Sudut Pandang (SUP)

Bung Radikalis

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 16 September 2009 - 13:31 | Dilihat : 1945
Tags : Artikel Kebangsaan

Terkait


Follow Twitter: @bigmansirait

“Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh!”

Demikian teriakan lantang para pendahulu kita yang berjuang untuk menjadikan Indonesia – yang  kaya dengan pulau, suku, bahasa dan agama ini – bersatu. Sebab hanya dengan persatuanlah, anak-anak bangsa ini mampu mengalahkan musuhnya, si penjajah itu. Dengan persatuan pula kita dapat membangun bangsa. Jadi, teriakan di atas itu – bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh – adalah rangkaian kata-kata bijak, yang memberi harapan bagi keluarga besar, bangsa Indonesia.

 

 

Namun dalam perjalanannya, bangsa ini tidak pernah luput dari aneka persoalan yang datang silih berganti mengancam persatuan itu. Sikap kebangsaan yang sempit karena nuansa primordial atau sektarian, jelas  menjadi ancaman serius. Hal ini menjadi bahaya laten, terutama karena kondisi seperti ini setiap saat bisa ditunggangi oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan sesaat, mereka-mereka yang memiliki mental sesat bahkan cenderung bejat. Kepentingan sesaat seperti inilah yang  seringkali membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Ambisi merebut posisi sebagai tokoh yang berbau kesukuan atau keagamaan, juga berpotensi besar menggoyang persatuan. Posisi rakyat menjadi sangat rentan, karena menjadi sumber maupun korban dari konflik yang diciptakan oleh orang-orang munafik ambisius itu.

 

 

 

Orang-orang ini telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Yang tersisa hanyalah nafsu besar untuk berkuasa dan ber-uang. Untuk mendapatkan kekuasaan dan uang ini, mereka tidak pernah merasa risih membawa-bawa ayat suci guna melegitimasi  permainan mereka. Kondisi rakyat yang miskin dari segi ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, serta jauh dari informasi yang sehat, dimanfaatkan oknum-oknum yang dikenal sebagai kelompok radikal tersebut untuk menciptakan instabilitas. Kondisi keamanan yang serba tidak menentu, yang membuat rakyat dicekam rasa takut itu, mereka kelola sedemikian rupa untuk meningkatkan daya tawar kelompok mereka. Jadi instabilitas adalah impian mereka, sampai suatu saat berharap dapat duduk di pucuk kekuasaan yang berlimpah aneka kenikmatan. Bahasa yang mereka pakai selalu saja bahasa surga yang diklaim sebagai suara kebenaran, yang tidak bisa disanggah. Barang siapa yang mencoba berseberangan atau hanya sekadar melontarkan kritik, akan terkena amuk mereka yang menakutkan, dan menggetarkan nyali siapa saja.

 

 

 

Atas nama lautan massa, hukum yang sah seringkali kehilangan daya saat berhadapan dengan mereka. Merusak tempat-tempat yang mereka nilai tidak direstui oleh Tuhan,  atau bahkan merenggut nyawa  orang yang berseberangan dengan mereka, dianggap sah-sah saja. Bahkan ada yang mengatakan, tindakan itu merupakan perintah Ilahi dengan upah ‘surgawi yang abadi’. Tetapi tidak jelas sejak kapan Sang Ilahi doyan mencabut nyawa manusia tanpa alasan kebenaran. Dan yang pasti, menyaksikan tingkah dan lakon mereka – orang-orang radikal itu – kita pasti bingung memahami kebenaran agama yang mereka anut, apalagi surga yang mereka maksudkan.

 

 

 

Jangan pernah mengimpikan dialog dengan mereka, apalagi duduk semeja menikmati nasi tumpeng khas Indonesia, karena yang ada hanyalah amarah yang siap memberangus apa saja yang berbeda dengan keyakinannya. Bagi mereka, dunia adalah milik kelompok mereka, dan hak untuk hidup adalah monopoli mereka. Kaum radikalis selalu ada di mana saja di muka bumi ini, dan tidak pernah habis sekalipun barisan manusia yang haus kasih tidak terbilang banyaknya. Kaum radikalis akan tetap eksis selama dunia diwarnai ketidakadilan dan sikap mau menang sendiri. Kaum radikalis merasa diperlakukan tidak adil. Dengan alasan itulah mereka tampil beringas, berlaku tidak adil dan tidak menyisakan ruang diskusi. Aneh tetapi nyata, sebab mereka yang merasa diperlakukan tidak adil justru bertindak sangat tidak adil. Jika merasa  ketidakadilan itu menyakitkan, mestinya mereka melawannya dengan menciptakan keadilan. Tetapi ini tidak. Itulah radikalis. Tanpa mereka sadari, sikap mereka yang radikal telah menjadi ‘agama’ baru baginya. Kehadiran kelompok ini menjadi persoalan tersendiri sepanjang masa di berbagai belahan bumi, dan berbagai agama.

 

 

 

Sekarang Anda semakin mengenal Bung Radikalis. Nah, bagaimana bergaul dengannya? Pertama, perlu kita ingat, jangan menghabiskan waktu berdebat dengan mereka. Kedua, jangan berharap Anda akan dimengerti. Ketiga, ingatlah bahwa bagi mereka, Anda hanyalah musuh yang harus disingkirkan. Jadi bagaimana? Bingkisan ini mungkin bisa menolong kita. Pertama, tampillah prima dalam logika dan moral yang teruji dan terpuji. Kemudian, ciptakan dan peliharalah harmonisasi dalam kepelbagaian sehingga timbul ketenangan, keadilan dan kesejahteraan yang merata bagi semua komponen masyarakat. Saling menghargai tanpa menciptakan kelas-kelas sosial. Dan jangan lupa semuanya itu bukan hanya untuk diseminarkan, melainkan diterapkan, dipraktekkan dalam kehidupan nyata.  Dengan langkah-langkah ini,  Anda mulai mengurangi esksistensi mereka. Ketika persamaan hak dan supremasi hukum ditegakkan, maka dengan sendirinya, pelan tapi pasti,  pengaruh mereka, komunitas yang radikal itu, akan habis.

 

 

 

Yang sangat menarik adalah, Alkitab mengajarkan bahwa sebagai manusia, orang percaya dipanggil untuk mengaktualisasi mandat budaya, yakni mengelola kehidupan diri dan alam (Kejadian 1:26-27, 2:15), bukan menjadi radikalis. Nah, Anda ingin mengurangi atau mematikan pengaruh kaum radikalis, bahkan menarik mereka ke kancah kehidupan nan damai? Sangat mudah! Jadilah orang Kristen sejati. Namun justru inilah yang susah. Pikirkan dan lakukanlah pekerjaan ‘yang mudah tetapi susah dan yang susah tetapi mudah’ ini. Dengan pertolongan Kristus yang aktual itu maka Roh Kudus akan menolong kita tampil  ‘radikal’ sebagai model kehidupan yang benar menurut kebenaran sejati, bukan menurut diri sendiri, atau denominasi seperti yang dilakonkan Bung Radikalis itu.***

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top