Sudut Pandang (SUP)

Dicobai Oleh Keinginan Diri Sendiri

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 15 September 2009 - 13:39 | Dilihat : 5313
Tags : Artikel Pencobaan

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang yang mengasihi Dia. Apabila seseorang dicobai, janganlah berkata kalau percobaan itu datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

(Yakobus 1: 12 –18)

BOLEHKAH kita mengatakan bahwa pencobaan itu datangnya dari Allah? Alkitab, dalam Surat Yakobus di atas, dengan jelas mengatakan bahwa pencobaan tidak datang dari Allah. Lalu bagaimana kita memahami pencobaan yang terjadi terhadap Abraham?

Pencobaan memiliki dua dimensi pengertian yaitu dimensi positif dan negatif. Dalam dimensi positif, cobaan menguji dan memperbaiki sifat seseorang sementara yang negatif menggoda, menunjukkan kelemahan atau menjebak. Yang negatif dikerjakan iblis, sedangkan yang positif dikerjakan Allah.

Allah tidak mencobai siapa pun dalam pengertian negatif. Ia tidak menggoda siapa pun untuk menjatuhkan dan menjebaknya. Allah hanya mengerjakan hal yang positif untuk memperbaiki sifat seseorang agar layak menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Bagaimana iblis bekerja? Salah satunya adalah melalui keinginan kita sendiri. Ada tiga cara yang ditempuh manusia dalam mencobai dirinya sendiri yaitu: berpikir melampaui kemampuan (kesombongan intelektual), mengambil melebihi kebutuhan (keserakahan), dan mengatakan melebihi kebenaran (penipuan).

Berpikir melampai kemampuan

Yakobus menegaskan bahwa seseorang dicobai dan hancur oleh keinginannya sendiri. Bagaimana hal ini terjadi? Mari kita simak dalam Roma 12:3 “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Di sini Rasul Paulus menggambarkan cara pertama kita mencobai diri kita sendiri yaitu berpikir melampaui apa yang boleh dipikirkan. Berpikir melampaui kemampuan yang Tuhan berikan, berarti mencobai diri sendiri yang berakibat pada kejatuhan. Itulah yang sering kita lakukan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita tangkap dalam alam pikiran kita. Kita berspekulasi tentang sesuatu yang tidak pernah dijelaskan Tuhan secara tuntas. Tentang hari kiamat misalnya, Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu tentang kapan hari kiamat itu terjadi. Tidak Anak Manusia, tidak juga malaikat, kecuali Bapa yang di dalam surga. Apakah Yesus sungguh tidak mengetahui kapan hal itu terjadi? Ia tidak mengetahui bukan karena Ia tidak tahu; Ia tidak mengetahui bukan karena Ia hanyalah seorang manusia. Ia Allah yang sempurna, tetapi Ia adalah Allah yang membatasi diri-Nya. Ia membatasi apa-apa yang penting di dalam hidup-Nya. Ia membatasi sifat keilahian-Nya yang mutlak pada diri-Nya.

Pada waktu Yesus membatasi diri-Nya, Ia mengatakan tidak ada yang tahu kecuali Allah Bapa. Tapi kenyataannya, manusia mulai mengintervensi bahkan melewati pemikiran Kristus sendiri. Mereka mulai menghitung, mencari tahu kapan Tuhan Yesus kembali, kapan akhir zaman itu? Mereka mulai mereka-reka dengan berbagai argumentasi yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Lalu Yesus seakan-akan tampak bodoh karena Ia mengakui bahwa Ia sendiri tidak tahu, sementara banyak pendeta yang mengaku mengetahui tentang datangnya hari kiamat itu. Kalau para pendeta itu tahu, sementara Yesus tidak tahu, berarti Yesus lebih bodoh daripada pendeta. Atau pendeta itu lebih bodoh, tetapi memintar-mintarkan dirinya. Pendeta seperti ini sedang mencobai dirinya sendiri dengan mengatakan hal-hal yang sebenarnya sangat mengerikan. Memikirkan hal-hal yang bukan bagian kita, yang merupakan suatu misteri, kita sebenarnya tengah mencobai diri kita.

Tuhan tidak menyuruh kita memikirkan hal ini, tetapi Ia mengatakan hal yang jelas untuk kita pikirkan yaitu Dia, Yesus Kristus itu akan datang ke dunia ini seperti pencuri. Karena itu bersiap-siap dan berjaga-jagalah. Itu saja yang dimintaNya dari kita. Begitu sederhana. Kita tidak perlu memikirkan kapan saatnya tiba. Bila kita hidup dekat dengan Allah, hidup bersama Tuhan, kapan pun Tuhan datang, tak ada masalah. Jadi janganlah memikirkan sesuatu yang melebihi kemampuan lalu mulai berspekulasi dan akhirnya menyimpulkan sesuatu yang amat menakutkan.

