah. Ia pasrah. Ia tidak mengobral cerita. Sekali lagi, Ia pasrah.

Semestinya kalimat ini membuat kita berpikir ulang. Kita harus melihat bahwa itulah Yesus Tuhan kita yang menjadi pusat seluruh hidup manusia. Apakah kita layak kembali menyakiti Dia dengan tingkah laku kita yang tidak mau menderita sehingga berbuat dosa. Apakah kita layak untuk kembali menyakiti Dia dan menyakiti hatiNya dengan membuat hal-hal najis dalam hidup kita dengan tidak mau berjalan lurus dan menanggung serta memikul salib untuk Dia. Apakah kita akan kembali menghina dan menindas Dia serta akhirnya menyalibkan Dia dengan berbagai pola tingkah laku dan perpecahan kita? Demi kepuasan, kedudukan, gengsi dan kebesaran nama kita, haruskah kita menyalibkan Dia kembali hanya karena kita tidak mau hidup menderita dan berbuat seperti apa yang dikehendakiNya? Betapa munafiknya kita. Betapa menyedihkan keadaan kita yang selalu menyebut Kristus Tuhan tetapi sebenarnya kita tidak mengenalNya secara bersungguh-sungguh. Kita hanya terobsesi dengan berbagai gaya khotbah yang menarik dan penuh statement sensasional.

Mari kita perhatikan semangat yang ada. Janganlah kita menyalibkan kembali Tuhan Yesus. Kristus adalah pusat penderitaan dan penderitaan yang kita alami bukanlah apa-apa. Kristus-lah pusat penderitaan dan penderitaan yang kita tanggung itu bukanlah apa-apa. Menderita bagi Kristus itu berbeda dengan pengertian di dunia ini. Dunia mengerti dan menyamakan askese sebagai penderitaan seperti anti uang, anti dunia keramaian, mengasingkan diri dan lalu mengatakan bahwa semua itu untuk mencapai kesempurnaan diri. Itu salah besar. Kristus sudah melakukan semua itu dan kita tidak perlu melakukannya lagi.

Tetapi karena Tuhan telah menuntun kita supaya kita hidup sesuai dengan kehendakNya, lalu waktu kita hidup sesuai dengan kehendakNya, kita mungkin tersisih, tidak memiliki jabatan, dianggap aneh karena suci lalu disingkirkan, yang berakibat pada kesulitan keuangan dan kehilangan akses ke pusat kekuasaan. Singkatnya, hidup mengikuti jalan yang benar membuat kita menderita. Jadi di sini penderitaan berarti menahan seluruh gejolak dan hawa nafsu duniawi kita. Mengendalikan diri kita menurut kriteria buah roh. Di situ akan terjadi ketegangan luar biasa antara keinginan daging dan tuntutan untuk menghasilkan buah roh. Itulah titik awal penderitaan. Bukankah Yesus juga bergumul di Taman Getsemani. Kita tidak boleh mengumbar hawa nafsu dan mau mengatur Tuhan. Janganlah apa yang kita nikmati dan miliki itu karena hasil dari menipu orang lain. Janganlah kita berbahagia di atas penderitaan orang lain. Itulah yang salah. Marilah kita pikirkan semua itu secara baik-baik.

Kristus sebagai pusat penderitaan telah menanggung semuanya untuk kita. Kebahagiaan sejati dalam hidup manusia bukan berasal dari harta benda, kesuksesan maupun kehebatan kita, tetapi kebahagiaan sejati berasal dari Kristus. Kita hanya akan bahagia apabila mampu hidup menurut kehendakNya. Nah, apabila Tuhan menaruh harta benda dalam hidup kita, bersyukurlah. Tetapi apabila Tuhan tidak menaruh harta bagi kita, janganlah kita marah dan kecewa kepadaNya. Apa pun yang ada dan diberikan Tuhan bagi kita, semuanya itu sudah terukur pas dan cocok bagi kita. Jangan cemburu dan menginginkan harta sesamamu.

Biarlah kita tetap mengangkat salib Kristus sehingga kesetiaan dan kesediaan untuk menderita membuat kita tetap tegak dalam kebenaran Allah. Janganlah kita bangga hanya karena mampu memberi banyak uang bagi gereja padahal uang tersebut hasil dari menipu orang lain. Tuhan tidak bisa ditipu. Oleh karena itu marilah kita hidup dengan jujur dan baik.

Menderitalah bersama Dia yang sudah lebih dahulu menderita bagi kita. Menderitalah karena kita melawan seluruh hawa nafsu kemanusiaan kita dan menegakkan kebenaranNya. Penderitaan ini akan memerdekakan kita. Kebahagiaan kita adalah ketika kita melakukan kehendak Tuhan. Jangan malas, tetaplah rajin. Gigih. Jadilah the best supaya nama Tuhan semakin dimuliakan.***

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top