Mengambil melebihi kebutuhan

Inilah cara kedua kita mencobai diri sendiri. Dalam Keluaran 16:4-5 kita baca, “Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.’”

Orang Israel diberikan manna oleh Allah sendiri. Setiap orang diminta mengambil untuk kebutuhan sehari saja. Tetapi, ada di antara mereka yang serakah dan menginginkan lebih daripada yang diberikan oleh Tuhan. Mereka berpikir jangan hanya untuk satu hari, kalau boleh tiga atau lima hari. Mereka ingin memiliki deposito, jaminan atau garansi. Maka mereka pun menginginkan dan mengambil lebih daripada yang Tuhan tetapkan. Tindakan seperti ini digolongkan sebagai suatu kejahatan. Orang Israel mulai mencobai Tuhan dengan mencobai dirinya sendiri. Mereka menginginkan lebih dari apa yang sudah Tuhan tetapkan bagi mereka. Di situlah letak kesalahan dan sumber kejatuhan mereka dalam dosa.

Hiduplah secukupnya. Jangan melebihi yang dibutuhkan dan yang telah ditentukan Tuhan bagi Anda. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus sendiri mengajarkan kita untuk memohon, “Berilah kami hari ini makanan kami yang secukupnya”. Apa arti ‘secukupnya’ disini? Bukankah artinya sangat relatif? Biarkanlah Tuhan memberikan arti ‘cukup’ kepadamu. Biarkan Tuhan yang mengatur segala kebutuhanmu. Itulah iman yang sungguh-sungguh.

Mengatakan melebihi kebenaran

Cara ketiga mencobai diri sendiri adalah dengan menipu atau memalsukan kebenaran demi kepentingan diri sendiri. “Dengan setahu istrinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?’” (Kisah Rasul 5: 2-3.

Sebagai suami-istri, Ananias dan Safira sepikir dan bersepakat dalam hal yang jahat. Mereka sudah mengatakan sesuatu melebihi kebenaran yang ada. Mereka tidak menyerahkan seluruh harta benda hasil penjualan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka menyimpan sebagian tetapi mengatakan sudah memberikan semuanya. Rasul Petrus menjadi sangat marah. Mereka mendapatkan hukuman yang sangat mengerikan.

Tak jarang kita terperangkap dalam kecenderungan ini. Untuk mendapatkan pujian orang, kita rela mengangkangi kebenaran. Kita menggeser kebenaran hanya untuk mengangkat nilai diri. Kita telah menipu diri dan akan terus terjerumus dalam rekayasa dan penipuan yang lebih besar lagi. Kita telah mencobai diri sendiri yang membuat kita terjerumus ke dalam perangkap. Dan si Setan, si Maut sudah menanti kita.

Keinginan, dosa dan maut

Tidak semua kesalahan datangnya dari Iblis. Karena itu, bila memang Iblis yang merasuk seseorang, Iblis itu perlu diusir. Tapi kalau kesalahan akibat ulah sendiri, tidak ada gunanya mencari pertolongan kanan-kiri meminta dilepaskan dari kekuatan Iblis. Jangan mengambinghitamkan Iblis tanpa mau mengevaluasi diri. Bila tidak, kita sebenarnya telah menghina Alkitab.

Alkitab mengatakan bahwa keinginan-keinginan mencobai diri sendirilah yang membuat kita terjatuh dalam kesalahan. Alkitab memakai istilah ‘dibuahi’ yang menunjuk kepada suatu tindakan nyata yang disebut dosa yaitu tindakan melawan keinginan dan ketetapan Allah. Tindakan itulah yang akhirnya menjauhkan kita dari kebenaran Allah, menempatkan kita sebagai oposan Allah. Perwujudan dari dosa yang berlarut-larut akan membuahkan maut.

Dosa muncul dari keinginan untuk mencobai diri sendiri karena didorong oleh naluri untuk membenarkan diri, menang sendiri, memanjakan diri, menggeser kebenaran Allah serta meniadakan ketetapan Allah.

Dihadapkan pada realita hidup yang warna-warni, yang sulit kita prediksi, janganlah kita menjadi orang bodoh atau mau dibodohi oleh berita-berita yang tidak benar sehingga kita terjebak dan pada akhirnya mencobai diri sendiri.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top